Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juni 2023

Resign dari BANK karena Ingin Ampunan Allah


  

 



Tahun 2010 ketika aku bertemu Mas Toro di salah satu bank BUMN terbesar, dia begitu bersemangat.

“Tenang Mas, besok aku mau bikin Dokter Bakso, saya jamin rame... saya pun pengen jadi pengusaha!” katanya.

Aku hanya tersenyum saja.

Waktu berlalu, 4 tahun tak bertemu tiba-tiba aku ketemu Mas Toro di sebuah resepsi pernikahan, wajahnya terlihat begitu cerah. Ketika kutodong mana Dokter Baksonya? Beliau menjawab, “Allah menunjukkan jalan lain yang lebih luar biasa Mas, besok aku ceritakan.”

Baru dua minggu lalu aku ke rumahnya. Saat itu aku begitu tercenung mendengar kisahnya.

“Sudah tiga tahun aku resign dari bank itu Mas, posisi sudah mapan dengan gaji 10 juta perbulan, setahun aku bisa menerima bersih 200 juta termasuk bonus-bonusnya, namun dalam hati terdalam aku gelisah luar biasa, hutangku menumpuk 450 juta, kartu kreditku platinum hutangnya puluhan juta. Dan aku setiap hari berkeliling menawarkan hutang-hutang baru kepada nasabahku. Ada yang mengganjal dalam hatiku ketika membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang riba, ditambah dengan nasabah-nasabahku yang kelimpungan ketika bisnisnya merugi dan tidak bisa membayar cicilan, pihak bank tidak mau tahu dan tetap ditagih untuk membayar.”

Aku terdiam, karena akupun pernah mengalaminya. Ketika jatuh tempo membayar terlewati satu hari saja mereka sudah menelpon dan SMS tiada henti. Risihnya setengah mati. Mereka tidak peduli kalau uangnya masih diputar untuk membeli bahan baku dan operasional sana sini.

Lanjutnya, “Bismillah... aku niatkan pada Allah membersihkan diri Mas, aku resign dari bank di tengah pertentangan kawan dan keluarga, uang pensiunku hangus, aku hanya punya keyakinan... Allah tidak akan ingkar janji.”

Nekat bener orang ini.

“Aku bilang pada istriku Mas, rumah kami akan kujual. Kita ngontrak dulu, kita mundur selangkah untuk melompat maju. Uangnya aku gunakan untuk beli tanah, aku bangun rumah petak dan mulai aku jual. Alhamdulillah langsung laku. Hasil penjualan aku belikan tanah lagi, bangun jual lagi. Begitu seterusnya. Dalam 2 tahun hutangku lunas Mas.. Aku sudah bisa membeli rumah ini cash. Semua hutang kartu kreditku juga lunas.”

Wow... terus?

“Ketika kita yakin seyakin yakinnya dengan kekuasan Allah, kita niat membersihkan diri, jalan akan terbuka luas Mas. Tahun lalu aku membeli tanah di dekat Jogja Expo Center, kudiamkan saja. Aku hanya di rumah, anter anak sekolah. Tiap adzan aku langsung ke mesjid shalat berjamaah. Pokoknya tidak boleh telat... 10 bulan kemudian tanah itu ditawar orang, aku lepas untungnya 900 juta. Sekarang coba Mas, pekerjaan apa yang bisa memberiku gaji sebesar itu dalam 10 bulan? Aku hanya punya keyakinan ingin bebas riba, ikut aturan Allah. Dan sungguh Allah tunjukan jalannya, Allah tidak ingkar janji Mas.”

Obrolan siang itu sudah memecah konsentrasiku, ketika Mas Toro mengantarku ke depan rumahnya, mobil baru sudah ada di sana.

“Empat tahun lalu aku hanya karyawan bank dengan motor, ketika aku manut pada aturan Allah, ternyata benar-benar Allah tunjukkan jalannya. Rumah ini aku beli 500 juta, renovasi sedikit habis 100 juta, sekarang sudah diatas 1 milyar nilainya...”

Lain hari seorang ustadz mengirim capture dari seorang pengusaha di Bogor yang juga melepas aset-asetnya. Dijual demi melunasi hutang, tak peduli lah dengan gaya hidup dan pamer kemewahan kalau itu hanya hasil hutang. Semu dan palsu belaka. Benar kalau ada yang pernah mengingatkan, bisnis itu bukan hanya soal untung rugi, tapi surga atau neraka. Maha Benar Allah dengan segala firmannya. (Sumber: Twitter @Saptuari)


Selasa, 13 Juni 2023

Khusnul Khatimah karena Do’a Orang yang Disakiti.



Di bawah ini kami sampaikan sebuah berita menarik dari beberapa berita yang disampaikan oleh orang Afrika Selatan pada saat mereka keluar di jalan Allah di Makassar beberapa bulan lalu yaitu beliau katakan lewat juru bicaranya : “Bahwa ada seorang Ulama’ besar yang sangat gigih merintangi Jama’ah Tabligh, suatu ketika beliau meninggal dunia. Entah do’a apa yang dipanjatkan kepada Allah SWT oleh Jama’ah Tabligh yang pernah diusirnya itu. Sehingga suatu malam para Ustadz pada bermimpi dengan mimpi yang sama yaitu bertemu dengan arwah ulama tersebut. Singkat cerita beliau katakan : “Bahwa berkat do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang pernah aku usir dulu itu sehingga segala dosaku diampuni oleh Allah SWT, bahkan diriku sempat diperlihatkan oleh Allah untuk masuk ke surga yang tanahnya sangat subur dan luas sekali, tapi anehnya semua tanah telah dikapling-kapling oleh orang-orang yang bersorban dan berjenggot. Demikian berita Gaib dari Arwah Ulama tersebut, sehingga hari berikutnya para Ustadz dan semua santri pada ambil usaha Nubuwah yaitu usaha Dakwah Jumpa Umat yang biasa disebut Jama’ah Tabligh.

Ada lagi berita menarik yang berasal dari Bapak H. Jufri (Kalau tidak salah Bidang Pemerintahan Gubernur Sulawesi Selatan) yang Masjid beliau terletak di Kecamatan Palangga Kabupaten Gowa saat kami bersilaturahim jumpa umat beberapa bulan lalu. Beliau katakan : “Bahwa di luar negeri terutama di negara-negara Non Muslim sangat pesat perkembangan umat islam yang dibawa oleh Jama’ah Tabligh. Bahkan suatu ketika pernah ada seorang mualaf yang menderita sakit lumpuh dan biasanya beri’tikaf di dalam Masjid. Setiap ada orang yang hendak keluar di jalan Allah beliau selalu ucapkan : “Anda sangat beruntung-anda sangat beruntung”. Seraya berlinang air mata. Suatu ketika orang tersebut meninggal dunia tapi anehnya mengapa seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat yang berbau sangat harum sehingga tangan-tangan orang yang memandikan mayat tersebut setelah seminggu masih tercium bau harum (katanya). Percaya atau tidak tentang adanya berita tersebut terserah pada tuan-tuan akan tetapi hal ini boleh ditanyakan Kepada Bapak H. Jufri yang bekerja di kantor Gubernur Sulawesi Selatan dan berita semacam itu juga pernah terjadi di Kabupaten Palopo.


Minggu, 11 Juni 2023

Abu Muslim Al-Turki



Abu Muslim Al-Turki, berasal dari Inggris. Syahid dalam sebuah pertempuran melawan tentara Kroasia di Bosnia pada tahun 1993, pada umur 51 tahun. Kisah dari orang pertama. Abu Muslim adalah seorang muslim keturunan Turki yang dibesarkan di Inggris. Sebelumnya ia menjalani hidupnya bagaikan seorang kafir. Ia menikahi seorang wanita non muslim, begitu pula ia tidak mengerjakan shalat dan menjalankan ibadah lainnya, sampai suatu hari Allah SWT memberikan petunjukNya untuk kembali ke jalan yang benar.

Tak lama kemudian, Abu Muslim mendengar tentang situasi di Bosnia, dan berkata pada dirinya bahwa saya harus berangkat ke Bosnia, saya harus bertaubat pada Allah dan bertempur melawan pasukan Serbia, semoga dengan demikian Allah mengampuni semua yang telah saya lakukan di masa lampau.

Ia tiba di Bosnia pada musim gugur 1992 dan mengikuti training pada sebuah kamp di Mehorich. Abu Muslim adalah orang yang paling tua di antara para mujahidin. Saat mujahidin melakukan lari pagi, mereka semua harus menggenggam sebuah senapan, kecuali Abu Muslim, karena usianya yang tua dan kepayahan fisiknya. Orang yang melihat matanya akan mendapatkan mata seorang yang benar dan jujur kepada Allah. Dalam sebuah operasi melawan pasukan Kroasia, Amir pasukan tidak memilihnya untuk ikut dalam operasi tersebut karena usianya yang tua. Namun Abu Muslim mulai menangis, meraung-meraung bagaikan seorang bayi hingga Amir pasukan terpaksa memasukkannya untuk ambil bagian dalam operasi tersebut.

