Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juni 2023

Resign dari BANK karena Ingin Ampunan Allah


  

 



Tahun 2010 ketika aku bertemu Mas Toro di salah satu bank BUMN terbesar, dia begitu bersemangat.

“Tenang Mas, besok aku mau bikin Dokter Bakso, saya jamin rame... saya pun pengen jadi pengusaha!” katanya.

Aku hanya tersenyum saja.

Waktu berlalu, 4 tahun tak bertemu tiba-tiba aku ketemu Mas Toro di sebuah resepsi pernikahan, wajahnya terlihat begitu cerah. Ketika kutodong mana Dokter Baksonya? Beliau menjawab, “Allah menunjukkan jalan lain yang lebih luar biasa Mas, besok aku ceritakan.”

Baru dua minggu lalu aku ke rumahnya. Saat itu aku begitu tercenung mendengar kisahnya.

“Sudah tiga tahun aku resign dari bank itu Mas, posisi sudah mapan dengan gaji 10 juta perbulan, setahun aku bisa menerima bersih 200 juta termasuk bonus-bonusnya, namun dalam hati terdalam aku gelisah luar biasa, hutangku menumpuk 450 juta, kartu kreditku platinum hutangnya puluhan juta. Dan aku setiap hari berkeliling menawarkan hutang-hutang baru kepada nasabahku. Ada yang mengganjal dalam hatiku ketika membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang riba, ditambah dengan nasabah-nasabahku yang kelimpungan ketika bisnisnya merugi dan tidak bisa membayar cicilan, pihak bank tidak mau tahu dan tetap ditagih untuk membayar.”

Aku terdiam, karena akupun pernah mengalaminya. Ketika jatuh tempo membayar terlewati satu hari saja mereka sudah menelpon dan SMS tiada henti. Risihnya setengah mati. Mereka tidak peduli kalau uangnya masih diputar untuk membeli bahan baku dan operasional sana sini.

Lanjutnya, “Bismillah... aku niatkan pada Allah membersihkan diri Mas, aku resign dari bank di tengah pertentangan kawan dan keluarga, uang pensiunku hangus, aku hanya punya keyakinan... Allah tidak akan ingkar janji.”

Nekat bener orang ini.

“Aku bilang pada istriku Mas, rumah kami akan kujual. Kita ngontrak dulu, kita mundur selangkah untuk melompat maju. Uangnya aku gunakan untuk beli tanah, aku bangun rumah petak dan mulai aku jual. Alhamdulillah langsung laku. Hasil penjualan aku belikan tanah lagi, bangun jual lagi. Begitu seterusnya. Dalam 2 tahun hutangku lunas Mas.. Aku sudah bisa membeli rumah ini cash. Semua hutang kartu kreditku juga lunas.”

Wow... terus?

“Ketika kita yakin seyakin yakinnya dengan kekuasan Allah, kita niat membersihkan diri, jalan akan terbuka luas Mas. Tahun lalu aku membeli tanah di dekat Jogja Expo Center, kudiamkan saja. Aku hanya di rumah, anter anak sekolah. Tiap adzan aku langsung ke mesjid shalat berjamaah. Pokoknya tidak boleh telat... 10 bulan kemudian tanah itu ditawar orang, aku lepas untungnya 900 juta. Sekarang coba Mas, pekerjaan apa yang bisa memberiku gaji sebesar itu dalam 10 bulan? Aku hanya punya keyakinan ingin bebas riba, ikut aturan Allah. Dan sungguh Allah tunjukan jalannya, Allah tidak ingkar janji Mas.”

Obrolan siang itu sudah memecah konsentrasiku, ketika Mas Toro mengantarku ke depan rumahnya, mobil baru sudah ada di sana.

“Empat tahun lalu aku hanya karyawan bank dengan motor, ketika aku manut pada aturan Allah, ternyata benar-benar Allah tunjukkan jalannya. Rumah ini aku beli 500 juta, renovasi sedikit habis 100 juta, sekarang sudah diatas 1 milyar nilainya...”

Lain hari seorang ustadz mengirim capture dari seorang pengusaha di Bogor yang juga melepas aset-asetnya. Dijual demi melunasi hutang, tak peduli lah dengan gaya hidup dan pamer kemewahan kalau itu hanya hasil hutang. Semu dan palsu belaka. Benar kalau ada yang pernah mengingatkan, bisnis itu bukan hanya soal untung rugi, tapi surga atau neraka. Maha Benar Allah dengan segala firmannya. (Sumber: Twitter @Saptuari)


Kamis, 15 Juni 2023

Cara Menjadi Ramah?

Ramah




Dalam keadaan apapun, tetaplah bersikap ramah. Berusahalah menjadikan ramah sebagai karakter diri. Sikap ramah menjadikan kita selalu merasa dekat dan nyaman yaitu dengan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Menunjukkan keramahan yang tulus tidak berarti menyungging senyum ketika Anda sedang tidak ingin tersenyum atau berpura-pura riang padahal hati Anda sedang kusut. Yang tepat adalah memperlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan oleh orang lain. Terkadang dalam hidup ini yang mungkin harus kita ingat adalah kita mengajarkan orang lain bagaimana dia harus memperlakukan kita. Memang benar cara terbaik untuk mengingatkan orang lain bahwa kita ingin diperlakukan ramah adalah dengan terlebih dahulu memperlakukan orang lain dengan ramah.

Untuk bersikap ramah mulailah dari hal-hal yang terkecil menjadi pendengar yang baik, penuh hormat dan perhatian ke setiap orang. Bersikap ramah berarti meminta izin bila mana perlu, mengatakan “maaf”, “terimakasih”, “tolong” bila Anda telah berinteraksi dengan sesama.

Betapa bahagia kehidupan seseorang jika di sekitarnya banyak orang-orang yang berkepribadian ramah secara tulus. Orang yang tulus akan melakukan kebaikan tanpa mengharapkan balasan. Ia akan ikhlas memberikan pertolongan kepada siapapun. Ikhlas disini dalam artian tidak merasa berjasa, keberatan dan bahkan mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang sudah ditolongnya.

Seringkali sikap senyum ceria juga mampu menghibur suasana hati yang buruk tanpa harus banyak kata-kata. Orang yang selalu ceria akan menyenangkan setiap orang yang berada di dekatnya. Dan orang-orang seperti ini disukai banyak orang. Banyak cara untuk membuat hati senang dan tubuh semangat. Memompa suasana hati yang baik setiap hari bisa membuat Anda lebih sukses dan bahagia. Jangan sampai pengaruh negatif dari sekitar bisa menyurutkan semangat Anda. 

Minggu, 11 Juni 2023

Abu Muslim Al-Turki



Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama. Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah. Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya, “Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya, “Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya, “Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?”

Abu Muslim menjawab, “Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok saya mati syahid.”

Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata, “Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”

Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata, “Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia  setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskipun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki. “Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)

 

Selasa, 06 Juni 2023

Cepat Pulih Pasca Operasi (Asep Mulyana - Pengusaha)

 Cepat Pulih Pasca Operasi (Asep Mulyana - Pengusaha)




Saya merasakan adanya percepatan pemulihan kesehatan saya pascaoperasi otak/kepala karena kecelakaan yang menimpa saya sekeluarga di Ciamis, pada hari Natal 25 Desember 2010 lalu. Seminggu setelah operasi otak/kepala itu, saya bahkan masih belum mampu untuk duduk tegak karena kepala rasanya pusing sekali dan badan terasa sangat sakit. Bicara pun masih belum jelas. 

Selama 11 hari di RS Hasan Sadikin (RSHS) (25 Desember 2010-4 Januari 2011) dan 7 hari (4 Januari 2011-11 Januari 2011) di rumah kakak sepupu saya di Bandung (sepulang dari RSHS), saya tidak bisa berjalan dengan baik karena kepala terasa sangat pusing dan harus berpegangan untuk dapat berjalan.

Kini, bahkan saya sudah bisa berlari pagi (aktivitas ini saya hentikan karena kata tetangga saya yang dokter, saya disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan guncangan di kepala/otak seperti lari pagi/jogging). Saya juga telah menikmati penglihatan yang lebih baik karena mata kanan saya yang sebulan lalu tidak bisa dibuka (karena rusak saraf-saraf penggeraknya dan lemah sekali retinanya) sekarang sudah bisa dibuka meski penglihatan belum normal sepenuhnya (penglihatan masih membayang dua kalau melihat ke arah bawah). 

Saya merasakan terjadinya percepatan pemulihan kesehatan saya dari hari ke hari. Hari Minggu, pada tanggal 9 Februari, saya bahkan dapat bepergian dari Banjar ke Jogja dengan naik bis umum ditemani istri saya untuk mengurus kuliah yang sedang saya tekuni. Perjalanan itu berjalan sangat lancar. Pada Minggu, 20 Februari 2011, saya mengikuti gerak jalan santai dalam rangka HUT Banjar ke-8 yang berjarak beberapa kilometer.

