Tampilkan postingan dengan label Shalat Tahajud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat Tahajud. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Mei 2023

Sembuh dari Kanker Hati (Dahlan Iskan - Mantan pemimpin Jawa Pos Group)

Sembuh dari Kanker Hati (Dahlan Iskan - Mantan pemimpin Jawa Pos Group)





Vonis kanker hati yang dialaminya beberapa tahun silam diterimanya dengan ikhlas. Operasi cangkok hati pun berjalan sukses. Secara materi, Dahlan Iskan sangat kecukupan, bahkan bergelimang harta. Tetapi kalau diberikan sakit, siapa yang bisa menolaknya. Saat itu usia Dahlan menginjak 56 tahun. Sebagai pebisnis sekaligus pemimpin media Jawa Pos Group —salah satu media besar di Indonesia khususnya di Jawa Timur— ia terbiasa melakukan perjalanan bisnis yang panjang.

Seperti biasanya, Dahlan menjalani kehidupannya dengan optimis. Hingga sampailah waktu dimana cobaan besar itu tiba. Saat itu, setelah melakukan perjalanan bisnis panjang dari Cina hingga Ambon, entah mengapa tiba-tiba ia mengalami muntah darah ketika tiba di rumahnya, Surabaya. 

la Iangsung melakukan pengecekan kepada seorang dokter. Dokter mengatakan livernya telah sirosis. Bahkan hati yang rusak itu telah dipenuhi kanker. Inilah cobaan berat yang dialaminya dan tak pernah dibayangkannya. Sakit datang tiba-tiba dan tak terduga.

Dokter pun langsung menyarankan untuk segera melakukan transplantasi hati dalam waktu kurang lebih enam bulan. Jika tidak, maka nyawanya tidak akan tertolong. “Dokter memvonis umur saya tinggal enam bulan lagi...” tutur Dahlan Iskan.

“Alhamdulillah... saya bersyukur tidak punya perasaan seperti itu. Begitu dokter mengatakan sirosis dan kanker serta usia tak lebih dari enam bulan, saya menerimanya dengan ikhlas...” ujarnya.

Maha Suci Allah SWT, yang di tangan-Nya nyawa setiap orang. Kepada-Nya pula setiap makhluk akan kembali. Vonis dokter ini cukup mengagetkannya. Namun itu hanya sementara. Sikapnya tak seperti kebanyakan orang yang cemas dan ketakutan setelah mendengar vonis mematikan itu. Apalagi Rektor Universitas Paramadina —Nurcholis Madjid— gagal setelah melakukan transplantasi hati. Usianya tak panjang setelah operasi. 

Ketegaran menerima ujian itulah yang ditunjukkan Dahlan. Namun, ketabahan itu tidak jatuh dari langit. Sikap itu terpupuk sejak ia masih belia, terutama dalam kehidupan keluarga. Sejak kecil ayahnya telah mengajari Dahlan arti sebuah keikhlasan, kesabaran, dan kepasrahan menerima apa adanya yang datang dari-Nya. Ayah Dahlan adalah seorang ahli dzikir. Segala beban hidup diterimanya dengan ikhlas. Tak bosan-bosan ia pun mengajarkan dan meminta kepada anak-anaknya agar hidup dengan ikhlas. la merasa ajaran ikhlas dari bapaknya cukup tertanam. Bapaknya seorang pembelajar ikhlas yang luar biasa.

Raut wajah pria yang dikenal pekerja keras ini sama sekali tak berubah mendengar vonis dokter. Denyut jantungnya pun bergerak normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, vonis dokter tersebut tidak main-main. Meramal usianya yang tak kurang dari enam bulan. Sebagai orang beriman atau beragama, Dahlan menerima vonis itu dengan ikhlas, pasrah, dan tawakkal. 

Dalam hatinya sama sekali tidak terbesit rasa takut, dengan keteguhan hati, Dahlan menerima vonis mematikan tersebut. Lebih-lebih rekam jejak keluarganya yang tak berumur panjang. Ibu, kakak, dan pamannya meninggal dunia dalam usia relatif muda, antara 30-34 tahun.