Dalam operasi tersebut Abu Muslim tertembak di lengannya hingga menghancurkan tulangnya dan sebatang logam harus ditanamkan di lengannya selama enam bulan. Abu Muslim rajin melatih lengannya, dan setelah 45 hari dokter mengatakan bahwa logam tersebut sudah dapat diambil dari tangannya. Semua orang terkejut mendengar kabar tersebut.

Sebelum dilakukan sebuah operasi besar terhadap pasukan Kroasia, Abu Muslim mendapat mimpi, di mana ia melihat Rasulullah SAW dan mencium kakinya. Kemudian Rasulullah SAW berkata padanya, “Janganlah kau cium kakiku.” Kemudian Abu Muslim mencium tangan Rasulullah SAW, hingga Rasulullah berkata padanya, “Jangan kau cium tanganku.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya padanya, “Apa yang kamu inginkan hai Abu Muslim?”

Abu Muslim menjawab, “Ya Rasulullah, berdoalah pada Allah untukku, agar dalam operasi besok saya mati syahid.”

Sebelum operasi tersebut dijalankan, Amir pasukan, yaitu Komandan Abul Haris memilih personil yang akan ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia menolak Abu Muslim untuk ikut, karena masih terluka dan belum pulih.

Seorang mujahid yang hadir saat itu berkata, “Aku bersumpah pada Allah bahwa Abu Muslim mulai menangis seperti bayi dan berkata pada Amir, ‘Takutlah pada Allah! Abul Haris, saya akan menuntutmu di hari Kiamat jika engkau tidak mengikutkanku dalam operasi ini.”

Saat komandan Abul Haris menyuruhnya untuk tidak berteriak karena kuatir didengar musuh, Abu Muslim menjawab, ”Demi Allah, jika engkau tidak memilih saya dalam operasi ini Abul Haris, saya akan menangis keras hingga terdengar ke seluruh negeri.” Lalu ia berkata, “Ikutkan saya dalam operasi ini di mana saja, meskipun sebagai orang yang paling belakang, ikutkanlah saya dalam operasi ini.”

Akhirnya Abu Muslim diikutkan dalam operasi ini di posisi belakang. Namun jalannya pertempuran berubah, hingga barisan belakang menjadi barisan depan (berhadapan dengan musuh – penerjemah) dan barisan depan menjadi barisan belakang. Abu Muslim menjadi mujahid kedua yang syahid dalam operasi itu oleh sebuah peluru yang mengenai dadanya.

Tubuhnya baru dikembalikan oleh pasukan Kroasia  setelah tiga bulan, bersama tubuh saudara senegaranya Daud al-Britany. Sebuah aroma wangi tercium dari tubuhnya yang tampak tidak berubah meskipun tiga bulan telah berlalu. Semua orang yang menyaksikannya mengatakan bahwa tubuhnya menjadi lebih tampan dan tampak lebih putih daripada ketika terakhir kalinya mereka melihat Abu Muslim.

Seorang mujahid bertutur bahwa dari semua jenazah para syuhada yang pernah dilihatnya di Bosnia, tidak ada yang lebih tampan daripada jenazah Abu Muslim at-Turki. “Barangsiapa yang menderita suatu luka dalam jihad fi sabilillah, kelak ia akan datang pada hari kiamat, baunya seperti bau harum minyak kesturi, dan warnanya seperti warna za’faron, ada ada cap syuhada’ padanya. Barangsiapa yang meminta syahadah dengan tulus, maka Allah akan memberikan padanya pahala orang yang mati syahid meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.“ (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al Hakim)

 

Rabu, 07 Juni 2023

Sebuah Teguran

Rindu Masa Lalu Bersama Tuhan.




Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang  menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :

"Alangkah sabarnya mereka, setiap hari begitu, benar-benar mengherankan! "Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah. Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian, banyak waktu luang, pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh, tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah... Laailaaha Illallaah..." perintah temanku.

Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat. Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.  Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi, keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya, suara lagunya terdengar semakin melemah, lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.  Tak ada gerak, keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening, kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk.”

Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. "Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan!. 

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu, sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an... dengan suara amat lemah.

"Subhanallah! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu. Apalagi aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.

Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. 

Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. Sampai di rumah sakit, kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Selasa, 06 Juni 2023

Cepat Pulih Pasca Operasi (Asep Mulyana - Pengusaha)

 Cepat Pulih Pasca Operasi (Asep Mulyana - Pengusaha)




Saya merasakan adanya percepatan pemulihan kesehatan saya pascaoperasi otak/kepala karena kecelakaan yang menimpa saya sekeluarga di Ciamis, pada hari Natal 25 Desember 2010 lalu. Seminggu setelah operasi otak/kepala itu, saya bahkan masih belum mampu untuk duduk tegak karena kepala rasanya pusing sekali dan badan terasa sangat sakit. Bicara pun masih belum jelas. 

Selama 11 hari di RS Hasan Sadikin (RSHS) (25 Desember 2010-4 Januari 2011) dan 7 hari (4 Januari 2011-11 Januari 2011) di rumah kakak sepupu saya di Bandung (sepulang dari RSHS), saya tidak bisa berjalan dengan baik karena kepala terasa sangat pusing dan harus berpegangan untuk dapat berjalan.

Kini, bahkan saya sudah bisa berlari pagi (aktivitas ini saya hentikan karena kata tetangga saya yang dokter, saya disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan guncangan di kepala/otak seperti lari pagi/jogging). Saya juga telah menikmati penglihatan yang lebih baik karena mata kanan saya yang sebulan lalu tidak bisa dibuka (karena rusak saraf-saraf penggeraknya dan lemah sekali retinanya) sekarang sudah bisa dibuka meski penglihatan belum normal sepenuhnya (penglihatan masih membayang dua kalau melihat ke arah bawah). 

Saya merasakan terjadinya percepatan pemulihan kesehatan saya dari hari ke hari. Hari Minggu, pada tanggal 9 Februari, saya bahkan dapat bepergian dari Banjar ke Jogja dengan naik bis umum ditemani istri saya untuk mengurus kuliah yang sedang saya tekuni. Perjalanan itu berjalan sangat lancar. Pada Minggu, 20 Februari 2011, saya mengikuti gerak jalan santai dalam rangka HUT Banjar ke-8 yang berjarak beberapa kilometer.

Seorang dokter kenalan saya di Banjar menyatakan kekagetannya melihat percepatan pemulihan saya. Dia mengira saya sudah lama dioperasi–berbulan-bulan yang lalu–padahal rentang waktu antara saya dioperasi dan waktu ketika bertemu dokter tersebut hanya 1,5 bulan. “Wah, baru 1,5 bulan lalu? Cepat juga pemulihannya ya!” ujar dokter itu. 

Apa yang membuat percepatan pemulihan saya tersebut? Saya melakukan beberapa treatment, yaitu:

1.  Menetapkan keyakinan di dalam pikiran dan hati saya bahwa saya akan sehat, sembuh total-permanen, dengan kondisi yang jauh lebih baik dan lebih sempurna daripada sebelum kecelakaan terjadi, dengan mudah, murah, dan cepat. Saya membayangkan Gusti Allah—melalui kecelakaan maut dan operasi bedah di kepala/otak itu—sedang meng-upgrade diri saya, sehingga apapun yang terjadisaat ini saya mengimani bahwa Tuhan sesungguhnya sedang “memperbaiki” diri saya.

2.  Berikhtiar dengan berbagai cara, mulai dari upaya medis maupun nonmedis. Untuk upaya medis, saya tetap melakukan kontrol ke dokter bedah saraf RSHS Bandung dan lalu ke dokter mata di RS mata Cicendo Bandung. Saya lakukan itu meskipun jarak Banjar-Bandung cukup jauh, kira-kira ditempuh selama 5 jam dengan naik bis umum. Saya menuruti semua nasihat dokter, baik dokter bedah saraf maupun dokter mata, termasuk mengonsumsi obat yang diresepkan. Upaya nonmedis saya coba dengan pijat oleh ahli pijat saraf di kampung istri saya di Ciamis. Saya saat ini menjalani terapi makanan yang disarankan ahli pijat saraf yang menangani saya, diantaranya meminum jus wortel, jus apel, jus melon, jus pepaya mentah, air godokan 5 macam rempah-rempah/herbal setiap hari, serta menetesi mata kanan saya yang belum normal dengan air biji kelor setiap malam sebelum tidur. Saya juga mengonsumsi bekatul beras merah dan beras merah yang mengandung vitamin B15 setiap hari, seperti dianjurkan dokter mata di RS Mata Cicendo Bandung.