Seorang dokter kenalan saya di Banjar menyatakan kekagetannya melihat percepatan pemulihan saya. Dia mengira saya sudah lama dioperasi–berbulan-bulan yang lalu–padahal rentang waktu antara saya dioperasi dan waktu ketika bertemu dokter tersebut hanya 1,5 bulan. “Wah, baru 1,5 bulan lalu? Cepat juga pemulihannya ya!” ujar dokter itu. 

Apa yang membuat percepatan pemulihan saya tersebut? Saya melakukan beberapa treatment, yaitu:

1.  Menetapkan keyakinan di dalam pikiran dan hati saya bahwa saya akan sehat, sembuh total-permanen, dengan kondisi yang jauh lebih baik dan lebih sempurna daripada sebelum kecelakaan terjadi, dengan mudah, murah, dan cepat. Saya membayangkan Gusti Allah—melalui kecelakaan maut dan operasi bedah di kepala/otak itu—sedang meng-upgrade diri saya, sehingga apapun yang terjadisaat ini saya mengimani bahwa Tuhan sesungguhnya sedang “memperbaiki” diri saya.

2.  Berikhtiar dengan berbagai cara, mulai dari upaya medis maupun nonmedis. Untuk upaya medis, saya tetap melakukan kontrol ke dokter bedah saraf RSHS Bandung dan lalu ke dokter mata di RS mata Cicendo Bandung. Saya lakukan itu meskipun jarak Banjar-Bandung cukup jauh, kira-kira ditempuh selama 5 jam dengan naik bis umum. Saya menuruti semua nasihat dokter, baik dokter bedah saraf maupun dokter mata, termasuk mengonsumsi obat yang diresepkan. Upaya nonmedis saya coba dengan pijat oleh ahli pijat saraf di kampung istri saya di Ciamis. Saya saat ini menjalani terapi makanan yang disarankan ahli pijat saraf yang menangani saya, diantaranya meminum jus wortel, jus apel, jus melon, jus pepaya mentah, air godokan 5 macam rempah-rempah/herbal setiap hari, serta menetesi mata kanan saya yang belum normal dengan air biji kelor setiap malam sebelum tidur. Saya juga mengonsumsi bekatul beras merah dan beras merah yang mengandung vitamin B15 setiap hari, seperti dianjurkan dokter mata di RS Mata Cicendo Bandung.

3.  Menenangkan hati dengan beribadah kepada Allah SWT: mendirikan shalat diantaranya merutinkan shalat Dhuha, berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berpuasa Nabi Daud AS.

Sejak sebulan lalu setibanya saya di rumah saya di Kota Banjar pada 11 Januari 2011, saya mulai tepat waktu menunaikan shalat fardhu 5 waktu dan tertib menunaikan shalat sunnah qobliyah dan sunnah ba’diyah. Dan sejak seminggu lalu saya mendirikan shalat fardhu secara berjamaah di masjid dekat rumah (untuk shalat subuh, magrib, dan isya). Saya juga selalu bangun di sepertiga malam terakhir, lalu menunaikan shalat sunnah Tahajud. Pada pagi hari saya mendirikan shalat sunnah Dhuha.

“Demikianlah, shalat sunnah Dhuha membuat hati dan jiwa saya tenang. Ketenangan hati dan jiwa saya itulah yang, saya yakini, menjadi faktor kunci percepatan pemulihan kesehatan saya.”

Bukan itu saja! Kini saya merasa diri saya mengalami upgrade. Saya merasa Allah telah meningkatkan derajat kemanusiaan saya. Ya, ini bukan Asep yang dulu. Saya merasa menjadi Manusia Baru yang lebih baik dan lebih sempurna daripada Asep yang dulu. Sungguh, Allah telah membedah dan membersihkan otak/kepala saya (melalui tangan-tangan dokter), menjadikan saya sebagai Manusia Baru.

Saya merasa seperti bayi yang baru keluar dari kandungan ibunya. Saya seperti dilahirkan kembali dengan pandangan, pendengaran, pikiran, perasaan, dan kesadaran yang sama sekali baru dan terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Ibadah saya kepada Allah makin meningkat, kian ketat dan disiplin. Hati saya pun makin lembut. Saat ini kalau saya mendengar ada orang yang sakit atau sedang dalam keadaan susah, saya ingin segera menjenguk dan membantu kesulitannya. Saya pun makin optimis, positif, ikhlas, sabar, dan tawakal menjalani hidup ini.

Alhamdulillah, segala puji dan puja hanya untuk Engkau, ya Allah.

Senin, 05 Juni 2023

Kisah Hidup Hafshah bintu Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuma.



Hafshah bintu Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuma.(607-antara 648 dan 665 M)

Rasul menikah dengan Hafshah sesudah janda dari Khumais bin Hudzaifah yang gugur sebagai syahid dalam perang badar. Dia adalah seorang wanita mulia. Kemuliaan yang dicurahkan dengan puasa dan shalat malamnya. Kemuliaan itulah yang membuat dirinya tetap berdampingan dengan orang yang paling mulia, Rasulullah saw. Namanya Hafshah binti Umar bin Al Khatthab bin Nufail bin Abdil al Qurasyiyyah Al Adawiyyah Radliallahu Anhu. Ya, dia memang putri dari khalifah Umar bin Khattab. Ibunya bernama Zainab binti Madhun. 

Adapun Hafshah dilahirkan lima tahun sebelum masa Rasulullah saw diangkat sebagai nabi. Hafshah merangkai kisah hidup dalam ikatan pernikahan dengan Khumais bin Hudzafah As Sahmi. Suaminya tersebut dikenal sebagai seorang sahabat mulia yang turut terjun dalam perang Badar. Akan tetapi kebahagiaan itu harus berakhir. Khumais menderita luka parah dalam perang Uhud dan meninggal dunia di Madinah. 

Hari-hari terus berganti dan mesti dilalui seorang diri, tanpa sang suami di sisi. Kesedihan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Khalifah Umar terus memperhatikan putrinya yang sedang bersedih dan hatinya pun ikut pilu. Dia ingin mengusir sedih di hati putrinya tersebut dengan mencarikan pendamping hidup. 

Lantas terlintas dipikiran yakni sahabatnya yang mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Setelah masa iddah Hafshah usai, Umar pun bergegas menemui Abu Bakar. Lantas diceritakanlah peristiwa yang menimpa putrinya, dan kemudian ditawarkan kepada Abu Bakar untuk menikahi putri tercintanya. Akan tetapi, Abu Bakar tidak memberikan jawaban. Umar kecewa dan langsung meninggalkan Abu Bakar. Dari situ Umar menemui Utsman bin Affan yang juga baru kehilangan kekasihnya, Ummu Kultsum, putri Rasulullah. 

Sama halnya kepada Abu Bakar, dia menceritakan tentang putrinya dan menawarkan Utsman untuk menikah dengan putrinya. Tapi Utsman terdiam, dan memberikan jawaban, "Kurasa, aku tidak ingin menikah dahulu hari-hari ini." Umar kembali kecewa. Dengan penuh gundah, Umar menemui Rasulullah. Diungkapkan segala yang dialaminya. Dan tersenyum Rasulullah yang lantas berkata, "Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman, dan Utsman akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah." Tak disangka, Rasulullah pun meminang Hafshah. 

Tak terkira betapa gembiranya Umar. Seusai menikahkan Rasulullah dengan putrinya, Umar segera mendatangi Abu Bakar untuk mengabarkan peristiwa besar yang dia alami sebagai suatu kemuliaan dari Allah diiringi dengan permintaaan maaf. Abu Bakar tersenyum mendengar penuturan Umar. "Barangkali waktu itu engkau sangat marah padaku. Sesungguhnya aku tidak memberikan jawaban karena aku telah mendengar Rasulullah saw menyebut-nyebut Hafshah. Akan tetapi, aku tidak ingin menyebarkan rahasia Beliau. Seandainya Rasulullah tidak menikahinya, pasti aku akan menikah dengannya," demikian ungkap Abu Bakar. 

Pernikahan tersebut berlangsung pada tahun ketiga Hijriyah, dalam usia Hafshah yang ke-20 tahun. Sejak saat itu, Hafshah hadir dalam rumah tangga Rasulullah saw, setelah Aisyah ra. Di tahun yang sama Rasulullah menikahkan Utsman bin Affan dengan putri Beliau, Ruqayyah. 

Dalam perjalanan menapaki rumah tangga bersama Rasulullah, tercatat kisah yang mengguratkan sejarah besar. Dari peristiwa itulah turun ayat dalam Surat At-Tahrim sebagai teguran Allah swt. Berawal dari singgahnya Rasulullah di rumah Zainab bintu Jahsy ra, beliau tertahan beberapa lama karena menikmati madu yang dihidangkan Zainab. Dan ketika mendengar hal itu, meluaplah kecemburuan Aisyah. Dia mengatakan hal ini kepada Hafshah. 

