Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2022

7 Alasan Mencela Diriku - Kahlil Gibran


 

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,

Pertama kali ketika aku melihatnya lemah,

padahal seharusnya ia bisa kuat.


Kedua kali ketika melihatnya 

berjalan terjingkat-jingkat

di hadapan orang yang lumpuh


Ketiga kali ketika berhadapan 

dengan pilihan yang sulit dan mudah,

ia memilih yang mudah


Keempat kalinya, 

ketika ia melakukan kesalahan 

dan mencoba menghibur diri

dengan mengatakan bahwa semua orang 

juga melakukan kesalahan


Kelima kali, 

ia menghindar karena takut, 

lalu mengatakannya sebagai sabar


Keenam kali, 

ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk

padahal ia tahu, 

bahwa wajah itu adalah salah satu topeng 

yang sering ia pakai


Dan ketujuh, 

ketika ia menyanyikan lagu pujian 

dan menganggap itu sebagai sesuatu 

yang bermanfaat


Selasa, 26 Juli 2022

Wanita - Kahlil Gibran


Wanita


Seorang wanita 

yang telah diberikan kecantikan roh dan tubuh 

oleh pemeliharaan adalah suatu kebenaran,

terbuka sekaligus rahasia, 

yang dapat kita pahami hanya dengan kasih, 

dan dapat kita sentuh hanya dengan kebajikan, 

dan ketika kita berupaya menggambarkan wanita seperti itu, 

ia menghilang seperti uap.


Wanita membuka jendela mataku 

dan pintu rohku.


Seandainya bukan berkat ibu, 

saudara perempuan, 

dan sahabat perempuan, 

aku tentu akan tidur di antara mereka-mereka 

yang mencari kedamaian dunia 

dengan dengkuran mereka.


Para penulis dan pujangga 

berusaha memahami kebenaran tentang wanita.


Tetapi hingga hari ini 

mereka belum memahami hatinya, 

sebab memandangnya lewat selubung hasrat.


Mereka hanya melihat bentuk tubuhnya saja,

atau mereka memandangnya lewat kaca pembesar 

itikad buruk dan tidak menemukan apa-apa dalam dirinya 

selain kelemahan dan kepasrahan.



Wanita Modern


Peradaban modern

telah menjadikan wanita sedikit lebih bijaksana, 

tetapi telah menambah penderitaannya 

akibat keinginan besar pria.


Wanita hari kemarin adalah isteri yang bahagia, 

tetapi wanita jaman sekarang 

adalah simpanan yang nelangsa.


Di masa silam ia berjalan buta di dalam terang, 

tetapi sekarang ia berjalan 

dengan mata terbuka di dalam gelap.


Dulunya ia cantik dalam ketidaktahuannya, 

penuh kebajikan dalam kesederhanaannya, 

dan kuat di dalam kelemahannya.


Sekarang ia menjadi buruk 

di dalam kejeniusannya,

dangkal dan tidak berperasaan 

di dalam pengetahuannya.

Akankah tiba harinya 

ketika kecantikan dan pengetahuan, 

kejeniusan dan kebajikan, 

dan kelemahan tubuh dengan kekuatan roh 

bersatu dalam diri seorang wanita?

Kamis, 02 Juni 2022

Anak - Kalil Gibran



 Anak


Dan seorang perempuan yang menggendong bayi 
dalam dekapan dadanya berkata, 
Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu 
akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu
tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, 
tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, 
tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, 
yang tak pernah dapat engkau kunjungi 
meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka,
tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
karena hidup tidak berjalan mundur 
dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu 
menjadi anak-anak panah yang siap diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, 
dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, 
sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur 
dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu 
sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, 
maka ia juga mencintai busur teguh 
yang telah meluncurkannya
dengan sepenuh kekuatan.

<>-*-<>

Kamis, 21 April 2022

Dokter - Kahlil Gibran




Dokter


Semenjak awal dunia, 
para dokter telah berusaha menyelamatkan manusia 
dari berbagai penyakit mereka.
Ada yang menggunakan pisau, 
sementara yang lain menggunakan ramuan. 
Tetapi wabah penyakit tetap saja menyebar kemana-mana.