3.  Menenangkan hati dengan beribadah kepada Allah SWT: mendirikan shalat diantaranya merutinkan shalat Dhuha, berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berpuasa Nabi Daud AS.

Sejak sebulan lalu setibanya saya di rumah saya di Kota Banjar pada 11 Januari 2011, saya mulai tepat waktu menunaikan shalat fardhu 5 waktu dan tertib menunaikan shalat sunnah qobliyah dan sunnah ba’diyah. Dan sejak seminggu lalu saya mendirikan shalat fardhu secara berjamaah di masjid dekat rumah (untuk shalat subuh, magrib, dan isya). Saya juga selalu bangun di sepertiga malam terakhir, lalu menunaikan shalat sunnah Tahajud. Pada pagi hari saya mendirikan shalat sunnah Dhuha.

“Demikianlah, shalat sunnah Dhuha membuat hati dan jiwa saya tenang. Ketenangan hati dan jiwa saya itulah yang, saya yakini, menjadi faktor kunci percepatan pemulihan kesehatan saya.”

Bukan itu saja! Kini saya merasa diri saya mengalami upgrade. Saya merasa Allah telah meningkatkan derajat kemanusiaan saya. Ya, ini bukan Asep yang dulu. Saya merasa menjadi Manusia Baru yang lebih baik dan lebih sempurna daripada Asep yang dulu. Sungguh, Allah telah membedah dan membersihkan otak/kepala saya (melalui tangan-tangan dokter), menjadikan saya sebagai Manusia Baru.

Saya merasa seperti bayi yang baru keluar dari kandungan ibunya. Saya seperti dilahirkan kembali dengan pandangan, pendengaran, pikiran, perasaan, dan kesadaran yang sama sekali baru dan terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Ibadah saya kepada Allah makin meningkat, kian ketat dan disiplin. Hati saya pun makin lembut. Saat ini kalau saya mendengar ada orang yang sakit atau sedang dalam keadaan susah, saya ingin segera menjenguk dan membantu kesulitannya. Saya pun makin optimis, positif, ikhlas, sabar, dan tawakal menjalani hidup ini.

Alhamdulillah, segala puji dan puja hanya untuk Engkau, ya Allah.

Senin, 29 Mei 2023

Mualaf Terjerat Rentenir Ratusan Juta



Ia kini tinggal di sebuah perumahan Griya Timur daerah Bekasi. Ia menempati sebuah rumah yang notabenenya adalah milik sendiri, bagi sebagian orang, kehidupan seperti ini dibilang sudah mapan dan nyaman. Namun, tidak begitu halnya dengan Bu Diana, seorang wanita yang harus selalu merasakan ketakutan dan ketidaktenangan, karena setiap hari dia harus berhadapan dengan banyak rentenir. Bu Diana menceritakan ia kini punya hutang kepada 21 rentenir. Dan ia harus menghadapinya seorang diri.

Kisah Bu Diana terjerat rentenir berawal ketika beliau berpisah (cerai) dengan suaminya beberapa tahun silam. Sejak saat itu pula, mau tidak mau, ia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup. Akhirnya ia memutuskan untuk meminjam uang kepada salah seorang lintah darat yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahnya. Ia berharap dengan uang pinjaman yang sedikit itu, yaitu sekitar 6 juta, ia bisa memulai usaha kecil-kecilan untuk menghidupi diri dan anaknya.

Usaha warung mulai berjalan, namun setiap bulan, Bu Diana harus membayar bunga pinjaman sebesar 1,2 juta. Padahal keuntungan warung tidak seberapa. Belum lagi, untuk makan dan keperluan lainnya.

Sekitar 3 tahun, ia rutin membayar bunga, dan belum lunas juga. Total yang ia sudah keluarkan 43 juta. Padahal hutang pokoknya hanya 6 juta rupiah. Pada suatu ketika ia terlambat membayar bunga pinjaman, enam bulan ia menunggak, ia selalu ditagih, didesak bahkan tak jarang kata-kata kasar dan ancaman harus ia terima.

Dalam keadaan seperti itu, wanita ini berusaha untuk tetap menguatkan diri, namun sekuat-kuatnya wanita, pasti ada titik dimana ia merasakan jatuh mental juga. Ia ke sana kemari mencari pinjaman. Akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa memberikannya pinjaman 10 juta. Tapi syaratnya tiap bulan ia harus membayar bunga sebesar 2 juta rupiah. Tidak berpikir banyak dan panjang lagi, karena sudah tidak enak ditagih terus, akhirnya beliau menyanggupi permintaan salah seorang temannya yang sama-sama mengajar di sebuah SMA, kebetulan Bu Diana juga bekerja sebagai guru bantu disitu.

Uang 10 juta yang diterima, sebagian besar digunakan untuk membayar hutang kepada pihak peminjam pertama tadi. Sisanya ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan.

Ketenangan batin yang ia idamkan setelah melunasi tunggakan bunga, tidak berjalan lama, kini ia punya tanggungan untuk membayar hutang pokok beserta bunganya kepada 2 orang. Padahal penghasilannya bahkan untuk mencukupi kebutuhan tiap harinya saja susah.

Ia berpikir keras, agar ia selalu bisa membayar rutin hutangnya. Tiap bulan tak kurang dari 3,2 juta ia harus keluarkan dari dompetnya untuk membayar hutang tersebut. Akhirnya lewat seorang tetangganya ia dikenalkan kepada rentenir yang bekerja di sebuah koperasi palsu.

Gali lubang tutup lubang, begitulah pekerjaan rutin Bu Diana, untuk menenangkan batinnya. Menutup satu tempat lewat tempat yang lain. Awalnya ia terjerat 1 rentenir dan pada saat cerita ini ditulis ia sudah terjerat sekitar 21 rentenir. Hutang di tiap rentenir jutaan rupiah. Bukannya tenang bahkan ia hampir gila karenanya.

“Awalnya saya berharap bisa tenang, tapi yang terjadi malah sebaliknya Mas. Saya bahkan hampir gila. Tidur, makan saja tidak nyaman karena kepikiran dengan hutang terus,” ungkap Bu Diana.

Sudah tidak asing lagi bahwa para rentenir yang beroperasi di balik wadah koperasi simpan-pinjam abal-abal ini memiliki trik-trik khusus untuk menjerat para korban. Terutama yang menjadi korban adalah ibu-ibu rumah tangga. Hampir semuanya meminjam tanpa sepengetahuan suami. Selain itu mereka memiliki suatu sistem permainan angka, dimana hutang yang awalnya kecil bisa membengkak luar biasa. Bahkan mereka sering mengancam bila setorannya macet.

Dalam keadaan kebingungan tanpa arah dan sandaran seperti ini, ia selalu bermunajat kepada Allah. Ia berdo’a agar Allah memberikan jalan keluar baginya.

Pernah juga ia ditawari, keluarganya siap melunasi semua hutangnya. Namun dengan syarat ia harus kembali ke agama awalnya, yaitu Nasrani. Namun Bu Diana menolak. Ia tidak mau kembali kepada agamanya yang dulu. Keyakinannya terhadap islam sudah final. Meski dari semenjak menjadi mualaf tahun 1996, ia belum mendapatkan tarbiyah intens dan terkontrol. Bahkan untuk shalat saja, ia belajar dari anaknya.

Ia tidak pernah lelah untuk terus berdoa, dan di saat kebimbangan seperti ini, Allah menunjukkan hidayah, Allah tuntun wanita ini datang ke kantor Gerakan Anti Rentenir (GAR).

Akhirnya, wanita yang berusia 46 tahun ini sudah taubat dari muamalah ribawi. Dan beliau tidak mau lagi untuk membayar bunga-bunga yang haram itu dari semua pinjamannya. Didampingi GAR, ia kini sedang dalam penyelesaian pelunasan hutang pokoknya saja. Bahkan di depan rumahnya kini dipasang banner GAR, bertuliskan “Rumah ini dalam pengawasan GAR.” Dimaksudkan agar tidak lagi para rentenir itu mengganggu.