Kemudian Aisyah dan Hafshah bersepakat, apabila beliau menemui salah seorang dari mereka berdua, hendaknya dikatakan bahwa Beliau telah makan buah maghafir. Inilah yang dilakukan oleh Aisyah dan Hafshah, hingga Rasulullah mengatakan, "Aku tidak makan buah maghafir. Aku hanya minum madu di tempat Zainab, dan aku tidak akan mengulanginya lagi." 

Tak hanya itu yang terjadi. Peristiwa lain mengiringi ketika Rasulullah mendatangi budak Beliau, Mariyah Al Qibthiyyah, di rumah Hafshah. Kecemburuan Hafshah pun membuncah, "Ya Rasulullah, engkau lakukan hal itu di rumahku, di atas tempat tidurku dan pada hari giliranku." Rasulullah segera meredakan kemarahan Hafshah. Beliau menyatakan bahwa sejak saat itu Mariyah haram bagi Beliau. Tak lupa beliau berpesan agar Hafshah tidak menceritakan apa yang terjadi pada siapa pun. Namun, Hafshah tidak memegangi pesan Rasulullah. Dia mengungkap peristiwa itu di hadapan Aisyah. Siapakah yang dapat bersembunyi dari Allah? 

Tentang dua peristiwa ini, Allah lantas menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya agar tidak mengharamkan segala yang Allah halalkan, semata-mata untuk mencari keridaan istri-istri Beliau. Allah kabarkan kepada Beliau tentang apa yang diperbuat Aisyah dan Hafshah, disertai teguran kepada mereka berdua untuk bertaubat kepada Allah. 

Begitulah perjalanan rumah tangga dengan segenap pasang surutnya. Suatu ketika, Rasulullah hendak menceraikannya. Namun malaikat Jibril menahan beliau, "Kembalilah kepada Hafshah. Sesungguhnya dia wanita yang banyak puasa dan shalat malam, dan dia adalah istrimu kelak di dalam surga." Hafshah binti Umar ra, wanita mulia yang meraih kemuliaan dengan puasa dan shalat malamnya. Hafshah menikmati bimbingan dalam liputan cahaya kenabian. 

Dia meriwayatkan banyak ilmu dari sisi suaminya, Rasulullah, juga dari ayahnya, Umar ibn Khaththab. Sepeninggal Rasulullah, dia menyebarkan ilmu, hingga tercatatlah deretan nama sahabat yang meriwayatkan dari Hafshah binti Umar ra, di antaranya Abdullah bin Umar, saudara laki-lakinya. Pada tahun ke-45 setelah hijrah, pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, Hafshah binti Umar kembali kepada Rabb-nya. 

Kala itu, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Hurairah terlihat turut mengusung jenazah Hafshah dari kediamannya hingga ke kuburnya. Wanita mulia itu telah tiada, kehidupannya meninggalkan keharuman ilmu dan guratan berharga bagi umat. Pernikahan tersebut tidak mendapatkan keturunan dan pernikahan tersebut untuk menghormati ayah Hafshah yaitu Umar bin Khaththab ra.


Senin, 29 Mei 2023

Mualaf Terjerat Rentenir Ratusan Juta



Ia kini tinggal di sebuah perumahan Griya Timur daerah Bekasi. Ia menempati sebuah rumah yang notabenenya adalah milik sendiri, bagi sebagian orang, kehidupan seperti ini dibilang sudah mapan dan nyaman. Namun, tidak begitu halnya dengan Bu Diana, seorang wanita yang harus selalu merasakan ketakutan dan ketidaktenangan, karena setiap hari dia harus berhadapan dengan banyak rentenir. Bu Diana menceritakan ia kini punya hutang kepada 21 rentenir. Dan ia harus menghadapinya seorang diri.

Kisah Bu Diana terjerat rentenir berawal ketika beliau berpisah (cerai) dengan suaminya beberapa tahun silam. Sejak saat itu pula, mau tidak mau, ia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup. Akhirnya ia memutuskan untuk meminjam uang kepada salah seorang lintah darat yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahnya. Ia berharap dengan uang pinjaman yang sedikit itu, yaitu sekitar 6 juta, ia bisa memulai usaha kecil-kecilan untuk menghidupi diri dan anaknya.

Usaha warung mulai berjalan, namun setiap bulan, Bu Diana harus membayar bunga pinjaman sebesar 1,2 juta. Padahal keuntungan warung tidak seberapa. Belum lagi, untuk makan dan keperluan lainnya.

Sekitar 3 tahun, ia rutin membayar bunga, dan belum lunas juga. Total yang ia sudah keluarkan 43 juta. Padahal hutang pokoknya hanya 6 juta rupiah. Pada suatu ketika ia terlambat membayar bunga pinjaman, enam bulan ia menunggak, ia selalu ditagih, didesak bahkan tak jarang kata-kata kasar dan ancaman harus ia terima.

Dalam keadaan seperti itu, wanita ini berusaha untuk tetap menguatkan diri, namun sekuat-kuatnya wanita, pasti ada titik dimana ia merasakan jatuh mental juga. Ia ke sana kemari mencari pinjaman. Akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa memberikannya pinjaman 10 juta. Tapi syaratnya tiap bulan ia harus membayar bunga sebesar 2 juta rupiah. Tidak berpikir banyak dan panjang lagi, karena sudah tidak enak ditagih terus, akhirnya beliau menyanggupi permintaan salah seorang temannya yang sama-sama mengajar di sebuah SMA, kebetulan Bu Diana juga bekerja sebagai guru bantu disitu.

Uang 10 juta yang diterima, sebagian besar digunakan untuk membayar hutang kepada pihak peminjam pertama tadi. Sisanya ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan.

Ketenangan batin yang ia idamkan setelah melunasi tunggakan bunga, tidak berjalan lama, kini ia punya tanggungan untuk membayar hutang pokok beserta bunganya kepada 2 orang. Padahal penghasilannya bahkan untuk mencukupi kebutuhan tiap harinya saja susah.

Ia berpikir keras, agar ia selalu bisa membayar rutin hutangnya. Tiap bulan tak kurang dari 3,2 juta ia harus keluarkan dari dompetnya untuk membayar hutang tersebut. Akhirnya lewat seorang tetangganya ia dikenalkan kepada rentenir yang bekerja di sebuah koperasi palsu.

Gali lubang tutup lubang, begitulah pekerjaan rutin Bu Diana, untuk menenangkan batinnya. Menutup satu tempat lewat tempat yang lain. Awalnya ia terjerat 1 rentenir dan pada saat cerita ini ditulis ia sudah terjerat sekitar 21 rentenir. Hutang di tiap rentenir jutaan rupiah. Bukannya tenang bahkan ia hampir gila karenanya.

“Awalnya saya berharap bisa tenang, tapi yang terjadi malah sebaliknya Mas. Saya bahkan hampir gila. Tidur, makan saja tidak nyaman karena kepikiran dengan hutang terus,” ungkap Bu Diana.

Sudah tidak asing lagi bahwa para rentenir yang beroperasi di balik wadah koperasi simpan-pinjam abal-abal ini memiliki trik-trik khusus untuk menjerat para korban. Terutama yang menjadi korban adalah ibu-ibu rumah tangga. Hampir semuanya meminjam tanpa sepengetahuan suami. Selain itu mereka memiliki suatu sistem permainan angka, dimana hutang yang awalnya kecil bisa membengkak luar biasa. Bahkan mereka sering mengancam bila setorannya macet.

Dalam keadaan kebingungan tanpa arah dan sandaran seperti ini, ia selalu bermunajat kepada Allah. Ia berdo’a agar Allah memberikan jalan keluar baginya.

Pernah juga ia ditawari, keluarganya siap melunasi semua hutangnya. Namun dengan syarat ia harus kembali ke agama awalnya, yaitu Nasrani. Namun Bu Diana menolak. Ia tidak mau kembali kepada agamanya yang dulu. Keyakinannya terhadap islam sudah final. Meski dari semenjak menjadi mualaf tahun 1996, ia belum mendapatkan tarbiyah intens dan terkontrol. Bahkan untuk shalat saja, ia belajar dari anaknya.

Ia tidak pernah lelah untuk terus berdoa, dan di saat kebimbangan seperti ini, Allah menunjukkan hidayah, Allah tuntun wanita ini datang ke kantor Gerakan Anti Rentenir (GAR).

Akhirnya, wanita yang berusia 46 tahun ini sudah taubat dari muamalah ribawi. Dan beliau tidak mau lagi untuk membayar bunga-bunga yang haram itu dari semua pinjamannya. Didampingi GAR, ia kini sedang dalam penyelesaian pelunasan hutang pokoknya saja. Bahkan di depan rumahnya kini dipasang banner GAR, bertuliskan “Rumah ini dalam pengawasan GAR.” Dimaksudkan agar tidak lagi para rentenir itu mengganggu.