Sungguh aku berkeinginan 
agar sang pasien mencukupkan dirinya 
dengan tetap tinggal di tempat tidurnya yang kotor, 
merenungkan bisul-bisulnya yang tak kunjung hilang.

Tetapi ia malah mengulurkan tangannya dari balik jubahnya 
dan mencekik leher setiap orang yang datang 
membesuknya sampai mati.

Sungguh ironis!!
Pasien yang jahat membunuh sang dokter, 
lalu memejamkan matanya dan berkata pada diri sendiri;
“Sesungguhnya, ia dokter yang hebat”.

Minggu, 17 April 2022

Kahlil Gibran - Musim Bunga

 



Musim Bunga


Marilah, sayang, 
mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga 
dari lenanya
dan kini mengembara menyusuri pegunungan 
dan lembah-lembah,
Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, 
yang melangkahi
Ladang-ladang jauh, 
dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari aras ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannya
dari lipatan simpanan, dan menyangkutnya
pada pohon pic dan sitrus, dan mereka kelihatan 
bagai pengantin 
dalam upacara tradisi Malam Kedre.

Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan
bagai kekasih
Air kali pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela batuan, 
menyanyikan lagu riang.

Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersemburan, 
dari kalbu lautan

Kemarilah, sayang: 
mari meneguk sisa air mata musim dingin, 
dari gelas kelopak bunga lili,
Dan menenangkan jiwa, 
dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang berkicauan
dan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violet
berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka 
dalam pertukaran kasih rindu.

Kamis, 17 Maret 2022

Kesendirian - Kahlil Gibran



 Kesendirian


Roh yang berduka menemukan relaksasi
dalam kesendirian.
Ia membenci orang-orang,
seperti seekor rusa yang terluka
meninggalkan kawanannya
dan tinggal di dalam goa
hingga ia sembuh atau mati.

Kesendirian memiliki tangan
yang halus seperti sutera,
tetapi dengan jari-jemari yang kuat ia mencengkeram hati
dan menjadikannya sakit dengan duka.
Kesendirian adalah sekutu duka
sekaligus teman rohani
yang ditinggikan.
Kehidupanmu, saudaraku,
adalah habitat tersendiri yang terpisah
dari tempat tinggal orang lain.
Itu adalah sebuah rumah
ke dalam mana tak ada orang
yang dapat melihat.

Seandainya rumah itu kekurangan persediaan,
toko-toko sesamamu tak dapat mengisinya.
Kalau rumah itu berdiri di padang gurun,
engkau tak dapat memindahkannya ke kebun orang lain,
yang diolah serta ditanami
oleh tangan-tangan lain.

Kalau rumah itu berdiri di puncak gunung,
engkau tak dapat menurunkannya ke dalam lembah
yang dilewati orang lain.
Kehidupan rohanimu, saudaraku,
terdiri dari kesepian,
dan seandainya bukan karena kesepian
dan kesendirian,
engkau takkan menjadi dirimu,
dan aku takkan menjadi diriku.
Seandainya bukan karena kesepian dan kesendirian ini,
ketika mendengar suaramu aku akan percaya
bahwa itu suaraku.
Atau ketika melihat wajahmu,
aku akan percaya bahwa itu adalah diriku sendiri
yang sedang bercermin.

Jumat, 18 Februari 2022

Lagu Ombak - Kahlil Gibran






Pantai yang perkasa adalah kekasihku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta,
Namun kemudian Bulan menjarakkan aku darinya.
Kupergi padanya dengan cepat
Lalu berpisah dengan berat hati.
Membisikkan selamat tinggal berulang kali.

Aku segera bergerak diam-diam
Dari balik kebiruan cakerawala
Untuk mengayunkan sinar keperakan buihku
Ke pangkuan keemasan pasirnya
Dan kami berpadu dalam adunan terindah.

Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
Dia melembutkan suaraku dan mereda gelora di dada.
Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta
di telinganya, dan dia memelukku penuh damba

Di terik siang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kecupan-kecupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.
Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahan
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa

Seribu sayang, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pemuja cinta,
Dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa,
Mungkin kelelahan akan menimpaku,
Namun tiada aku bakal binasa.