Bu Diana, sekarang bisa menjadi sedikit tenang, karena tidak ada lagi kata-kata kasar yang ia harus dengar, tidak ada lagi ancaman. Dan hutang yang wajib ia bayarkan tak sebesar dulu lagi. Yang lebih ia syukuri adalah ia merasakan indahnya persaudaraan sesama muslim. Orang yang tidak kenal sekalipun, karena aqidahnya sama, mereka bersedia membantu. Tanpa pamrih dan imbalan jasa sekalipun. Hanya mengharap pahala dan balasan dari Allah subhanahu wa ta’ala. (Sumber: http://panjimas.com)


Selasa, 23 Mei 2023

Sembuh dari Kanker Hati (Dahlan Iskan - Mantan pemimpin Jawa Pos Group)

Sembuh dari Kanker Hati (Dahlan Iskan - Mantan pemimpin Jawa Pos Group)





Vonis kanker hati yang dialaminya beberapa tahun silam diterimanya dengan ikhlas. Operasi cangkok hati pun berjalan sukses. Secara materi, Dahlan Iskan sangat kecukupan, bahkan bergelimang harta. Tetapi kalau diberikan sakit, siapa yang bisa menolaknya. Saat itu usia Dahlan menginjak 56 tahun. Sebagai pebisnis sekaligus pemimpin media Jawa Pos Group —salah satu media besar di Indonesia khususnya di Jawa Timur— ia terbiasa melakukan perjalanan bisnis yang panjang.

Seperti biasanya, Dahlan menjalani kehidupannya dengan optimis. Hingga sampailah waktu dimana cobaan besar itu tiba. Saat itu, setelah melakukan perjalanan bisnis panjang dari Cina hingga Ambon, entah mengapa tiba-tiba ia mengalami muntah darah ketika tiba di rumahnya, Surabaya. 

la Iangsung melakukan pengecekan kepada seorang dokter. Dokter mengatakan livernya telah sirosis. Bahkan hati yang rusak itu telah dipenuhi kanker. Inilah cobaan berat yang dialaminya dan tak pernah dibayangkannya. Sakit datang tiba-tiba dan tak terduga.

Dokter pun langsung menyarankan untuk segera melakukan transplantasi hati dalam waktu kurang lebih enam bulan. Jika tidak, maka nyawanya tidak akan tertolong. “Dokter memvonis umur saya tinggal enam bulan lagi...” tutur Dahlan Iskan.

“Alhamdulillah... saya bersyukur tidak punya perasaan seperti itu. Begitu dokter mengatakan sirosis dan kanker serta usia tak lebih dari enam bulan, saya menerimanya dengan ikhlas...” ujarnya.

Maha Suci Allah SWT, yang di tangan-Nya nyawa setiap orang. Kepada-Nya pula setiap makhluk akan kembali. Vonis dokter ini cukup mengagetkannya. Namun itu hanya sementara. Sikapnya tak seperti kebanyakan orang yang cemas dan ketakutan setelah mendengar vonis mematikan itu. Apalagi Rektor Universitas Paramadina —Nurcholis Madjid— gagal setelah melakukan transplantasi hati. Usianya tak panjang setelah operasi. 

Ketegaran menerima ujian itulah yang ditunjukkan Dahlan. Namun, ketabahan itu tidak jatuh dari langit. Sikap itu terpupuk sejak ia masih belia, terutama dalam kehidupan keluarga. Sejak kecil ayahnya telah mengajari Dahlan arti sebuah keikhlasan, kesabaran, dan kepasrahan menerima apa adanya yang datang dari-Nya. Ayah Dahlan adalah seorang ahli dzikir. Segala beban hidup diterimanya dengan ikhlas. Tak bosan-bosan ia pun mengajarkan dan meminta kepada anak-anaknya agar hidup dengan ikhlas. la merasa ajaran ikhlas dari bapaknya cukup tertanam. Bapaknya seorang pembelajar ikhlas yang luar biasa.

Raut wajah pria yang dikenal pekerja keras ini sama sekali tak berubah mendengar vonis dokter. Denyut jantungnya pun bergerak normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, vonis dokter tersebut tidak main-main. Meramal usianya yang tak kurang dari enam bulan. Sebagai orang beriman atau beragama, Dahlan menerima vonis itu dengan ikhlas, pasrah, dan tawakkal. 

Dalam hatinya sama sekali tidak terbesit rasa takut, dengan keteguhan hati, Dahlan menerima vonis mematikan tersebut. Lebih-lebih rekam jejak keluarganya yang tak berumur panjang. Ibu, kakak, dan pamannya meninggal dunia dalam usia relatif muda, antara 30-34 tahun.

“Saya berpikir umur saya tidak panjang, seperti ibu, kakak, dan paman saya...” tandasnya.

Persoalan selesai? Ternyata tidak. Ikhlas menerima vonis berat itu, ternyata tak lantas membuat persoalan selesai. Kali ini soal negara tempat untuk melakukan transplantasi. Saat itu ada beberapa tujuan negara yang menjadi pilihan, antara lain Australia, Jepang, Singapura, dan AS.

Kala itu Dahlan belum mempertimbangkan RRC. Namun masing-masing negara punya plus-minusnya. Australia misalnya, meskipun rumah sakit disana terkenal, namun orang yang mau cangkok hati juga tidak banyak. Sementara yang mendonorkan hati jumlahnya terbatas. Hal serupa juga terjadi di AS.

Dahlan kemudian mempertimbangkan Jepang, Negeri Sakura. Namun ia merasa kesulitan bahasa mengingat bahasa Inggris orang Jepang agak berbeda dengan lainnya. Selain itu, persediaan hati disana jumlahnya terbatas. Negara lainnya adalah Singapura. Tapi negara ini belum memiliki pengalaman banyak untuk transplantasi hati.

Ternyata tak mudah untuk memilih. Apalagi waktu terus berjalan. Waktu yang ada tidak dapat diperlambat, apalagi ditunda walau sedetik. Terngiang-ngiang di pikirannya apakah waktu enam bulan akan terpenuhi?

Berusaha dan terus berusaha itulah yang dilakukan Dahlan Iskan. Sikap putus asa telah lama dibuang jauh dari dirinya. Kapan dan dimana pun, ia akan tetap tegar dan berusaha keras hingga ajal menjemput. Itulah mungkin jawaban kenapa ia dapat meraih kesuksesan saat ini.

Allah Maha Penyayang. Usaha keras tersebut membuahkan hasil. Atas saran seorang teman, akhirnya ia memilih operasi cangkok hati di salah satu rumah sakit terkenal di Cina, Negeri Komunis. Persoalan kembali melilitnya. Rumah sakit RRC ternyata mengalami kesulitan mencari donor hati. Hingga saat itu, belum ada orang yang mau mendonorkan hatinya untuk Dahlan.

Waktu terus berjalan, tanpa ada orang yang mampu menghentikannya. Tak terasa waktu telah memasuki bulan keempat, namun ia belum juga mendapatkan donor hati. Rasa cemas menghinggapi dirinya. Apalagi waktu yang tersedia hanya tinggal dua bulan. 

Usaha keras terus dilakukan dan do’a terus dipanjatkan. Karena belum ada kepastian donor hati, dokter menyarankan untuk membunuh kanker dengan cara tertentu dan memotong limpanya. Ini dilakukan untuk mengulur-ulur waktu hingga tersedia donor hati baginya. 

Dahlan lalu teringat pesan ajaran Islam bahwa Allah SWT, tidak akan menguji hamba-Nya dengan ujian yang tidak sanggup dipikulnya. Segala ujian yang Allah berikan, insyaAllah akan sanggup dipikul hamba-Nya.

Dengan pertimbangan matang, akhirnya ia menerima saran dokter rumah sakit RRC untuk memotong limpa. Alhamdulillah, operasi pemotongan limpa berjalan lancar. Namun sekali lagi ini adalah usaha untuk mengulur-ulur waktu sampai tersedia donor hati untuknya. Bagaimana dengan cangkok hati, belum ada jawaban. 

Di tengah-tengah masa penantian, sering di tengah sepinya malam, Dahlan meneteskan airmata dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena memiliki isteri yang setia.

Saat waktu luang, isterinya tak pernah lupa membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an dan membacakan ayat-ayat Allah di sampingnya. Saat semua orang tengah lelap dalam tidurnya, sang isteri terbangun mengambil air wudhu kemudian bersujud sambil tak henti-hentinya berdo’a dan bermunajat di saat Tahajud kepada Allah demi keselamatan sang suami terkasih.

Sang isteri yakin bahwa shalat malam merupakan cara yang tepat baginya untuk berdo’a kepada Allah agar cobaan sakit yang dialami sang suami lekas sembuh.

Allah SWT mendengar do’a hamba-Nya. Tak lama setelah itu, dokter mengabarkan telah mendapatkan donor hati dan operasi cangkok hati Dahlan siap dilakukan. Usai operasi, dokter menyatakan operasi berjalan sukses. Alhamdulillah, airmata menetes sebagai tanda syukur atas karunia-Nya. 