Bu Diana, sekarang bisa menjadi sedikit tenang, karena tidak ada lagi kata-kata kasar yang ia harus dengar, tidak ada lagi ancaman. Dan hutang yang wajib ia bayarkan tak sebesar dulu lagi. Yang lebih ia syukuri adalah ia merasakan indahnya persaudaraan sesama muslim. Orang yang tidak kenal sekalipun, karena aqidahnya sama, mereka bersedia membantu. Tanpa pamrih dan imbalan jasa sekalipun. Hanya mengharap pahala dan balasan dari Allah subhanahu wa ta’ala. (Sumber: http://panjimas.com)


Minggu, 28 Mei 2023

Contoh Pidato Halal Bi Halal

Halal bi Halal




Assalaamu’alaikum wr. wb.

Teman-teman yang berbahagia, marilah yang pertama kali kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikanNya kepada kita semua. Yang kedua, shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabiyyullah Muhammad SAW. Tak lupa kita do’akan saudara muslim kita semoga selalu diberi keteguhan dalam berislam. Aamiin.

Pada hari ini hampir semua orang berbahagia. Kenikmatan yang luar biasa dirasakan ini adalah berkat kemenangan karena kita telah menjalani ujian kesabaran di bulan Ramadhan selama sebulan. Namun, ujian di suasana kemenangan biasanya lebih berat, sebab kita bahkan sampai tak merasa bahwa saat ini kita juga semakin berat ujiannya. Ujian kemenangan jauh lebih berat dari ujian kesabaran menahan lapar dan dahaga. Jangan sampai kita terlena di hari kemenangan ini. Bulan syawal adalah bulan peningkatan. Kita harus meningkatkan amal-amal yang telah kita jalankan selama bulan Ramadhan kemarin. Shalat malam kita, tilawah kita, shadaqah kita jangan kita tinggalkan. Justru harus semakin ditingkatkan. 

Teman-teman yang dirahmati Allah SWT. 

Sebagaimana kebiasaan bahwa jika Hari Raya Idul Fitri telah tiba, maka dilakukanlah Halal bi Halal sebagai sebuah kebiasaan baik bagi masyarakat sebagai sarana untuk menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan kepada sesama. Oleh karena itulah, agar terhapus dosa-dosa kita, maka kita mengadakan halal bi halal untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. 

Demikianlah kata sambutan yang bisa saya berikan pada kesempatan hari yang berbahagia ini, semoga dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT dan kita kelak dikumpulkan di surgaNya. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Wabillaahit taufiq walhidayah. 

Wassalaamu’alaikum wr. wb.


Sabtu, 20 Mei 2023

Kisah Mati Suri.

Kisah Mati Suri.



Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia. Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia. 

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. 

“Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. “Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, “ ungkapnya. 

“Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur.” “Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. “Terasa malaikat mencabut nyawa dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. “Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. 

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. “Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina menceritakan pengalaman matinya. 

Lalu malaikat itu bertanya: ”siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu. “ Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. “Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya  berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut. 

Aslina melanjutkan. “Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan “Ayah”. “Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: “Wahai ayah, janji saya telah sampai. “Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. “Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” Ruh Aslina pun menjawab. “Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. “Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, di sebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. “Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab. “Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. “Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. 

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. 

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah,  alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di  lehernya.  Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar ka’bah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. 

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. “Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. “Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak “husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil.

Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. “Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. “Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. “Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. 


Jumat, 12 Mei 2023

Kombinasi Ampuh Sedekah, Tahajud, dan Dhuha



Setyawan adalah seorang kontraktor yang sukses, pemilik usaha cuci mobil, dan seorang pewaralaba toko retail terkenal.

Mulai dari tahun 2008 hingga 2011 perkembangan usahanya sangatlah pesat. Bahkan terhitung luar biasa. Hingga pada akhirnya timbul keinginan untuk ekspansi ke bisnis baru yang lebih besar dari yang ada saat ini dan memutuskan untuk bekerjasama dengan partner barunya.

Namun dalam perjalanan bisnis barunya itu, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Mitra bisnisnya mengkhianati dan menipu Setyawan. Sehingga membuatnya bangkrut, bahkan usaha-usahanya yang lain ikut hancur-hancuran. Asset yang dia bangun bertahun-tahun, habis, bahkan meninggalkan hutang hingga 4 milyar. Setyawan harus menanggung beban hutang di bank yang digunakan untuk menambah modal usaha di awal-awal merintis dulu.

Nah, di sinilah awal dari kisah keajaiban yang dia alami. Dalam kondisi bangkrut dan habis-habisan Setyawan tetap berpikir positif, tidak menyendiri dan semangat untuk bangkit sangat besar.

Setyawan lalu mencari referensi cara mengatasi kebangkrutannya dalam kondisi habis-habisan saat itu. Setyawan mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mohon maaf kepada Allah dan orang tua dengan rendah hati atas semua kesalahan, kelalaian, dan kesombongannya saat berada di atas. Bahkan bersimpuh di kaki orang tua pada saat minta maaf pun dilakukannya.
  2. Silaturahmi ke para sahabat, khususnya yang pernah disakitinya. Minta maaf, minta motivasi dan minta saran maupun solusi agar bisa keluar dari kebangkrutan. Temannya merekomendasikan untuk merutinkan shalat Dhuha, sedekah, dan Tahajud.
  3. Setyawan pun kemudian melakukan aksi yang diluar batas yaitu: Menyedekahkan semua asset yang ada, kecuali yang untuk bertahan hidup dan untuk keperluan sehari-hari menafkahi anak-istri.
  4. Merutinkan shalat Dhuha 4 rakaat, 2 rakaat tiap kali salam.
  5. Merutinkan shalat Tahajud.

Dengan sabar dan penuh semangat Setyawan melakukan kelima langkah tadi, dan perlahan Allah mulai mengabulkan doa-doanya. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, Setyawan sudah bisa menyelesaikan beban hutangnya. Mulai tahun ketiga Setyawan sudah mulai surplus dan tahun berikutnya surplus hingga ratusan juta. Dengan keuntungan yang begitu banyak itu setyawan menjadi sangat kaya, sehingga tanpa menunggu lama ia segera membawa istri, anak dan seluruh keluarganya ke Tanah Suci untuk umroh dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. 

Belajar dari pengalaman tersebut, mulai kini Setyawan selalu berusaha untuk merutinkan sedekah, shalat Dhuha, dan shalat Tahajud. Dan tentu saja tidak lupa untuk selalu berdo’a. 

Kamis, 11 Mei 2023

Sakit Mata Sembuh Berkat Tahajud (Shalihin - Karyawan)



Saya punya beberapa pengalaman dalam melakukan shalat malam atau Tahajud untuk mengatasi beberapa masalah yang pernah saya alami. Antara lain pengalaman saya ketika anak pertama saya yang masih berumur 6 bulan mengalami sakit mata. Sudah lebih 3 bulan mata kanan anak saya selalu berair dan airnya meleleh di pipi hingga menimbulkan iritasi. 

Saya membawa anak saya ke dokter Gantira, seorang dokter ahli mata di Bandung. Ia menjelaskan bahwa saluran pembuangan air mata anak saya dari mata ke tenggorokan yang hanya sebesar rambut mengalami penyumbatan. Saluran itu harus dibuka dengan melakukan operasi. 

Namun karena anak saya masih berumur 6 bulan ia menyarankan saya untuk konsultasi dahulu pada ahli anastesi, apakah anak saya bisa dianastesi untuk melakukan operasi mata. Saya dan isteri saya sangat terpukul mendengar keterangan dokter tersebut. Saya sedih dan cemas, mengapa anak saya yang masih kecil itu harus menjalani operasi mata. 

Saya minta tolong pada dokter ahli mata tersebut untuk sementara memberi obat apa saja yang dapat meringan kan iritasi pada matanya. Dokter memberi salep mata yang harus diberikan 2 kali sehari. Kami pulang dengan hati gundah. Isteri saya selalu menangis mengkhawatirkan keadaan anak kami. Kami sangat cemas kalau mata anak kami harus dioperasi. Berbagai angan-angan buruk menghantui pikiran kami. 

Saya bertekad untuk melakukan shalat malam atau Tahajud mohon pada Allah agar mata anak saya disembuhkan. Saya bangun sebelum shalat subuh sekitar jam 3.30. Salep mata yang saya dapatkan dari dokter saya letakan di atas sajadah tempat saya sujud. Saya lakukan shalat Tahajud 2 raka’at kemudian saya berdo’a agar salep mata yang diberikan dokter kepada kami diberi kekuatan untuk menyembuhkan mata anak kami. Saya lakukan shalat 2 raka’at sebanyak empat kali dan ditutup dengan shalat witir 3 raka’at, sehinggal total semua menjadi 11 raka’at. Diantara masing masing shalat 2 raka’at itu saya berdo’a mohon agar salep yang diberikan dokter itu mempunyai khasiat untuk meyembuhkan mata anak kami.