Senin, 24 Januari 2022

Kesendirian - Kahlil Gibran



Roh yang berduka menemukan relaksasi
dalam kesendirian.
Ia membenci orang-orang,
seperti seekor rusa yang terluka
meninggalkan kawanannya
dan tinggal di dalam goa
hingga ia sembuh atau mati.

Kesendirian memiliki tangan
yang halus seperti sutera,
tetapi dengan jari-jemari yang kuat ia mencengkeram hati
dan menjadikannya sakit dengan duka.
Kesendirian adalah sekutu duka
sekaligus teman rohani
yang ditinggikan.
Kehidupanmu, saudaraku,
adalah habitat tersendiri yang terpisah
dari tempat tinggal orang lain.
Itu adalah sebuah rumah
ke dalam mana tak ada orang
yang dapat melihat.

Seandainya rumah itu kekurangan persediaan,
toko-toko sesamamu tak dapat mengisinya.
Kalau rumah itu berdiri di padang gurun,
engkau tak dapat memindahkannya ke kebun orang lain,
yang diolah serta ditanami
oleh tangan-tangan lain.

Kalau rumah itu berdiri di puncak gunung,
engkau tak dapat menurunkannya ke dalam lembah
yang dilewati orang lain.
Kehidupan rohanimu, saudaraku,
terdiri dari kesepian,
dan seandainya bukan karena kesepian
dan kesendirian,
engkau takkan menjadi dirimu,
dan aku takkan menjadi diriku.
Seandainya bukan karena kesepian dan kesendirian ini,
ketika mendengar suaramu aku akan percaya
bahwa itu suaraku.
Atau ketika melihat wajahmu,
aku akan percaya bahwa itu adalah diriku sendiri
yang sedang bercermin.

Senin, 10 Januari 2022

Puisi Kahlil Gibran Tentang Kehidupan Di Desa dan Di Kota



Kehidupan di Desa


Kita yang hidup di tengah-tengah gemerlap kota, 
tidak tahu apa-apa tentang kehidupan orang-orang desa 
di pegunungan.

Kita tersapu ke dalam keberadaan perkotaan yang sekarang, 
hingga kita lupa irama kehidupan di desa yang sederhana, 
yang penuh kedamaian, 
yang menuai di musim gugur, 
beristirahat di musim dingin, 
meniru alam dalam segala siklusnya.
Kita lebih kaya daripada orang desa dalam perak dan emas, 
tetapi mereka lebih kaya dalam roh.
Yang kita taburkan tidak kita tuai. 
Mereka menuai apa yang mereka taburkan. 
Kita adalah budak keuntungan, 
dan mereka adalah anak-anak kecukupan diri. 
Kekeringan kita akan cawan kehidupan bercampur 
dengan kepahitan serta keputus-asaan, 
ketakutan dan keletihan, 
tetapi mereka minum manisnya kepenuhan kehidupan.


~***~




Kota

Wahai penduduk kota yang bising, 
yang hidup dalam kegelapan, 
yang bergegas menuju kenelangsaan, 
yang mengkhotbahkan kepalsuan, 
dan berbicara dengan kebodohan.... 
Sampai kapankah engkau tetap tidak tahu apa-apa? 
Sampai kapankah engkau hidup dalam kotornya kehidupan 
dan terus meninggalkan kebun-kebunnya?

Mengapakah engkau mengenakan jubahmu
yang compang-camping, berupa kepicikan, 
padahal alam telah merancang pakaian 
dari sutera yang indah bagimu?

Pelita hikmat sudah meredup, 
tibalah saat untuk mengisi ulang minyaknya. 
Rumah keberuntungan sejati mulai dihancurkan. 
Tibalah saatnya untuk membangun kembali 
dan menjaganya. 
Pencuri-pencuri berupa ketidaktahuan 
telah mencuri harta berupa kedamaianmu. 
Tibalah saatnya untuk merebutnya kembali

Rabu, 15 Desember 2021

Aku Bicara Perihal Cinta - Kahlil Gibran

  




Aku Bicara Perihal Cinta


Apabila cinta memberi isyarat kepadamu,
ikutilah dia,
walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang yang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya
bisa melukaimu.

Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu
bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau,
demikian pula dia
kan menyalibmu.
Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu,
demikian pula dia ada untuk pemangkasanmu.
Sebagaimana dia mendaki ke puncakmu,
dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut
yang bergetar dalam cahaya matahari.

Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu,
dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka
kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau
pada dirinya sendiri.
Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau
dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.
Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh sang cinta,
supaya bisa kaupahami rahasia hatimu,
dan di dalam pemahaman dia
menjadi sekeping hati kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu,
kau hanya akan mencari kedamaian
dan kenikmatan cinta.
Maka lebih baiklah bagimu,
kalau kau tutupi ketelanjanganmu,
dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.
Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa,
tapi tak seluruh gelak tawamu,
dan menangis,
tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri,
dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki,
pun tiada ingin dimiliki;
karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata,
tuhan ada di dalam hatiku,
tapi sebaliknya,
“aku berada di dalam hati tuhan”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya cinta,
sebab cinta,
pabila dia menilaimu memang pantas,
mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain
kecuali memenuhi dirinya.
Namun pabila kau mencintai dan terpaksa
memiliki berbagai keinginan,
biarlah ini menjadi aneka keinginanmu:
meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali,
yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.
Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tentang cinta;
dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan,
dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;
istirahat di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta
yang meluap-luap;
kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu,
dan sebuah gita puji pada bibirmu

--<<*>>--


Hapus Air Matamu

Hapus air matamu
Aku tak ingin kau menangis lagi sayang
Yakin kan hati
Diriku tak akan memilih meninggalkanmu
Sekian waktu bersama
Tak bisa menepis kenyataan
Kita berbeda jalani keyakinan
Tapi kau yang kuinginkan dari segalanya

Setiap rinduku hanya memanggilmu
Ku yakin kaupun mengerti
Ku tak ingin menanggalkan hati
Yang telah satu untuk dirimu

Sayangku dengarkan aku
Tak mungkin ku melepasmu
Kan kupertahankan. Kau cintaku
Dan semua air matamu kan berarti di hidupku

Bawalah cintaku bersamamu
Karena ku tetap milikmu selamanya
Dan menikahlah denganku
Bahagialah sampai batas waktu 
Tak terhenti
Ku hanya ingin kau jadi istriku
Untukmu satu cinta dihati

--<<*>>--


Kata Selembar Kertas Seputih Salju

Kata selembar kertas seputih salju,
“Aku tercipta secara murni,
karena itu aku akan tetap murni selamanya.
Lebih baik aku dibakar
dan kembali menjadi abu putih
daripada menderita karena tersentuh kegelapan
atau didekati oleh sesuatu yang kotor.”

Tinta botol mendengar kata kertas itu.
Ia tertawa dalam hatinya yang hitam,
tapi tak berani mendekatinya.
Pensil-pensil beraneka warna pun mendengarnya,
dan mereka pun tak pernah mendekatinya.
Dan selembar kertas yang seputih salju itu
tetap suci dan murni
selamanya -suci dan murni- dan kosong.

--<<*>>--



Ku Ingin Tahu Siapa

Dia yang memikat hati
Entah bagaimana caranya
Aku bisa tergoda

Ku curi-curi waktuku
Tuk mengusik hatinya
Banyak cara kucoba
Demi untuk mendapatkan hatinya

Mungkin kau tahu
Tuk mendapatkannya
Tuhan tolonglah aku
Ingin kumenangkan hatinya tuk kumiliki
Jika mungkin kutahu apa yang bisa menaklukannya
Belah dadaku tuk butikan cintaku
Mungkin Engkau tahu aku cinta dia
Ingin ku menangkan hatinya tuk kumiliki
L
Cinta
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Itu karena hal terindah di dunia tidak terlihat

Ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba. karena merekalah 
yang bisa menghargai betapa pentingnya orang 
yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
“aku turut berbahagia untukmu “

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, 
tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, 
melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, 
entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, 
mengerti ketika kamu berkata “aku lupa...”
menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”
tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”
membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata “bolehkah saya masuk?”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

Kadangkala, 
orang yang paling mencintaimu 
adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, 
karena takut kau berpaling dan memberi jarak, 
dan bila suatu saat pergi, 
kau akan menyadari bahwa dia 
adalah cinta yang tak kau sadari

--<<*>>--


Cinta (I)

Lalu berkatalah Almitra, 
bicaralah pada kami perihal Cinta.