“Saya berpikir umur saya tidak panjang, seperti ibu, kakak, dan paman saya...” tandasnya.

Persoalan selesai? Ternyata tidak. Ikhlas menerima vonis berat itu, ternyata tak lantas membuat persoalan selesai. Kali ini soal negara tempat untuk melakukan transplantasi. Saat itu ada beberapa tujuan negara yang menjadi pilihan, antara lain Australia, Jepang, Singapura, dan AS.

Kala itu Dahlan belum mempertimbangkan RRC. Namun masing-masing negara punya plus-minusnya. Australia misalnya, meskipun rumah sakit disana terkenal, namun orang yang mau cangkok hati juga tidak banyak. Sementara yang mendonorkan hati jumlahnya terbatas. Hal serupa juga terjadi di AS.

Dahlan kemudian mempertimbangkan Jepang, Negeri Sakura. Namun ia merasa kesulitan bahasa mengingat bahasa Inggris orang Jepang agak berbeda dengan lainnya. Selain itu, persediaan hati disana jumlahnya terbatas. Negara lainnya adalah Singapura. Tapi negara ini belum memiliki pengalaman banyak untuk transplantasi hati.

Ternyata tak mudah untuk memilih. Apalagi waktu terus berjalan. Waktu yang ada tidak dapat diperlambat, apalagi ditunda walau sedetik. Terngiang-ngiang di pikirannya apakah waktu enam bulan akan terpenuhi?

Berusaha dan terus berusaha itulah yang dilakukan Dahlan Iskan. Sikap putus asa telah lama dibuang jauh dari dirinya. Kapan dan dimana pun, ia akan tetap tegar dan berusaha keras hingga ajal menjemput. Itulah mungkin jawaban kenapa ia dapat meraih kesuksesan saat ini.

Allah Maha Penyayang. Usaha keras tersebut membuahkan hasil. Atas saran seorang teman, akhirnya ia memilih operasi cangkok hati di salah satu rumah sakit terkenal di Cina, Negeri Komunis. Persoalan kembali melilitnya. Rumah sakit RRC ternyata mengalami kesulitan mencari donor hati. Hingga saat itu, belum ada orang yang mau mendonorkan hatinya untuk Dahlan.

Waktu terus berjalan, tanpa ada orang yang mampu menghentikannya. Tak terasa waktu telah memasuki bulan keempat, namun ia belum juga mendapatkan donor hati. Rasa cemas menghinggapi dirinya. Apalagi waktu yang tersedia hanya tinggal dua bulan. 

Usaha keras terus dilakukan dan do’a terus dipanjatkan. Karena belum ada kepastian donor hati, dokter menyarankan untuk membunuh kanker dengan cara tertentu dan memotong limpanya. Ini dilakukan untuk mengulur-ulur waktu hingga tersedia donor hati baginya. 

Dahlan lalu teringat pesan ajaran Islam bahwa Allah SWT, tidak akan menguji hamba-Nya dengan ujian yang tidak sanggup dipikulnya. Segala ujian yang Allah berikan, insyaAllah akan sanggup dipikul hamba-Nya.

Dengan pertimbangan matang, akhirnya ia menerima saran dokter rumah sakit RRC untuk memotong limpa. Alhamdulillah, operasi pemotongan limpa berjalan lancar. Namun sekali lagi ini adalah usaha untuk mengulur-ulur waktu sampai tersedia donor hati untuknya. Bagaimana dengan cangkok hati, belum ada jawaban. 

Di tengah-tengah masa penantian, sering di tengah sepinya malam, Dahlan meneteskan airmata dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena memiliki isteri yang setia.

Saat waktu luang, isterinya tak pernah lupa membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an dan membacakan ayat-ayat Allah di sampingnya. Saat semua orang tengah lelap dalam tidurnya, sang isteri terbangun mengambil air wudhu kemudian bersujud sambil tak henti-hentinya berdo’a dan bermunajat di saat Tahajud kepada Allah demi keselamatan sang suami terkasih.

Sang isteri yakin bahwa shalat malam merupakan cara yang tepat baginya untuk berdo’a kepada Allah agar cobaan sakit yang dialami sang suami lekas sembuh.