Saya lakukan shalat Tahajud setiap malam, berdo’a penuh pengharapan pada Allah agar mata anak saya disembuhkan kembali. Sesuai saran dokter salep mata itu kami berikan 2 kali sehari, waktu pagi dan sore hari. Alhamdulillah setiap hari kami lihat ada angsurannya. Lelehan airmata pada pipi anak kami setiap hari tampak mulai berkurang. Pada hari ke tujuh lelehan air mata di pipi anak saya sudah mengering dan tidak tampak lagi. Saya terus mengerjakan Tahajud dan berdo’a setiap malam. Alhamdulillah setelah 2 minggu mengerjakan shalat Tahajud mata anak saya betul-betul telah sembuh. Matanya tampak bersih tidak ada bekas iritasi dan lelehan air mata lagi. Kami betul betul bersyukur dan berterima kasih pada Allah. 

Demikianlah mata anak saya tidak jadi dioperasi, ia sembuh hanya dengan memberikan salep mata dan mengerjakan shalat Tahajud selama 2 minggu terus menerus. Walaupun pada mulanya dokter menyarankan untuk membuka saluran pembuangan air mata yang tersumbat itu harus dioperasi. Namun dengan pertolongan Allah semuanya bisa normal kembali dengan obat yang sederhana dan mengerjakan shalat Tahajud setiap malam. 


Minggu, 07 Mei 2023

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat


 

Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol Vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan Vespanya. Alhamdulillah... akhirnya Vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin dulu, harus muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Kemana arah Vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

“Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa Vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uang  segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syaithan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah buatku!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian Vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis. 

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syaithan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya. 

“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.

“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya,” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.

“Untung apaan?”

“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum.”

“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya cuma punya Vespa.”

“Hmm... mau, anak ditukar Kijang?”

Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik Vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya. 

Sungguh benar firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261). 

 

Kamis, 04 Mei 2023

Sedekah Yang Membuatmu Kaya



Syarat dan ketentuan sedekah agar bisa kaya

Banyak orang yang berpendapat kalau kita bersedekah harus ikhlas, tetapi belum banyak orang yang tahu tentang apa itu ikhlas dalam bersedekah. Ikhlas dalam bersedekah itu sebenarnya sangat sederhana, namun banyak orang yang mempersulit arti ikhlas tersebut. Bagaimana ikhlas dalam bersedekah itu? Berikut ini dipaparkan apa saja sebenarnya syarat dan ketentuan sedekah.

• Ikhlas

Ikhlas disini bukan berarti Anda tidak boleh mengharapkan sesuatu. Dengan Anda bersedekah, Anda boleh mengharapkan apapun yang Anda inginkan, misalnya, Anda bersedekah karena ingin dikembalikan 700 kali lipat oleh Allah swt, Anda bersedekah karena ingin dimudahkan rezekinya, Anda bersedekah karena ingin menjadi pengusaha. Itu semua sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah, Anda bersedekah tetapi mengharapkan sesuatu dari manusia, misalnya, pujian dari orang lain. Itu sangat tidak dibolehkan.

• Banyak-banyaklah bersedekah

Sedekah banyak-banyak terutama barang yang sangat Anda cinta. Misalnya, rumah, mobil, motor, atau uang. Kalau Anda yakin, sedekahkan saja, asalkan masih ada sisa untuk makan Anda. Allah itu maha kaya, semua yang dimiliki orang kaya itu punya Allah, kapanpun Allah mau ambil, pasti bisa. Jadi kapanpun Anda minta kaya, bila Allah menghendaki pasti bisa.

• Shalat 7 waktu, membaca Al-Qur’an, dan berdoa

Yang dimaksud shalat 7 waktu adalah Isya, Tahajud, Subuh, Dhuha, Zhuhur, Ashar, Maghrib. Jadi bukan hanya shalat wajib saja yang harus Anda lakukan, tetapi Shalat sunnah Tahajud dan shalat Dhuha juga sebaiknya dilakukan, agar semua keinginan Anda cepat dikabulkan oleh Allah swt. 

Bila Anda tidak terlalu banyak dosa, pasti dengan melakukan hal-hal di atas dalam 40 hari saja, Anda sudah bisa kaya luar biasa. Tetapi bila Anda merasa memiliki banyak dosa, Anda tidak perlu kawatir, dengan melakukan hal di atas secara terus menerus, insya Allah selain Anda bisa kaya, dosa Anda pun akan diampuni oleh Allah swt.

Jumat, 28 April 2023

Mempermudah Ujian Skripsi (Dewi Mustika - Mahasiswa)



Nama saya adalah Dewi Mustika. Di sini saya ingin sedikit share pengalaman. Kejadiannya saat saya maju sidang skripsi. Hari yang bersejarah sebagai syarat kelulusan saya. Sebelum berangkat ke kampus saya melakukan ritual yang seperti biasanya yaitu shalat Dhuha. Disini lagi-lagi saya ingin tahu sebesar manakah manfaat shalat Dhuha bagi kita. Sebelum berangkat saya juga tidak lupa minta doa restu dari orangtua dan yang utama minta ibu mendoakan saya agar sukses. 

Setelah semua persiapan selesai dilakukan, kini saatnya perang dan maju sidang. Saat saya memasuki ruang sidang suasananya terasa enak, cuma ruangannya agak sedikit panas dikarenakan AC-nya belum greget. Disinilah mulai terasa efek dari amalan shalat Dhuha yang saya kerjakan sebelum masuk ke ruang sidang. 

Semua dosen penguji tidak ada yang judes atau memasang muka asam, malah sebaliknya. Mereka melepaskan aura bersahabat tanpa ada satupun aura “membantai” keluar dari raut muka mereka. Subhanallah, hati saya mulai terasa sedikit lebih tenang.

Kemudian ada lagi efek lain yang saya dapatkan, yaitu presentasi hanya berlangsung kurang dari 30 menit dan program saya dinyatakan berhasil, meskipun ada sedikit revisi. Nggak pakai lama, nggak pakai muka asam dan nggak pakai bantai-membantai. 

Dan yang lebih mengejutkan lagi, salah satu dosen pembimbing saya menawarkan sebuah pekerjaan di perusahaan beliau. Subhanallah istimewa pada hari itu. 

Inilah kebesaran Allah yang dibukakan kepada saya. Jadi merinding kalau mengingat kembali.


Senin, 10 April 2023

Mukjizat Musa AS



Menjawab tentangan Firaun yang menuntut bukti atas kebenarannya Musa dengan segera meletakkan tongkatnya yang segera menjelma menjadi seekor ular besar yang melata menuju Firaun. Karena ketakutan melompat lari dari singgasananya melarikan diri seraya berseru kepada Musa: “Hai Musa demi asuhanku kepadamu selama delapan belas tahun panggillah kembali ularmu itu.” Kemudian dipeganglah ular itu oleh Musa dan kembali menjadi tongkat biasa.

Berkata Firaun kepada Musa setelah hilang dari rasa heran dan takutnya: “Adakah bukti yang dapat engkau tunjukkan kepadaku?”

“Ya, lihatlah.” Musa menjawab serta memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya. Kemudian tatkala tangannya dikeluarkan dari sakunya, bersinarlah tangan Musa itu menyilaukan mata Firaun itu dan orang-orang yang sedang berada di sekelilingnya.

Firaun sebagai raja yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu tidak akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa bekas anak pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan dua mukjizat. Ia bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khawatir akan terpengaruh oleh kedua mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan Harun adalah ahli sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai Mesir dan para penduduknya dengan kekuatan sihirnya itu.

Firaun dianjurkan oleh penasihatnya yang dikepalai oleh Haman agar mematahkan sihir Musa dan Harun itu dengan mengumpulkan ahli-ahli sihir yang terkenal dari seluruh daerah kerajaan untuk bertanding melawan Musa dan Harun. Anjuran tersebut disetujui oleh Firaun.

Akhirnya diadakanlah pertandingan sihir itu, maka berduyun-duyunlah penduduk kota menuju ke tempat yang telah ditentukan

Segeralah ahli-ahli sihir Firaun menunjukkan aksinya melemparkan tongkat dan tali-temali mereka ke tengah-tengah lapangan. Musa merasa takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat dan tali-tali itu seakan-akan ular-ular yang merayap cepat. Namun Allah tidak membiarkan hamba utusan-Nya berkecil hati menghadapi tipu-daya orang-orang kafir itu. Allah berfirman kepada Musa Di saat ia merasa cemas itu: 

“Janganlah engkau merasa takut dan cemas hai Musa! Engkau adalah yang lebih unggul dan akan menang dalam pertandingan ini. Lemparkanlah yang ada di tanganmu segera.”