Sabtu, 20 Mei 2023

Kisah Mati Suri.

Kisah Mati Suri.



Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia. Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia. 

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. 

“Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. “Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, “ ungkapnya. 

“Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur.” “Saya telah merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. “Terasa malaikat mencabut nyawa dari kaki kanan saya,” tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. “Saat di ujung napas, saya berzikir,” ujarnya. 

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. “Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina menceritakan pengalaman matinya. 

Lalu malaikat itu bertanya: ”siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu. “ Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. “Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya  berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut. 

Aslina melanjutkan. “Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan “Ayah”. “Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: “Wahai ayah, janji saya telah sampai. “Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. “Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. ” Ruh Aslina pun menjawab. “Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. “Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, di sebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. “Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab. “Akulah (amal) kamu.”

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. “Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. 

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. 

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah,  alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di  lehernya.  Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar ka’bah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. 

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. “Saya mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. “Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak “husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil.

Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. “Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.”

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. “Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. “Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. 


Kamis, 18 Mei 2023

Istrinya Diberi Kemudahan Dalam Melahirkan (Syamsul - Karyawan)

 Kemudahan Dalam Melahirkan (Syamsul - Karyawan)




Cerita ini adalah kisah nyata yang dialami oleh Syamsul. Beliau mempunyai seorang isteri dan baru saja mempunyai seorang anak. Dua minggu sebelum kelahiran anaknya, Syamsul mengadu ke ustadz kami, mengutarakan masalah yang diderita isterinya. Posisi bayi dalam kandungan isterinya terbalik, sehingga pada saat lahir nanti harus lewat operasi caesar. Tentu saja operasi lewat caesar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Syamsul berharap ustadz kami dapat membantu memberikan bantuan untuk biaya caesar tersebut.

Ustadz kami yang sudah sangat berpengalaman menghadapi masalah finansial yang dihadapi oleh mad’u (murid-muridnya), rekan-rekannya dan tetanga-tetangganya bersikap sangat tenang.

“Jangankan antum yang masih punya waktu dua minggu, dalam waktu 1×24 jam saja Allah mampu membalikkan apa yang manusia tidak mampu melakukannya. Antum jangan menempatkan saya di garis depan. Jadikanlah Allah di garis depan. Mintalah pertolongan Allah. Kalau antum mau meminta, Allah pasti mengabulkan. Kuncinya adalah shalat tahajjud (qiyamullail). Qiyamullail itu kondisi dimana Allah tidak akan menolak permintaan hambanya.”

Nasihat ustadz kami ini seringkali diulang setiap halaqoh. Beliau banyak mencontohkan hal-hal yang tidak masuk akal yang dialaminya. Sampai akhirnya minggu kemarin, ustadz bertemu Syamsul saat halaqoh.

“Gimana kabarnya?” sapa ustadz saat bersalaman dengan Syamsul.

“Alhamdulillah, sehat Ustadz,” jawab Syamsul.

“Gimana isterinya? Sudah melahirkan?”

“Alhamdulillah Ustadz, sudah kemarin di rumah sakit.”

“Gak pake caesar, kan?”

“Alhamdulillah Ustadz, bisa lahir normal.”

“Nah bener kan, Tahajudnya berapa kali?”

“Setiap malam Ustadz.”

“Alhaamdulillah... selamat ya... Memang Tahajud itu bisa merubah apa yang tidak bisa dirubah oleh manusia.”

“Benar sekali Ustadz, dokter juga sampai kaget. Kok bisa? Wah ini bisa lahir tanpa caesar. Gitu katanya. Sehari sebelum melahirkan saya bawa ke dokter tempat biasa isteri periksa. Dokter kaget dan terheran-heran, kok bisa poisisnya berubah 180-360 derajat. Entahlah berapa derajat yang jelas waktu dicek dokter menyatakan bisa lahir normal. Pada saat ketuban pecah saya telpon dokter... dokter langsung menyuruh di bawah ke rumah sakit saja. Langsung saat itu saya bawa ke rumah sakit dan pada bukaan ke empat sudah dirangsang agar bayinya keluar. Tapi belum keluar juga. Sama dokter disuruh jalan-jalan dulu. Saya bawa isteri jalan-jalan. Setelah bukaan ke sepuluh isteri saya kesulitan melahirkan. Dokter rumah sakit mengatakan jika lima menit lagi tidak lahir juga, mau tidak mau harus operasi caesar, karena jika tidak, akan membahayakan janin. Saya terus membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Kebetulan saya hafal surat Alwaqiah, (sebelumnya Ustadz menganjurkan memperbanyak membaca Surat Alwaqiah-red). Alhamdulillah, saya ulang-ulang terus. Tepat pada menit kelima, saat itu adzan Zhuhur, entah sedang bunyi hayya’alasshalah entah hayya’alal falah... saya nggak ingat persis, soalnya udah nggak konsentrasi lagi. Alhamdulillah isteri bisa melahirkan. Pas jam 12.25....”

“Ya begitu. Allah sering memberikan pertolongan pada saat-saat kritis. Ibaratnya penalti...” kata ustadz.

“Benar sekali Ustadz,” kata Syamsul.

“Kalau kita sudah berusaha dan meminta sedemikian rupa namun tidak dikabulkan juga, berarti ada hikmah di balik itu. Mungkin Allah sedang menguji kita atau justru sedang menegur kita,” terang ustadz.


Jumat, 12 Mei 2023

Kombinasi Ampuh Sedekah, Tahajud, dan Dhuha



Setyawan adalah seorang kontraktor yang sukses, pemilik usaha cuci mobil, dan seorang pewaralaba toko retail terkenal.

Mulai dari tahun 2008 hingga 2011 perkembangan usahanya sangatlah pesat. Bahkan terhitung luar biasa. Hingga pada akhirnya timbul keinginan untuk ekspansi ke bisnis baru yang lebih besar dari yang ada saat ini dan memutuskan untuk bekerjasama dengan partner barunya.

Namun dalam perjalanan bisnis barunya itu, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Mitra bisnisnya mengkhianati dan menipu Setyawan. Sehingga membuatnya bangkrut, bahkan usaha-usahanya yang lain ikut hancur-hancuran. Asset yang dia bangun bertahun-tahun, habis, bahkan meninggalkan hutang hingga 4 milyar. Setyawan harus menanggung beban hutang di bank yang digunakan untuk menambah modal usaha di awal-awal merintis dulu.

Nah, di sinilah awal dari kisah keajaiban yang dia alami. Dalam kondisi bangkrut dan habis-habisan Setyawan tetap berpikir positif, tidak menyendiri dan semangat untuk bangkit sangat besar.

Setyawan lalu mencari referensi cara mengatasi kebangkrutannya dalam kondisi habis-habisan saat itu. Setyawan mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mohon maaf kepada Allah dan orang tua dengan rendah hati atas semua kesalahan, kelalaian, dan kesombongannya saat berada di atas. Bahkan bersimpuh di kaki orang tua pada saat minta maaf pun dilakukannya.
  2. Silaturahmi ke para sahabat, khususnya yang pernah disakitinya. Minta maaf, minta motivasi dan minta saran maupun solusi agar bisa keluar dari kebangkrutan. Temannya merekomendasikan untuk merutinkan shalat Dhuha, sedekah, dan Tahajud.
  3. Setyawan pun kemudian melakukan aksi yang diluar batas yaitu: Menyedekahkan semua asset yang ada, kecuali yang untuk bertahan hidup dan untuk keperluan sehari-hari menafkahi anak-istri.
  4. Merutinkan shalat Dhuha 4 rakaat, 2 rakaat tiap kali salam.
  5. Merutinkan shalat Tahajud.

Dengan sabar dan penuh semangat Setyawan melakukan kelima langkah tadi, dan perlahan Allah mulai mengabulkan doa-doanya. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, Setyawan sudah bisa menyelesaikan beban hutangnya. Mulai tahun ketiga Setyawan sudah mulai surplus dan tahun berikutnya surplus hingga ratusan juta. Dengan keuntungan yang begitu banyak itu setyawan menjadi sangat kaya, sehingga tanpa menunggu lama ia segera membawa istri, anak dan seluruh keluarganya ke Tanah Suci untuk umroh dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. 

Belajar dari pengalaman tersebut, mulai kini Setyawan selalu berusaha untuk merutinkan sedekah, shalat Dhuha, dan shalat Tahajud. Dan tentu saja tidak lupa untuk selalu berdo’a. 