Dan dia mengangkat kepalanya dan memandang 
ke arah kumpulan manusia itu, 
dan keheningan menguasai mereka. 
Dan dengan suara lantang dia berkata:
Pabila cinta menggamitmu, ikutlah ia
Walaupun jalan-jalannya sukar dan curam
Pabila ia mengepakkan sayapnya,
Engkau serahkanlah dirimu kepadanya
Walaupun pedang yang tersisip pada sayapnya
akan melukaimu.

Pabila ia berkata-kata
Engkau percayalah kepadanya
walaupun suaranya akan menghancurkan mimpimu
seperti angin utara yang memusnahkan taman-taman
karena sekalipun cinta memahkotai kamu
Ia juga akan mengorbankan kamu
walaupun ia menyuburkan dahan-dahanmu
ia juga akan mematahkan ranting-rantingmu
walaupun ia memanjat dahanmu yang tinggi
dan mengusap ranting-rantingmu yang gementar
dalam remang cahaya matahari ia juga turun ke akar-akarmu
dan menggoncangkannya dari perut bumi

Seperti seberkas jagung
ia akan mengumpulmu untuk dirinya
membantingmu sehingga engkau telanjang
mengayakmu sehingga terpisah kamu dari kulitmu
mengisarmu sehingga engkau menjadi putih bersih
mengulimu agar kamu mudah dibentuk
dan selepas itu membakarmu di atas bara api
agar kamu menjadi sebuku roti yang diberkati
untuk hidangan kenduri Tuhanmu yang suci
Semua ini akan cinta lakukan kepadamu
supaya engkau memahami rahasia hatinya
dan dengan itu menjadi wangi-wangian kehidupan
tetapi seandainya di dalam ketakutanmu
engkau hanya mencari kedamaian dan nikmat cinta
maka lebih baik engkau membalut dirimu
yang telanjang itu
dan beredarlah dari laman cinta yang penuh gelora
ke dunia gersang yang tidak bermusim
di sana engkau akan tertawa tetapi bukan tawamu
dan engkau akan menangis
tetapi bukan dengan air matamu

Cinta tidak memberikan apa-apa melainkan dirinya
dan tidak mengambil apa-apa melainkan dari dirinya
cinta tidak mengawal siapapun
dan cinta tidak boleh dikawal siapapun
karena cinta lengkap dengan sendirinya

Dan pabila engkau bercinta
engkau tidak seharusnya berkata
“kejadian adalah hatiku, 
“sebaliknya berkatalah:
“aku adalah kejadian”

Dan janganlah engkau berpikir
engkau boleh menentukan arus cinta
karena seandainya cinta memberkatimu
ia akan menentukan arah perjalananmu

Cinta tiada nafsu melainkan dirinya
tetapi seandainya kamu bercinta
dan ada nafsu pada cintamu itu
maka biarlah yang berikut ini menjadi nafsumu;
menjadi air batu yang cair
membentuk anak-anak sungai
yang menyanyikan melodi cinta
pada malam yang gelap gelita
untuk mengenal betapa pedihnya kemesraan
untuk merasa luka karena engkau kini mengenali cinta
dan rela serta gembira melihat darah dari lukanya
untuk bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega
dan bersyukur untuk satu hari lagi yang terisi cinta
untuk beristirahat ketika matahari remang
untuk mengingati kemanisan dalam tidurmu berdoalah 
untuk kekasihmu
yang bersemadi di dalam hatimu
dengan lagu syukur pada bibirmu

--<<*>>--


Cinta (II)

Mereka berkata tentang serigala dan tikus
Minum di sungai yang sama
Di mana singa melepas dahaga