Para ahli-ahli sihir yang pandai dalam bidangnya itu tercengang ketika melihat ular besar yang menjelma dari tongkat Nabi Musa dan menelan ular-ular dan segala apa yang terbayang sebagai hasil tipu sihir mereka. Mereka segera menyerah kalah bertunduk dan bersujud (kepada Allah) di hadapan Musa seraya berkata: 

“Itu bukanlah perbuatan sihir yang kami kenal yang diilhamkan oleh syaitan tetapi sesuatu yang digerakkan oleh kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan Harun maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah mereka dan beriman kepada Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan saksikan dengan mata kepala kami sendiri.”

Firaun raja yang congkak dan sombong yang menuntut persembahan dari rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan matanya tanda marah dan jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat menyerah kalah kepada Musa bahkan menyatakan beriman kepada Tuhannya dan kepada kenabiannya serta menjadi pengikut-pengikutnya.

Nabi Musa yang telah mengalahkan ahli-ahli sihir dengan kedua mukjizatnya makin meluas pengaruhnya, sedang Firaun dengan kekalahan ahli sihirnya merasa kewibawaannya merosot dan kehormatannya menurun. Ia khawatir jika gerakan Musa tidak segera dipatahkan akan mengancam keselamatan kerajaannya dan kekuasannya.

Akhirnya kesabaran Nabi Musa sampai pada puncaknya, melihat Firaun dan pembantu-pambantunya tetap bersikeras menentang dakwahnya, mendustakan risalahnya dan makin melakukan tindakan kejamnya terhadap kaum Bani Israil terutama para pengikutnya yang menyembunyikan imannya karena ketakutan dengan kejaran Firaun dan pembalasannya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. 

Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada Allah: “Ya Tuhan kami, Engkau telah memberi kepada Firaun dan kaum kerabatnya kemewahan hidup, harta kekayaan yang meluap-luap dan kenikmatan duniawi, yang kesemuanya itu mengakibatkan mereka menyesatkan manusia, hamba-hamba-Mu, dari jalan yang Engkau ridhai dan tuntunan yang Engkau berikan. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat siksaan-Mu yang pedih.”

Berkat doa Nabi Musa dan permohonannya yang diperkenankan oleh Allah, maka kerajaan Firaun akhirnya dilanda krisis keuangan dan makanan, yang disebabkan keringnya sungai Nil sehingga tidak dapat mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang di samping serangan hama yang ganas yang telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning dan siap untuk dipanen.

Belum selesai krisis keuangan dan makanan selesai datang banjir yang besar disebabkan oleh hujan yang turun dengan derasnya, sehingga menghanyutkan rumah-rumah, gedung-gedung dan membinasakan binatang-binatang ternak. Dan sebagai akibat dari banjir itu, bermacam-macam wabah dan penyakit yang menjangkiti dan merisaukan masyarakat seperti hidung berdarah dan lain-lain. Kemudian datanglah barisan kutu-kutu busuk dan katak-katak yang menyerbu ke dalam rumah-rumah sehingga mengganggu ketenteraman hidup mereka, menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur, disebabkan menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam tempat-tempat tidur, hidangan makanan dan di antara sela-sela pakaian mereka.

Pada waktu azab menimpa dan bencana-bencana itu sedang melanda berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta pertolongannya demi kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah mengangkat bala itu dari mereka dengan perjanjian bahwa mereka akan beriman dan menyerahkan Bani Israil kepada Nabi Musa sekirannya mereka dapat ditolong dan terhindar dari azab bala itu.

Akan tetapi begitu bala-bala itu tercabut dari mereka dan hilanglah gangguan yang diakibatkan olehnya, mereka mengingkari janji mereka dan kembali bersikap memusuhi dan menentang Nabi Musa, seolah-olah apa yang terjadi bukanlah karena doa dan permohonan Musa kepada Allah tetapi karena hasil usaha mereka sendiri.


Selasa, 28 Maret 2023

Sembuh dari Lupus (Dian Syarief - Ketua Syamsi Dhuha Foundation)





Dian Syarief adalah penderita lupus atau penyakit kelebihan kekebalan tubuh. Penyakit ini terjadi akibat produksi antibodi berlebihan sehingga alih-alih berfungsi menyerang virus, kuman, atau bakteri dalam tubuhnya, antibodi berlebih ini justru menyerang sistem kekebalan sel dan jaringan tubuhnya sendiri. Selain lupus, Dian juga menderita low vision.

Bagi Anda yang baru mendengar penyakit ini, low vision merupakan penyakit mata yang disebabkan oleh berbagai penyakit seperti katarak, glukoma, atau gangguan pada retina dan lainnya. Low vision berbeda dengan buta total (blind). Pasalnya, seorang penderita low vision masih bisa melihat meskipun lapang pandangnya sempit.

Sulit dibayangkan bagaimana Dian bisa bertahan menghadapi kedua penyakit (beserta komplikasinya) yang ia derita sejak tahun 1999 tersebut. Detik-detik sekarat sering ia alami. Rasa sakit dan pedih seolah menjadi pengiring nafas dalam hidupnya. 

Namun subhanallah, Allah SWT masih memberikan kepercayaan hidup kepadanya. Boleh jadi, hal itu dikarenakan Dian senantiasa bersabar dan bertawakal kepada-Nya. Selain itu, Dian juga selalu pasrah atas kejadian yang dialaminya dan berikhtiar maksimal sehingga akhirnya pertolongan Allah SWT datang. Dian pun akhirnya sembuh dan menjalani hari-hari bahagianya bersama sang suami.

“Membiasakan diri melaksanakan shalat Dhuha setiap hari merupakan sebuah ikhtiar untuk selalu membangun kesadaran berserah diri hanya kepada Allah SWT. Melakukan shalat Dhuha secara benar sesuai dengan syar’i membuat kita merasa selalu terbimbing dan terhubung dengan-Nya.”

Menurut sarjana farmasi ITB ini, shalat Dhuha bisa menjadikan siapa saja yang melaksanakannya beroleh kemuliaaan. Waktu Dhuha adalah waktu yang penuh semangat untuk memulai aktivitas harian. Jika diawali shalat Dhuha, kita seakan diberikan ketenangan dan tambahan energi untuk memulai hari. Biasanya, Dian kerap merangkai shalat Dhuha dengan aktivitas ibadah lainnya seperti berdoa dan berzikir. 

“Surat yang sering saya baca saat shalat Dhuha adalah surat Adh-Dhuhaa dan surat Asy-Syams. Begitulah bentuk ikhtiar saya untuk mohon ampun kepada Sang Rahim atas berbagai kesalahan yang pernah saya lakukan, dulu maupun sekarang,” demikian kata wanita kelahiran 1965 ini.

Meski demikian, Dian mengaku bahwa shalat Dhuha bukan satu-satunya sumber kekuatannya dalam menghadapi berbagai ujian dari Allah SWT. Shalat Tahajud, shalat-shalat sunnah lainnya, serta tentu saja shalat wajib merupakan sumber lain kekuatannya. Tidak ketinggalan, doa dan dzikrullah. 

“Untuk bisa tetap taat dan tawakal memang dibutuhkan berbagai keyakinan ilahiyah yang dapat diperoleh melalui tafakur. Dengan menggali potensi akal dan qolbu-lah maka kita akan dapat memahami ayat- ayat Allah, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.”

Sampaikanlah tiap kebaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan buah kebaikan yang telah diikhtiarkan dan didoakan tersebut. Inilah yang kemudian Dian lakukan kepada anggota SDF yang dipimpinnya. 

“InsyaAllah, setiap kebaikan selalu diupayakan untuk dibagi. Tak hanya sebatas manfaat shalat Dhuha, tetapi juga ayat-ayat Allah dan berbagai ilmu yang bermanfaat. Spiritual healing bagi yang menyandang lupus atau low vision biasanya berupa perenungan atau tafakur. Jika telah tertanam keyakinan ilahiah, otomatis akan berdampak pada ketaatan mengerjakan berbagai ibadah, termasuk shalat Dhuha,” pungkasnya.


Kamis, 16 Maret 2023

Penyesalan



Matahari mulai terbit di ufuk timur. Tetapi Evita belum juga tidur. Ia menangis sejak tadi malam. Ia masih belum bisa mengerti akan keputusan kekasihnya, Bram, yang menginginkan hubungan mereka berakhir. Evita sangat mencintai Bram sehingga ketika Bram memutuskan hubungan dengannya, ia sangat terpukul sekali. Hatinya hancur ketika Bram mengucapkan kata berpisah tanpa ada alasan yang jelas. 

Setelah Evita merasa lelah karena menangis semalam suntuk, ia pun meraih gitar kesayangannya yang selalu setia menemaninya di kamar itu. Ia mulai memetik senar gitar itu dan menyanyikan sebuah lagu dari Judika, penyanyi favoritnya,

Pernahkah kau merasa jarak antara kita. 