Kamis, 11 Mei 2023

Sakit Mata Sembuh Berkat Tahajud (Shalihin - Karyawan)



Saya punya beberapa pengalaman dalam melakukan shalat malam atau Tahajud untuk mengatasi beberapa masalah yang pernah saya alami. Antara lain pengalaman saya ketika anak pertama saya yang masih berumur 6 bulan mengalami sakit mata. Sudah lebih 3 bulan mata kanan anak saya selalu berair dan airnya meleleh di pipi hingga menimbulkan iritasi. 

Saya membawa anak saya ke dokter Gantira, seorang dokter ahli mata di Bandung. Ia menjelaskan bahwa saluran pembuangan air mata anak saya dari mata ke tenggorokan yang hanya sebesar rambut mengalami penyumbatan. Saluran itu harus dibuka dengan melakukan operasi. 

Namun karena anak saya masih berumur 6 bulan ia menyarankan saya untuk konsultasi dahulu pada ahli anastesi, apakah anak saya bisa dianastesi untuk melakukan operasi mata. Saya dan isteri saya sangat terpukul mendengar keterangan dokter tersebut. Saya sedih dan cemas, mengapa anak saya yang masih kecil itu harus menjalani operasi mata. 

Saya minta tolong pada dokter ahli mata tersebut untuk sementara memberi obat apa saja yang dapat meringan kan iritasi pada matanya. Dokter memberi salep mata yang harus diberikan 2 kali sehari. Kami pulang dengan hati gundah. Isteri saya selalu menangis mengkhawatirkan keadaan anak kami. Kami sangat cemas kalau mata anak kami harus dioperasi. Berbagai angan-angan buruk menghantui pikiran kami. 

Saya bertekad untuk melakukan shalat malam atau Tahajud mohon pada Allah agar mata anak saya disembuhkan. Saya bangun sebelum shalat subuh sekitar jam 3.30. Salep mata yang saya dapatkan dari dokter saya letakan di atas sajadah tempat saya sujud. Saya lakukan shalat Tahajud 2 raka’at kemudian saya berdo’a agar salep mata yang diberikan dokter kepada kami diberi kekuatan untuk menyembuhkan mata anak kami. Saya lakukan shalat 2 raka’at sebanyak empat kali dan ditutup dengan shalat witir 3 raka’at, sehinggal total semua menjadi 11 raka’at. Diantara masing masing shalat 2 raka’at itu saya berdo’a mohon agar salep yang diberikan dokter itu mempunyai khasiat untuk meyembuhkan mata anak kami.

Saya lakukan shalat Tahajud setiap malam, berdo’a penuh pengharapan pada Allah agar mata anak saya disembuhkan kembali. Sesuai saran dokter salep mata itu kami berikan 2 kali sehari, waktu pagi dan sore hari. Alhamdulillah setiap hari kami lihat ada angsurannya. Lelehan airmata pada pipi anak kami setiap hari tampak mulai berkurang. Pada hari ke tujuh lelehan air mata di pipi anak saya sudah mengering dan tidak tampak lagi. Saya terus mengerjakan Tahajud dan berdo’a setiap malam. Alhamdulillah setelah 2 minggu mengerjakan shalat Tahajud mata anak saya betul-betul telah sembuh. Matanya tampak bersih tidak ada bekas iritasi dan lelehan air mata lagi. Kami betul betul bersyukur dan berterima kasih pada Allah. 

Demikianlah mata anak saya tidak jadi dioperasi, ia sembuh hanya dengan memberikan salep mata dan mengerjakan shalat Tahajud selama 2 minggu terus menerus. Walaupun pada mulanya dokter menyarankan untuk membuka saluran pembuangan air mata yang tersumbat itu harus dioperasi. Namun dengan pertolongan Allah semuanya bisa normal kembali dengan obat yang sederhana dan mengerjakan shalat Tahajud setiap malam. 


Minggu, 07 Mei 2023

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat


 

Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol Vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan Vespanya. Alhamdulillah... akhirnya Vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin dulu, harus muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Kemana arah Vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

“Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa Vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uang  segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syaithan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah buatku!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian Vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis. 

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syaithan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya. 

“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.

“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya,” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.

“Untung apaan?”

“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum.”

“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya cuma punya Vespa.”

“Hmm... mau, anak ditukar Kijang?”

Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik Vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya. 

Sungguh benar firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261). 

 

Jumat, 28 April 2023

Mempermudah Ujian Skripsi (Dewi Mustika - Mahasiswa)



Nama saya adalah Dewi Mustika. Di sini saya ingin sedikit share pengalaman. Kejadiannya saat saya maju sidang skripsi. Hari yang bersejarah sebagai syarat kelulusan saya. Sebelum berangkat ke kampus saya melakukan ritual yang seperti biasanya yaitu shalat Dhuha. Disini lagi-lagi saya ingin tahu sebesar manakah manfaat shalat Dhuha bagi kita. Sebelum berangkat saya juga tidak lupa minta doa restu dari orangtua dan yang utama minta ibu mendoakan saya agar sukses. 

Setelah semua persiapan selesai dilakukan, kini saatnya perang dan maju sidang. Saat saya memasuki ruang sidang suasananya terasa enak, cuma ruangannya agak sedikit panas dikarenakan AC-nya belum greget. Disinilah mulai terasa efek dari amalan shalat Dhuha yang saya kerjakan sebelum masuk ke ruang sidang. 

Semua dosen penguji tidak ada yang judes atau memasang muka asam, malah sebaliknya. Mereka melepaskan aura bersahabat tanpa ada satupun aura “membantai” keluar dari raut muka mereka. Subhanallah, hati saya mulai terasa sedikit lebih tenang.

Kemudian ada lagi efek lain yang saya dapatkan, yaitu presentasi hanya berlangsung kurang dari 30 menit dan program saya dinyatakan berhasil, meskipun ada sedikit revisi. Nggak pakai lama, nggak pakai muka asam dan nggak pakai bantai-membantai. 

Dan yang lebih mengejutkan lagi, salah satu dosen pembimbing saya menawarkan sebuah pekerjaan di perusahaan beliau. Subhanallah istimewa pada hari itu. 

Inilah kebesaran Allah yang dibukakan kepada saya. Jadi merinding kalau mengingat kembali.


Rabu, 26 April 2023

Kronologis kisah wafatnya Yoyoh Yusroh.



Beliau  berangkat ke Yogya Rabu, 18 Mei 2011 untuk menghadiri wisuda Umar, anak pertamanya. Sengaja melalui perjalanan darat karena ingin silaturrahmi ke Magelang, rumah Eyang Gatot. Kakeknya Abi dan menghadiri pernikahan khadimah. Rombongan terdiri dari 2 mobil. Mobil Innova hitam terdiri dari Abi, beliau, Umar (putra 1), Sholah (5), Ayyasy (8), KongBun dan Hanafi (driver).

Setelah wisuda, rombongan sempat ke Magelang silaturrahmi dan melanjutkan ke pernikahan mbak di rumah yang menikah di bilangan Jabar. Akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju Jakarta melalui tol Palikanci, Cirebon tersebut.

Pada Sabtu dinihari sekitar pukul 2, mendadak Pak Hanafi mengantuk, putranya yang nomor 5 (Sholah) berinisiatif menggantikan. Posisi duduknya saat itu Sholah menyetir, di sebelahnya (depan kanan) Pak Hanafi. Di tengah kiri beliau, di tengah kanan suaminya. Sementara di belakang (dari kiri-kanan) Ayyasy, Umar dan Kong Bun. Beliau memang selalu duduk di kursi tengah bagian kiri setiap naik mobil. Itu lokasi favoritnya. Di pojok yang sama pula beliau selalu tilawah/muraja’ah hafalan Qur’annya setiap naik mobil.

Pada saat kejadian, beliau memang tidak mengenakan seatbelt. Suaminya  yang biasa mengingatkan juga lupa mengingatkannya. Mobil melaju kencang dengan kecepatan konsisten 120 km/jam, seisi mobil tidur kecuali putranya yang menyetir. Tiba di tikungan tajam lokasi kejadian, Sholah yang sedang tidak dalam kondisi mengantuk mendadak kurang antisipastif di tikungan tersebut. Salah persepsi karena dikira hanya tikungan biasa, bukan tikungan tajam. Di tambah saat itu penerangan redup, sehingga mata menjadi kurang jeli. 

Karena kaget dan reflek ingin melakukan penyelamatan agar mobil tidak terbalik, Sholah sempat membanting setir. Namun tetap kecelakaan tidak bisa dihindari, sehingga mobil menabrak pembatas jalan (beton) yang mengenai mobil bagian kiri. Tabrakan terjadi sangat hebat dan keras, kontan seisi mobil terbangun. Warga berteriak kaget dan berduyun-duyun datang. Dalam keadaan tersebut, sekitar 5 menit pertama seisi mobil shock. 