Mereka berkata tentang elang dan hering
Menghujam paruhnya ke dalam bangkai yang sama
Dan berdamai –di antara satu sama lain,
Dalam kehadiran bangkai-bangkai mati itu
Oh... Cinta, yang tangan lembutnya
mengekang keinginanku
Meluapkan rasa lapar dan dahaga
akan maruah dan kebanggaan,
Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku
Memakan roti dan meminum anggur
Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku,
Biarkan rasa haus membakarku,
Biarkan aku mati dan binasa,
Sebelum kuangkat tanganku
Untuk cangkir yang tidak kau isi,
Dan mangkuk yang tidak kau berkati

--<<*>>--


Cinta (III)

Kemarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang 
sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia 
yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, 
tubuhnya rapuh wajahnya gelap. 
Sambil mengeluh dia berkata, 
“Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, 
aku mewarisinya dari Manusia Pertama.”

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. 
Dengan suara bagai bernyanyi dia berkata, 
“Cinta adalah sebuah ketetapan hati 
yang ditumbuhkan dariku, 
yang rnenghubungkan masa sekarang 
dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang.’

Seorang wanita dengan wajah melankolis 
menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata, 
‘Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa 
yang menderita di neraka, terbang melayang dan 
berputar-putar menembus langit sampai ia jatuh tertutup embun, 
ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. 
Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, 
diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.’

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri 
dan dengan tersenyum dia berkata, 
‘Cinta itu laksana air pancuran yang
 digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh 
orang-orang yang kuat membuat mereka bangkit dalam doa 
di antara bintang-bintang di malam hari
dan senandung pujian di depan matahari di siang hari.’

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. 
Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, 
dia berkata, ‘Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. 
la bermula dari ujung masa muda 
dan berakhir pada pangkal masa muda.’

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar 
dan dengan bahagia berkata, ‘Cinta adalah pengetahuan 
syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan 
segala sesuatu kepada kita 
seperti para dewa melihatnya.’

Seorang bermata buta menghampiri, 
sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah 
dan dia kemudian berkata sambil menangis, 
‘Cinta adalah kabut tebal 
yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau 
yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya 
yang berkelanadi antara batu karang, 
tuli terhadap suara-suara  dari tangisnya sendiri 
yang bergema di lembah-lembah.’

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar 
menghampiri dan menyanyi, ‘Cinta adalah cahaya ghaib 
yang bersinar dari kedalaman kehidupan 
yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. 
Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah 
arak-arakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. 
Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat 
dari kesadaran dan kesadaran.’

Seorang lelaki dengan badan bongkok 
dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri. 
Dengan suara bergetar, dia berkata, 
‘Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam 
kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam 
kedalaman keabadian.’

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri
dan sambil tertawa dia berkata, 
‘Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. 
Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta.’

Waktu terus berjalan. 
Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat. 
Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri 
tentang cinta. 
Semua menyatakan harapan-harapannya 
dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

--<<*>>--


Cinta Setubuh Padas

Cinta setubuh padas!
Bergelang waktu menggoda
sesal anak rahim di kandung celaka.
Mengunci tabir di buih-buih selaksa doa.
Mungkin karunia itu berakhir patah, atau
sekedar mengusap lempeng cumbu
bertahta angin! Dan cinta kian
menitik air mata di seanyam arang,
mantra hati menyusut di susuk semangat.

“Kembalikanlah amarahku; oh, cermin sangga!”

Lembut suara angannya mengelus padas,
agar memeluk kerat penguak duri
percintaan bersanding ajal.
Keadilan Cinta
ketika hati melangkah, ketika hasrat menggema
ketika rasa bergetar, saat itu daya tak kuasa
menemukan kekasih hati

Dimanakah posisi cinta
dikala hati menginginkannya
apakah cinta hanya sebuah pelampiasan
dari hasrat diri
dimanakah rasa dikala posisi cinta bergeser

Cinta,
adakah cinta untukku
apakah cinta bisa berbuat adil
Entahlah... dayaku tak kuasa lagi 
untuk menemukan cinta

--<<*>>--