Kini semakin terasa setelah kau kenal dia. 

Aku tiada percaya teganya kau putuskan indahnya cinta kita. 

Yang tak ingin ku akhiri. 

Kau pergi tinggalkan ku... 

Tak pernahkah kau sadari. Akulah yang kau sakiti. 

Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari. 

Oh Tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku. 

Aku pun ingin bahagia walau tak bersama diaaa... 

Memang takkan mudah bagiku tuk lupakan segalanya.. 

Aku pergi untuk diaa... 

(Judika - Aku Yang Tersakiti) 


Itulah sepenggal lirik lagu yang sangat mewakili perasaannya. Evita merasakan ada orang ketiga di balik hancurnya hubungan antara dia dengan Bram. Tetapi Evita mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Bram untuk wanita lain. Walaupun hatinya serasa pedih.

Pagi berganti siang, siang berganti malam, dan malam berganti pagi. Hari demi hari Evita lalui dengan senyuman. Dia tak ingin orang lain tahu akan kesedihan yang bersemayam di hatinya. Evita berusaha menjalani hari-harinya dengan tegar tanpa Bram di sisinya. Evita sadar, untuk apa dia bersedih terus. Toh, Bram tidak akan kembali lagi kepadanya. 

“Keep smile Evita, tanpa Bram, kamu masih bisa hidup kok. Berpisah dengannya bukanlah akhir dari segalanya,” kata Evita pada dirinya sendiri. 

Selama hampir 2 tahun Evita menjomblo. Evita termasuk gadis yang cantik, cerdas, baik, dan mudah bergaul. Tidak sedikit pria yang menyukainya. Banyak pria yang ingin menjadi kekasihnya, tetapi hingga sekarang, tidak ada satupun dari mereka yang berkenan di hati Evita. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang pria yang sangat berbeda dari yang lain. Nama pria itu adalah Fariz. Mereka bertemu di pesta ulang tahun sahabatnya yaitu Wida. Awalnya Wida yang mengenalkan Fariz kepada Evita. Dan setelah berkenalan, mereka pun ngobrol-ngobrol.

Mereka sangat cepat akrab. Semenjak itu, hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab. Dan akhirnya mereka bersahabat. Fariz sering curhat kepada Evita. Dan Evita pun begitu. Persahabatan mereka sangat erat, bahkan kemana-kemana selalu berdua.

Menurut Evita, Fariz itu orangnya penuh perhatian, pengertian, baik, mudah bergaul, lucu dan sering membuat Evita tertawa. Di matanya, Fariz itu sangat sempurna. Lama-kelamaan Evita mulai mencintai Fariz. Namun, Evita memendam perasaannya. Dia tidak ingin Fariz mengetahui tentang perasaan itu, karena Fariz sudah mempunyai kekasih dan Evita takut hubungan Fariz dengan kekasihnya menjadi hancur karenanya. Di samping itu, Evita juga takut, hubungan persahabatannya dengan Fariz menjadi berantakan karena perasaannya itu. 

Cukup lama Evita memendam perasaannya itu. Hingga suatu ketika Fariz putus hubungan dengan kekasihnya. Fariz sangat sedih saat itu. Evita menyadari bahwa Fariz sangat mencintai kekasihnya itu. Semenjak itu, Evita mencoba membuang jauh-jauh perasaannya ke Fariz. Walaupun itu sangat sulit untuk dilakukan dan untuk yang kedua kalinya, Evita harus merelakan orang yang dia cintai, mencintai orang lain.

Evita selalu menghibur Fariz. Ia tak ingin melihat orang yang dia cintai itu bersedih terus. Evita juga sangat perhatian dengan sahabatnya itu. Lambat laun semua sikap Evita yang ditunjukkan ke Fariz membuat mata hati Fariz pun terbuka. Dan Fariz pun menyadari bahwa ada yang lebih memperhatikannya daripada mantan kekasihnya itu. 

Lama-kelamaan, tanpa disadari Fariz pun mencintai Evita. Tetapi Fariz tidak ingin tergesa-gesa menyatakan cintanya kepada Evita. Fariz ingin mencari waktu yang tepat untuk menyatakan semuanya. 

Suatu ketika, Evita mengajak Fariz untuk berlibur ke Bali. Tentu saja Fariz sangat senang dan bersedia pergi bersamanya. Dan keesokkan harinya mereka pun berangkat ke Bali dengan menggunakan pesawat. Sesampainya di Bali mereka mencari tempat penginapan dan memesan 2 kamar. Lalu mereka beristirahat. Keesokkan harinya Fariz dan Evita berkeliling kota Bali dengan ditemani seorang pemandu wisata. Sore harinya, mereka menuju sebuah pantai di Bali. Pantainya sangat indah. Suasananya tenang. Mereka berdua pun duduk-duduk santai di tepi pantai sambil menikmati pemandangan yang ada. Saat itulah Fariz merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya kepada Evita. 

“Evi?”

“Iya. Ada apa Fariz?”

“Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?”

“Tentang apa?”

“Perasaan kamu kepadaku sebenarnya seperti apa sih?”

Evita terkejut dan gugup mendengar pertanyaan Fariz, 

“Aku sayang sama kamu tapi hanya sekedar sayang kepada seorang sahabat saja. Kenapa kamu menanyakan itu?”

“Oh, tidak apa-apa kok. Tapi Aku boleh jujur nggak?”

“Tentu saja boleh.”

“Sebenarnya aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu.”

“Aku sudah tahu kok! Ha... ha...” kelakar Evita. 

“Tapi aku mencintai kamu lebih dari sekedar mencintai sahabat!” lanjut Fariz dengan tatapan tajam.

Evita terkejut, “Ah...! Kamu nggak usah bercanda deh Fariz. Nggak lucu tau!”

“Aku tidak bercanda. Aku serius!”

“Bukannya kamu sangat mencintai mantan kekasihmu itu. Kenapa sekarang kamu mencintai aku?”

“Karena aku sadar, ada orang yang sangat memperhatikan aku lebih daripada mantanku itu. Dan aku merasa kamu sayang kepadaku lebih dari sekedar sayang kepada seorang sahabat. Betul kan Evi?”

“Hmm. Iya Fariz. Aku memang menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Namun aku berusaha untuk memendamnya karena aku tak mau merusak hubungan persahabatan kita.”

“Kenapa kamu bicara seperti itu Evi? Mengapa kamu tidak mengatakan sejujurnya tentang perasaanmu itu dari dulu.”

Karena Evi diam tak menjawab, Fariz sambil memegang erat tangan Evi, berkata pelan, 

“Evi, aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Maukah kamu menjalin hubungan denganku lebih dari sekedar bersahabat?”

Dengan gugup Evita menjawab, 

“Aku mau saja Fariz. Tapi kamu harus janji ya, jika suatu saat nanti kita putus. Kita tetap bersahabat ya? Dan kamu harus janji juga, jangan sampai ada orang ketiga diantara kita. Bisa?”

“Sangat bisa! Aku berjanji. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu! Aku janji!” seru Fariz dengan gembira. 

“Sekarang kita pacaran nih?” sahut Evita sambil melirik genit ke Fariz.

“Menurut kamu?”

“Ya gitu deh! Ha... ha...”

Kebetulan saat itu Evita membawa gitar. Dan Fariz pun memainkan gitar itu. Merekapun bernyanyi bersama, sambil menikmati redupnya cahaya matahari yang mulai tenggelam di pantai itu,

Inilah aku apa adanya, yang ingin membuatmu bahagia. 

Maafkan bila ku tak sempurna. 

Sesempurna cintaku padamu... 

Ini juga ku apa adanya. yang ingin slalu disampingmu. 

Ku tahu semua tiada yang sempurna. 

Dibawah kolong langit ini... Jalan kita masih panjang. 

Ku ingin kau slalu di sini...

Biar cinta kita tumbuh harum mewangi. 

Dan dunia menjadi saksinya. 

Untuk apa kita membuang-buang waktu. 

Dengan kata-kata perpisahan. 

Demi cinta kita aku akan menjaga. 

Cinta kita yang tlah kita bina. 

Walau hari terus berganti hari lagi... 

Cinta kita abadi selamanya...


Semenjak itu mereka berdua semakin mesra saja. Dan tiba saatnya mereka kembali ke Pekanbaru. Selama di Pekanbaru, hubungan mereka baik-baik saja. Sudah 3 tahun mereka berpacaran. Ada suka-dukanya. Dan yang pasti, sekali dua kali terjadi pertengkaran, dan masalah. Namun mereka dapat mengatasi semuanya. Bahkan sampai saat ini, cinta mereka tetap hangat seperti yang dulu. Kisah cinta mereka bagaikan romantika Romeo dan Juliet. Mereka sangat bahagia dengan hubungan mereka saat ini. Akhirnya Evita menemukan rasa cintanya kembali. Walaupun rasa cinta itu sempat hilang. Namun, kini telah ada pengganti cinta yang hilang itu. Dan penggantinya jauh lebih baik dari yang sebelumnya.