Kong Bun yang ada di belakang suami beliau mendadak sudah di tengah. Seisi mobil sesak nafas dan tidak tahu harus berbuat apa. Sholah yang menyetir langsung buka pintu. Kondisinya tidak kenapa-kenapa. Ia tidak luka sedikitpun. Yang lain juga belum merasakan dampak apa-apa, masih diliputi rasa shock. Beliau yang saat itu di tengah bagian kiri mengalami dampak yang paling kuat. Beliau terbentur bagian depan mobil dengan posisi kepala langsung. Ditambah dorongan dari belakang, jok lepas sehingga dia jatuh tersungkur. 

Setelah kecelakaan suaminya sempat membenahi posisinya kembali ke jok. Namun di dahi beliau sudah mengucur darah, suaminya menduga itu hanya luka biasa. Namun sebenarnya kemungkinan beliau tengah mengalami pendarahan. Sementara warga yang berduyun-duyun mencoba mencari pertolongan, dan mencoba membuka pintu disisi Bunda Yoyoh dengan linggis dan sebagainya.

Dalam keadaan seperti itu, beliau masih dalam keadaan sadar dan mengabsen anak-anaknya satu persatu. “Sholah mana? Masih hidup ga?” Dan lain-lain. Ia mengira kondisi yang lain lebih parah dari dirinya. Kemudian tiba-tiba beliau sempat menjadi ‘agak emosional’ dan bilang: “Aduh dada Ummi sakit. Rasanya seperti mau meninggal”. Kontan suaminya dan seisi mobil mengingatkan: “Istighfar mi”. Beliau berucap “Astaghfirullahaladzim”. Beliau tiba-tiba juga berucap: “Abi, Ummi sedang sakaratul maut”. Suaminya dan seisi mobil kurang percaya namun bilang “Nyebut mi…” Lalu beliau berucap “Asyhadu anlaa ila hailallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah” dengan lancar. 

Terus berulang. Menunggu ambulans datang, beliau senantiasa menyender di bahu suaminya dengan terus berdzikir. Ambulans pun datang. Semua yang terluka dibawa masuk terlebih dahulu. Dalam perjalanan beliau sudah dalam keadaan tenang tanpa suara, yang lain beristirahat. Namun anaknya yang nomor 8 (Ayyasy) sempat melihat tiba-tiba dengkul Umminya terangkat dengan sendirinya sebanyak dua kali. Pada saat itulah kemungkinan malaikat pencabut nyawa sedang melaksanakan tugasnya. Ketika Sholah dan Pak Hanafi yang belakangan menyusul tiba di RS, jasad beliau sudah ditutup kain seluruhnya. Beliau ternyata telah wafat, menghembuskan nafasnya yang terakhir sekitar pukul 03:30 WIB di RS Mitra Plumbon Cirebon. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Beliau telah wafat. Sontak keluarga menangis dan mengabari semua pihak untuk mengurus pemakamannya. 

Putranya yang juga ikut di proses memandikan, mengafani, dan menyolatkan Almarhumah, jenazah terasa sangat ringan. Dan mereka menyaksikan dengan sangat jelas bahwa Umminya meninggal dalam keadaan tersenyum.

 

Tidak Pernah Kehabisan Proyek (Arry - Pengusaha dan trainer)



Dulu saya sering ditanya oleh evaluator saya pada waktu itu, “Bagaimana shalat Dhuha antum?” Pada waktu itu saya hanya tersenyum saja. Ya, memang pada waktu itu saya belum rutin shalat Dhuha. Evaluator saya bilang, “Katanya pengusaha. Pengusaha itu senjata andalannya shalat Dhuha.” Wah, malu banget deh rasanya. Ini sama seperti pada waktu itu salah satu mentor wirausaha saya bilang, bahwa untuk menjadi orang kaya maka tingkatkanlah dua hal: kompetensi dan spiritual. 

Kompetensi pasti teman-teman tahu, seperti keahlian, kemampuan, ilmu pengetahuan kita. Kalau spiritual itu seperti sedekah, shalat Dhuha, shalat Tahajud, menolong orang, dan hal-hal lainnya. Nah, saya mencoba nih membuktikan bener nggak ya kalau rajin shalat Dhuha rezeki kita akan berlimpah? 

Kebanyakan orang itu tertawa ketika kita berkata bahwa Allah lah sumber kekayaan dan kalau mau kaya ya minta saja kepada Allah. Eh, justru orang lebih banyak yang percaya kepada bos atau meminta rezeki kepada orang-orang kaya daripada kepada Allah. 

Nah, ini nih beberapa keutamaan shalat Dhuha: “Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus disedekahkan untuk setiap ruas itu.” Para shahabat bertanya, “Siapa yang kuat melaksanakan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dahak yang di masjid itu lalu ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah. Atau, sekiranya tidak dapat melakukan itu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua raka’at shalat Dhuha.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

“Siapapun yang melaksanakan shalat Dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan.” (H.R Turmudzi)

“Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat raka’at shalat Dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim dan Thabrani)

“Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat raka’at dan empat raka’at sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami’: 634)

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan ‘umrah...” (Shahih al-Targhib: 673).

“Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (subuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua raka’at (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih al-Jami’: 6346).

Ini juga terjadi alhamdulillah sewaktu saya mewajibkan diri saya untuk melakukan Dhuha setiap hari. Alhamdulillah, ternyata memang benar rezeki semakin dimudahkan. Hal ini berawal dari tahun 2011 ketika itu saya memulai membuka usaha jasa training motivasi. Dari sini entah mengapa saya memulai dipertemukan dengan orang-orang luar biasa yang juga merupakan para wirausaha. Uniknya, saya dipertemukan dengan partner-partner yang terpercaya dan jujur. Alhamdulillah, karena dalam doa saya memang untuk dipertemukan oleh orang-orang luar biasa dan juga jujur dalam usahanya. Sampai saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya dan sampailah kemudian terbentuk lembaga training Cerdas Mulia. Alhamdulilahnya lembaga training ini dipercaya untuk memberikan banyak pelatihan tidak hanya di jabodetabek tetapi juga di Semarang dan Jogjakarta. 

“Uniknya, saya merasa tidak pernah kehabisan proyek. Walaupun tidak pernah berjualan dan menjajakan jasa, tetapi ada saja jalannya bagi orang-orang untuk menggunakan jasa pelatihan saya.”

Bahkan, salah satu proyek yang paling berhasil adalah membentuk Komunitas Siswa Hebat, Komunitas TDA Kampus, menerbitkan buku, dan membuka perusahaan website. Alhamdulillah, komunitas-komunitas tersebut banyak membeli buku-buku, permintaan training banyak datang dari situ, begitu juga banyak yang kemudian memesan website. Pernah suatu kejadian dalam satu bulan pernah mendapatkan profit hingga Rp 30 juta. Saya yakin itu semua hanya karena saya memang meminta rezeki dari Allah SWT. Salah satu ibadah yang paling favorit dan suka saya lakukan adalah shalat Dhuha itu. Selain lebih gampang dilakukan daripada shalat Tahajud. Selain itu shalat Dhuha juga lebih memungkinkan. Biasanya saya lakukan sebelum kuliah. Alhamdulillah, rezeki itu selalu datang. 

Jadi, masih sangsi bahwa shalat Dhuha bisa mendatangkan rezeki? Saya sudah membuktikannya. Tidak ada yang lebih asyik meminta kekayaan dari yang Maha Kaya karena Allah tidak akan pernah habis kebesaran-Nya, betul?

Rabu, 19 April 2023

Azab Kubur Seorang Rentenir



Kisah nyata tentang seorang rentenir datang dari wilayah Jakarta Utara, tepatnya di TPU Cilincing. Aku kira kuburan yang mengalami kejadian aneh-aneh cuma ada di film, eh ternyata juga ada di kehidupan sehari-hari tentang kuburan berbau amis. Memang hukuman bagi rentenir kelihatan jelasnya justru setelah meninggal.

Saksi mata dari kisah nyata tentang rentenir ini adalah penjaga makam yang namanya Otong. Jadi ada kuburan yang dijadikan satu yaitu ibu dan anaknya yang sudah meninggal duluan. Makamnya masih berupa tanah merah.

Kisah nyata ini dimulai justru setelah 3 hari seorang rentenir bernama Rohani dimakamkan. Hujan baru deras-derasnya dan Otong saat itu melewati makam itu dan mencium bau amis yang menyengat. Istri dan anaknya juga mencium bau tersebut. Setelah hujan reda, Otong dan beberapa warga lainnya datang ke TPU untuk cari tahu kuburan mana yang baunya amis tadi.