Allah SWT mendengar do’a hamba-Nya. Tak lama setelah itu, dokter mengabarkan telah mendapatkan donor hati dan operasi cangkok hati Dahlan siap dilakukan. Usai operasi, dokter menyatakan operasi berjalan sukses. Alhamdulillah, airmata menetes sebagai tanda syukur atas karunia-Nya. 


Kamis, 18 Mei 2023

Istrinya Diberi Kemudahan Dalam Melahirkan (Syamsul - Karyawan)

 Kemudahan Dalam Melahirkan (Syamsul - Karyawan)




Cerita ini adalah kisah nyata yang dialami oleh Syamsul. Beliau mempunyai seorang isteri dan baru saja mempunyai seorang anak. Dua minggu sebelum kelahiran anaknya, Syamsul mengadu ke ustadz kami, mengutarakan masalah yang diderita isterinya. Posisi bayi dalam kandungan isterinya terbalik, sehingga pada saat lahir nanti harus lewat operasi caesar. Tentu saja operasi lewat caesar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Syamsul berharap ustadz kami dapat membantu memberikan bantuan untuk biaya caesar tersebut.

Ustadz kami yang sudah sangat berpengalaman menghadapi masalah finansial yang dihadapi oleh mad’u (murid-muridnya), rekan-rekannya dan tetanga-tetangganya bersikap sangat tenang.

“Jangankan antum yang masih punya waktu dua minggu, dalam waktu 1×24 jam saja Allah mampu membalikkan apa yang manusia tidak mampu melakukannya. Antum jangan menempatkan saya di garis depan. Jadikanlah Allah di garis depan. Mintalah pertolongan Allah. Kalau antum mau meminta, Allah pasti mengabulkan. Kuncinya adalah shalat tahajjud (qiyamullail). Qiyamullail itu kondisi dimana Allah tidak akan menolak permintaan hambanya.”

Nasihat ustadz kami ini seringkali diulang setiap halaqoh. Beliau banyak mencontohkan hal-hal yang tidak masuk akal yang dialaminya. Sampai akhirnya minggu kemarin, ustadz bertemu Syamsul saat halaqoh.

“Gimana kabarnya?” sapa ustadz saat bersalaman dengan Syamsul.

“Alhamdulillah, sehat Ustadz,” jawab Syamsul.

“Gimana isterinya? Sudah melahirkan?”

“Alhamdulillah Ustadz, sudah kemarin di rumah sakit.”

“Gak pake caesar, kan?”

“Alhamdulillah Ustadz, bisa lahir normal.”

“Nah bener kan, Tahajudnya berapa kali?”

“Setiap malam Ustadz.”

“Alhaamdulillah... selamat ya... Memang Tahajud itu bisa merubah apa yang tidak bisa dirubah oleh manusia.”

“Benar sekali Ustadz, dokter juga sampai kaget. Kok bisa? Wah ini bisa lahir tanpa caesar. Gitu katanya. Sehari sebelum melahirkan saya bawa ke dokter tempat biasa isteri periksa. Dokter kaget dan terheran-heran, kok bisa poisisnya berubah 180-360 derajat. Entahlah berapa derajat yang jelas waktu dicek dokter menyatakan bisa lahir normal. Pada saat ketuban pecah saya telpon dokter... dokter langsung menyuruh di bawah ke rumah sakit saja. Langsung saat itu saya bawa ke rumah sakit dan pada bukaan ke empat sudah dirangsang agar bayinya keluar. Tapi belum keluar juga. Sama dokter disuruh jalan-jalan dulu. Saya bawa isteri jalan-jalan. Setelah bukaan ke sepuluh isteri saya kesulitan melahirkan. Dokter rumah sakit mengatakan jika lima menit lagi tidak lahir juga, mau tidak mau harus operasi caesar, karena jika tidak, akan membahayakan janin. Saya terus membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Kebetulan saya hafal surat Alwaqiah, (sebelumnya Ustadz menganjurkan memperbanyak membaca Surat Alwaqiah-red). Alhamdulillah, saya ulang-ulang terus. Tepat pada menit kelima, saat itu adzan Zhuhur, entah sedang bunyi hayya’alasshalah entah hayya’alal falah... saya nggak ingat persis, soalnya udah nggak konsentrasi lagi. Alhamdulillah isteri bisa melahirkan. Pas jam 12.25....”