Kini, mantan kekasih Evita, si Bram, ingin kembali kepada Evita dan membujuk Evita untuk memutuskan Fariz. Spontan saja, Evita langsung marah kepada Bram dan pergi begitu saja meninggalkannya. Rasa Penyesalan datang menghantui pikiran Bram. Dia sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan orang yang dulu sangat tulus mencintai dia. Begitulah, mengkin inilah karma yang harus dirasakan oleh Bram. 

Akan halnya Fariz dan Evita, mereka akhirnya melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan, dan kedua insan itupun hidup rukun dan bahagia selamanya.


Selasa, 14 Maret 2023

Talhah bin Ubaidillah

Talhah bin Ubaidillah     




Beliau merupakan seorang peniaga kain yang berasal dari Makkah. Beliau kerap berniaga dan membawa barangan berharga di Syria. Thalhah memang memiliki kelebihan dalam strategi berdagang, ia cerdik dan pintar, hingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua. 

Dia juga memiliki kekayaan yang berlimpah yakni sebesar 700.000 dirham atau Rp 44 milyar. Angka ini sama dengan sekitar 29,75 kilogram emas. Dikisahkan, harta tersebut dibagi-bagikannya kepada para sahabat nabi SAW yang berkekurangan.

Dia membagikan hartanya pada setiap piring kecil yang berisi uang dalam jumlah besar kepada para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Adapun sebagian kawan dekat beliau diberi jumlah yang lebih besar dalam nampan. Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang yang mendapatkan jatah satu nampan.

Bahkan dikisahkan Thalhah hampir lupa menyisakan uang itu untuk keluarganya sendiri. Beliau kemudian memberikan 1.000 dirham atau Rp 63 juta. Angka ini sama dengan 500 gram emas kepada istrinya Ummu Kutsum binti Abu Bakar Ash Shiddiq.

Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi Thalhah karena pengorbanannya yang besar. Untuk itu, Muhammad SAW memberinya gelar Thalhah Al-Fayyadh atau Thalhah yang senantiasa mengalirkan banjir infak, Thalhah Al-Khair atau Thalhah si orang baik dan Thalhah Al-Jud atau Thalhah si dermawan.

Sifat Penyayang



Sifat penyayang yang dimiliki oleh anak manusia mempunyai dua tipe.

  • Sifat yang memang sudah menjadi watak asli.

Allah memang telah menanamkan sifat tersebut sebagai watak asli sebagian hamba-Nya. Dalam hatinya ditanamkan sifat pengasih, penyayang dan lembut terhadap sesama makhluk. Dengan sifat penyayang ini dia pun tertuntut melakukan yang dimampuinya berupa hal-hal yang bermanfaat untuk makhluk. Orang semacam ini terpuji dan mendapat pahala atas apa yang dia perbuat sementara yang tidak dia mampu Allah memberikan udzur. Bisa jadi Allah mencatat apa yang dia tidak mampu lakukan sesuai dengan niatnya.

  • Sifat yang diusahakan oleh hamba (bukan watak asli).

Seseorang melakukan sebab-sebab yang menjadikan hatinya memiliki sifat tersebut. Misalnya seseorang menyadari bahwa sifat penyayang termasuk akhlak karimah yang paling agung dan sempurna sehingga dia berusaha sungguh-sungguh untuk bisa memilikinya, dan dia mengetahui balasan pahala yang akan Allah berikan padanya. Akhirnya orang tersebut bersemangat untuk mendapatkan keutamaan dari Tuhannya ini. Orang ini pun berusaha menempuh sebab-sebab yang bisa menjadikannya memiliki sifat penyayang.

Seseorang hendaknya terus berusaha mengenal sebab-sebab yang bisa menyebabkannya memiliki sifat yang mulia ini. Hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya sehingga hatinya pun akan dipenuhi sifat penyayang dan lembut terhadap makhluk. Betapa mulia sifat yang utama, agung, dan sempurna ini.


Jumat, 10 Maret 2023

Kisah Segelas Susu



Pada akhir bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, ada seorang anak lelaki miskin yang hidup dengan menjual jasa semir sepatu dari pintu ke pintu, setelah cukup lama berkeliling menjajakan jasanya yang belum juga laku sama sekali, ia pun mulai kelelahan dan baru menyadari bahwa di kantongnya hanya tersisa uang beberapa rupiah saja, dan kala itu dia lapar sekali dan sangat kehausan.

Anak kecil tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak kecil itu kehilangan keberanian ketika seorang wanita muda cantik membukakan pintu rumah. Bocah kecil itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air putih.

Wanita muda tersebut memperhatikannya dengan penuh selidik, dan setelah melihat betapa pucatnya wajah anak kecil itu, ia pun berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah sangat lapar dan haus, oleh karena itu ia segera masuk dan kembali dengan membawakan segelas besar susu segar dari dalam lemari es-nya. 

Untuk beberapa saat anak kecil itu tertegun dan heran, namun kemudian ia segera meminum segelas susu tersebut dengan pelan-pelan, seraya ditatap dengan penuh iba hati oleh wanita muda tersebut, dan tak lama kemudian anak kecil itu bertanya dengan polos, 

“Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?”

Wanita itu menjawab dengan tersenyum, seraya berkata, 

“Kamu tidak perlu membayar apapun Dik, semenjak kami masih kecil, ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk segala bentuk kebaikan,” kata wanita itu dengan suara yang bijak dan terdengar ikhlas. 

Dengan menitikan air mata, bocah lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata dalam hati,

“Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih banyak kepada Anda. Semoga Tuhan membalas ketulusan dan kebaikan Anda.”

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tidak terasa, 20 tahun kemudian, wanita muda tersebut, menjadi tua dan mulai sering sakit-sakitan. Hingga suatu ketika ia mengalami sakit yang serius dan keadaannya sangat kritis. Para dokter di seluruh kota-kota besar di Jawa Barat sudah tidak ada yang sanggup menangani penyakitnya.

Oleh keluarganya, ia akhirnya dikirim untuk berobat ke kota Jakarta, yaitu di sebuah rumah sakit terkenal dimana terdapat seorang dokter spesialis yang sangat ahli dan cukup ternama, yang diharapkan akan mampu untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam dan dapat menangani penyakit langka tersebut. 

Pada saat dokter spesialis itu mendengar nama dan kota asal si wanita tersebut dari perawatnya, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter tersebut. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui lorong rumah sakit, dan segera menuju ke kamar dimana si pasien wanita tersebut dirawat.

Dengan ekspresi wajah yang menyiratkan rasa keingintahuan yang sangat tinggi, dokter muda tersebut segera menemui si pasien wanita itu. Sejenak ia tertegun, namun kemudian ia langsung mengenali wanita itu hanya pada sekali pandangan. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi team dokter dan memutuskan untuk melakukan upaya yang paling terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Dan sejak hari itu, ia selalu memberikan perhatian yang sangat istimewa dan khusus pada kasus penyakit pasien wanita tua yang satu itu.

Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang, akhirnya diperoleh juga sebuah kemenangan. Wanita itu sembuh! 

Segera dokter ini meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan dan rekapitulasi pengobatannya. Tidak lama berselang, kemudian dokter melihat tagihannya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien melalui salah satu perawatnya. 

Sejenak wanita tua itu merasa takut untuk membaca tagihan tersebut, di benaknya ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya dengan membaca basmallah, ia pun memberanikan diri untuk membuka dan membaca tagihan tersebut, dan ia sangat terkejut begitu mengetahui bahwa ternyata semua tagihan untuknya selama 2 bulan perawatan dirinya di rumah sakit sudah dibayar lunas, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan tebal yang dicap stempel rumah sakit dan berbunyi...

“Telah dibayar lunas 22 tahun yang lalu dengan segelas besar susu.” Tertanda (nama dokter spesialis yang merawatnya) 

Wanita tua itu sungguh tidak bisa mempercayai peristiwa ini, spontan ia pun menangis bersimbah air mata kebahagiaan yang membanjiri matanya. Ia berdoa lirih seraya mengucapkan, 

“Subhannallah... terima kasih ya Allah, bahwa cinta dan kasih sayang-Mu telah menyirami seluruh bumi ini melalui hati dan tangan-tangan hamba-Mu yang kau kehendaki.”

Demikianlah, setiap kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan hati seorang hamba kepada hamba Allah lainnya, kelak pasti akan dibayar Allah dengan cara yang tiada terduga. Begitupun sebaliknya.

Karena Dia lah yang Maha menggenggam di balik setiap kejadian di dunia ini.