Penasaran membuat Otong mengelilingi semua makam di TPU, sampai akhirnya dia kaget! Matanya langsung melotot seperti tak percaya. Dia lihat cairan merah yang keluar dari makam yang masih merah. Air hujannya yang ada di sekitar situ sampai berubah warna menjadi merah! Tak ada yang curiga sebelumnya kalau ini adalah hukuman atau azab bagi rentenir. 

Otong masih ingat sekali waktu anaknya yang dikubur, tak ada bau amis seperti itu. Ketika ibunya yang dikubur, baru ada kejadian kuburan berbau amis seperti ini. Bahkan kalau ada angin yang kencang, bau amisnya makin menyebar. Otong dan teman-temannya yang sedang berada di sekitar makam sampai muntah! Gila, hukuman bagi rentenir meski sudah dikubur terasa nyata sekali ya.

Kisah nyata dari kematian seorang rentenir ini dengan cepat berkembang di wilayah sekitarnya. Bagaimana tidak, kuburan sampai mengeluarkan bau amis adalah kejadian yang memalukan. Otong tau sedikit banyak kehidupan almarhumah Rohani yang dulunya tinggal di Rorotan dan pindah ke Warakas di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Memang benar ibu ini meski semasa hidupnya orangnya ramah, baik, sopan dan hidupnya berkecukupan tapi dia rentenir.

Pas suami almarhumah Rohani nyekar, Otong sudah memberi tahu tentang kejadian ini tapi suaminya tak peduli. Mungkin inilah hukuman bagi rentenir yang didapatkan dari anggota keluarganya yang masih hidup. Suaminya malah bilang ke Otong, “Biarin aja, nggak usah diapa-apain.” Otomatis karena pihak keluarga tak peduli, pihak pemakaman juga nggak ambil pusing. Tiap lewat makam almarhumah Rohani, warga sampai tutup hidung bahkan pakai masker. Mereka bilang kalau kisah nyata makam seorang rentenir adalah hukuman di alam kubur bagi rentenir yang nyata adanya. (Sumber: pesatnews)


Kamis, 13 April 2023

Hidup Sukses Berkat Taubat Riba


Saya mempunyai sahabata bernama Tanto Abdurrahman dari Yogyakarta. Ketika berumur 23 tahun ia sudah terlibat riba Rp 53 miliar. Begitu taubat riba, sekarang beliau memiliki berbagai usaha seperti pertambangan, tambak, percetakan, Biro haji Umroh, dll. Beliau sekarang juga mengelola 32 pondok pesantren tahfidz Qur'an dengan ribuan santri. Percakapan antara seorang pengusaha yang sedang galau dengan Gus Tanto Abdurrahman, semoga bisa menjadi bahan renungan kita semua.

Saya: “Gus, saya pusing. Masalah saya begitu banyak, orang orang sudah tidak percaya lagi sama saya. Hutang banyak, istri minta cerai anak sudah tidak lagi menghargai saya. Saya malu Gus. Saya harus bagaimana? Saya ingin lari saja menenangkan diri dimana sebaiknya.”

Gus Tanto: “Hehehe… hal begini saya pernah alami, saya tau persis gimana rasanya. Dulu pun sempat terpikir untuk lari. Sampai akhirnya, Allah memberikan hidayah dan maunahnya. Saya anggap semua peristiwa buruk yang menimpa saya adalah proses pembersihan dari dosa-dosa saya. Ya banyaklah dosa riba dan masih banyak lagi dosa lain.

Awalnya saya coba ikhtiar lalu pasrah. Hasilnya? Nggak selesai juga. Akhirnya tak balik. Pasrah total. Aktifitas yang ‘ngemis’ bantuan ke manusia yang sering kita sebut ikhtiar salah kaprah itu tidak lagi saya lakukan.

Saya nggak lagi konsultasi sana sini, saya hanya mepet ulama yang membimbing saya. Mulut saya kunci untuk mengeluh sama manusia, saya kumpulkan ‘keluhan-keluhan’ itu tiap hari lalu setelah tahajud saya tumpahkan keluhan saya ke Allah.

Saya nggak lagi mikir strategi bisnis. Saya nggak lagi belajar mengelak dan lari bahkan mengakali tanggung jawab saya dengan berbagai trik dan jurus atau apapun itu namanya karena memang hutang wajib dibayar. Saya nggak lagi mengandalkan tenaga saya untuk mencari solusi kesana kesini yang juga saya sebut namanya ikhtiar karena memang itupun hanya akan saya jadikan alasan untuk menjawab sang penagih hutang.

Akhirnya saya pasrah. Pasrah total. Saya mepet ke Allah 5 waktu jamaah, dhuha nggak pernah putus, shalat malem selalu saya pakai buat curhat ke Allah. Saya banyakin baca Qur’an. Ternyata ini yang sebenarnya disebut ikhtiar. Setelah hal ini saya lakukan istiqomah, solusi datang. Jalan selalu muncul, peluang datang dengan sendirinya. Dan tidak perlu extra capek untuk mengeksekusi akan berbuah hasil yang secara nalar jika kerja dengan fisik dan otak dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin dapat hasil yang sebesar itu.

Akhirnya, ikhtiar saya ke langit bukan lagi mengandalkan otak dan logika karena memang rizki itu hal ghaib tidak akan pernah bisa diraba dengan indra, hanya dengan kejernihan dan ketenangan hati saja. Akhirnya aktifitas fisik kerja yang saya lakukan saya niatkan bukan lagi untuk hasil, tapi dalam rangka mensyukuri nikmat. Sudah diberi anggota badan yang lengkap, dan saya niatkan ‘setor’ keringat ke Allah. Terserah Allah setoran keringat saya mau ‘dihargai’ dengan bentuk rizki seperti apa.

Jangan pernah ngelawan takdir Allah. Kondisi apapun saat ini yakinkan bahwa itu adalah kondisi terbaik buat kita menurut Allah. Nggak ada kata TAPI dalam menjalankan takdir Allah. Mau enak ayo, mau menderita ayo, mau banyak masalah ayo. Apapun kondisinya jangan pernah ada perlawanan terhadap takdir Allah.”

Saya: “Kok gitu Gus? Tapi masalah saya, hutang saya, istri saya bagimana?”

Gus Tanto: “Yah emang gitu, emang kalau banyak masalah kenapa, emang kalau banyak utang kenapa, emang kalau istri minta cerai kenapa, emang kalau anak nggak lagi percaya kenapa? Ya biarin aja lha wong itu kehendak Allah. Bukankah semua hal dimuka bumi ini terjadi atas kehendak dan izin Allah? Ya sudah dihadapin. Anteng, dihadapin jangan lari.”

Saya: “Tapi Gus?”

Gus Tanto: “Ssttt, sudah nggak usah nglawan takdir Allah. Dijalanin saja, nggak usah protes. Itu cara Allah memuliakanmu jika memang Allah satu-satunya tujuanmu.”

Saya: “Subhanallah, iya Gus iya!”

Gus Tanto: “Subhanallah saja belum cukup. Kalau hati sudah bisa ngomong terucap lewat mulut, karena paham betul bahwa takdir Allah sedang berjalan.

Harusnya yang terucap adalah alhamdulillah, akhirnya saya ngrasain juga punya utang banyak, risikonya paling diomelin dept collector, dan setau saya nggak ada cerita diomelin dept collector terus mati gitu.

Alhamdulillah, akhirnya saya ngrasain juga dihinakan orang. Jadi begini rasanya dihina orang. Gini rasanya nggak punya harga diri. Alhamdulillah ya Allah!

Alhamdulillah, akhirnya ngrasain digugat cerai sama istri. Ya sudah apa adanya kita sampaikan kalau tidak bisa menerima kondisi kita yah sudah, mau cerai sekarang mau nanti sama saja, karena pada dasarnya istrinya tidak mau menerima kondisi kesusahan.”

Saya: “Tapi Gus… beraaat!”

Gus Tanto: “Ssttt jangan nglawan takdir Allah. Saya nggak pernah bilang kalau ini ringan. Memang mendekatkan diri dan berjuang menjadi kekasih Allah itu bukan hal yang mudah. Perlu perjuangan, perlu pengorbanan. Dan yang paling berat adalah mengorbankan semua hal yang berhubungan dengan nafsu dan keinginan kita. Jadi ah sudah lah, itu pilihan, mau dengan cara ini silahkan kalau ada cara lain menyelesaikan masalahmu dengan tuntas selain ke Allah, nanti tolong kasih tau saya. Saya ingin tau juga.”

Gus Tanto (Tanto Abdurrahman) adalah seorang entrepreneur, ustadz, pembimbing spiritual, bertempat tinggal di Jogja. (Sumber: http://www.ahmadinspira.com)