“Ya begitu. Allah sering memberikan pertolongan pada saat-saat kritis. Ibaratnya penalti...” kata ustadz.

“Benar sekali Ustadz,” kata Syamsul.

“Kalau kita sudah berusaha dan meminta sedemikian rupa namun tidak dikabulkan juga, berarti ada hikmah di balik itu. Mungkin Allah sedang menguji kita atau justru sedang menegur kita,” terang ustadz.


Rabu, 12 April 2023

Sebaik-baik shalat sunnah



Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam...”

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhal (lebih utama) dari shalat malam karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadits. 

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu Tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) do’a. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah...”

‘Amr bin Al ‘Ash mengatakan, “Satu raka’at shalat sunnah di malam hari lebih baik dari 10 raka’at shalat sunnah di siang hari...” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya).

Ibnu Rajab mengatakan, “Di sini ‘Amr bin Al ‘Ash membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih mudah dilakukan sembunyi-sembunyi dan lebih mudah mengantarkan pada keikhlasan...” Inilah sebabnya para ulama lebih menyukai shalat malam karena amalannya yang jarang diketahui orang lain. 

Kamis, 23 Maret 2023

Selamat dari Kecelakaan dan Sembuh dari Diabetes Berkat Do’a Anak Yatim Selepas Tahajud (Adinandra Wardhana - Karyawan)

Selamat dari Kecelakaan dan Sembuh dari Diabetes Berkat Do’a Anak Yatim Selepas Tahajud (Adinandra Wardhana - Karyawan)




“Apa sih amalan khusus yang kamu lakukan, sehingga Allah SWT memberikan pertolongan dan perlindungan kepadamu sedemikian rupa?” Demikian pertanyaan para kerabat yang menjenguk saya, sepulang saya dari Rumah Sakit.

Saya maklum. Bahkan saya sendiri juga heran, karena amal ibadah saya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa pada diri saya. Tapi alhamdulillah, di luar dugaan sebuah kecelakaan dahsyat ternyata tidak sampai berakibat fatal pada diri saya. Bahkan, diabetes saya sembuh setelahnya. 

Ceritanya begini. Saya ini seorang staf penjualan di sebuah perusahaan asing di Surabaya. Rumah saya di Malang. Jadi, setiap hari kerja saya pergi-pulang rute Malang-Surabaya.

Pada 10 Desember 2010, usai shalat Jum’at saya mengemudi mobil dari Surabaya menuju Malang. Sore itu saya ada janji dengan salah satu customer di Kota Apel. Rencana saya, setelah menemui customer itu, bisa langsung pulang. Kira-kira pukul 15.30 WIB saya sampai di Purwosari, sejarak 15 km sebelum kota Malang. Spot ini dikenal sebagai jalur rawan kecelakaan. Sampai di sebuah putaran balik, tiba-tiba sebuah truk dari arah Malang nyelonong menghajar mobil saya. Braaakkk! Tabrakan tak terhindarkan. Belakangan saya baru tahu, truk itu remnya blong. Si sopir gagal menghentikan laju kendaraannya di jalan yang menurun. Mau banting stir kiri, dalamnya jurang dan sungai menganga. Sedangkan jika banting stir ke kanan, akan menghajar separator jalan. Maka sopir truk itu banting stir ke kanan tepat di sebuah ruas putaran balik, persis ketika saya melintas disitu.

Sebelum semuanya gelap, saya sempat memberikan nomor kontak kantor dan keluarga kepada polisi untuk dikabari. Ketika sadar, saya sudah berada di RS Saiful Anwar Malang. Luka yang saya alami cukup parah; Tengkorak muka remuk dan kedua tulang tangan kanan saya patah sama sekali. Di rumah sakit, saya ditangani dokter spesialis syaraf yaitu dr. Widodo, dengan tim medis yang terdiri 7 dokter syaraf, bedah syaraf, bedah tulang, bedah kosmetik, internist, mata, dan dokter THT.

Sebelum kecelakaan, saya sudah menderita diabetes. Jadi, saya tidak bisa langsung dioperasi untuk memperbaiki tulang-tulang tengkorak muka dan lengan. Sebab, kata dokter, kadar gula darah saya masih tinggi sehingga harus diturunkan dan distabilkan dulu.

Sepekan kemudian, pada 17 Desember 2010, akhirnya dokter memutuskan saya bisa menjalani operasi bedah tulang dan kosmetik. Dua hari jelang operasi, isteri saya berkeliling rumah sakit dan pasar di dekat situ untuk bersedekah. Dia bagikan uang kepada orangtua dan para pasien di IRD yang tidak memiliki biaya untuk berobat, sambil meminta do’a untuk kesembuhan saya.

Sehari jelang operasi, tulang tengkorak wajah saya difoto rontgen oleh dokter bedah plastik. Hasilnya, Subhanallah, Allahu Akbar, hampir seluruh tengkorak muka saya sudah tersambung kembali dengan sendirinya! Sehingga menurut dokter, hanya diperlukan pemasangan satu pen di pipi kanan saya. Sedangkan untuk tulang lengan saya yang patah, masih tetap harus dioperasi untuk memasang pen.

Setelah kesadaran saya membaik, saya ditangani oleh dokter syaraf. Waktu diperiksa olehnya, saya tidak sanggup melakukan gerakan-gerakan sederhana seperti memegang telinga kiri dengan tangan kanan, menulis satu kalimat sederhana, membedakan bentuk-bentuk sederhana seperti bola, kubus, piramid, dan lain-lain. Bahkan, saya tidak bisa mengingat nama benda-benda di sekitar saya!

Dengan hasil pemerikasaan seperti itu, dokter syaraf menyampaikan kabar seram pada isteri saya, bahwa saya akan kehilangan 50% memori ingatan saya. Dan, biasanya perlu beberapa bulan perawatan untuk memulihkannya. Namun, baru 2 minggu menjalani rawat inap, saya sudah boleh pulang. Kondisi saya secara umum sudah baik, walau memori otak saya belum 100% pulih. Kenyataan ini betul-betul mengherankan dokter syaraf yang menangani saya. Sebab, katanya, dia pernah memiliki pasien yang kondisinya mirip saya dan harus dirawat di RS sampai 7 bulan lamanya.

Rawat jalan di rumah, saya masih belum bisa mengingat beberapa nama benda di sekitar saya. Secara berkala, saya masih tetap harus kontrol ke dokter, terutama untuk kesehatan syaraf dan internist.

Alhamdulillah, sekitar 2 bulan di rumah, memori saya terus membaik. Dan yang luar biasa lagi, menurut dokter internist yang menangani saya, diabetes saya dinyatakan sembuh! Allahu Akbar!

Untuk mengatasi sakit kepala dan pusing (vertigo), saya juga berobat dengan akupunktur (tusuk jarum). Pengobatan alternatif ini cukup efektif, sehingga rasa sakit terus berkurang.

Menjawab keheranan tim medis maupun sanak-saudara yang membesuk atas “keajaiban” kesembuhan saya, terus terang saya pun belum menemukan jawaban yang pas.

Namun setelah merenungi semuanya, jawaban atas keajaiban itu tak lain adalah sedekah. Baik yang dilakukan isteri saya ketika di rumah sakit, maupun yang saya lakukan sebelum kecelakaan.

Ya, dua hari sebelum ditabrak truk, saya mengajak anak-anak penghuni Panti Asuhan Nurul Hayat Malang makan di sebuah resto fasfood dari Amerika. Sebelumnya, mereka pun pernah saya traktir makan di sebuah resto makanan Italia.

Bukan apa-apa, saya sekadar ingin memberi pengalaman mereka makan di rumah makan waralaba mancanegara. Sehingga, meskipun tinggal di asrama yatim-piatu, mereka bisa “mengimbangi” cerita pengalaman serupa teman-teman mereka dari keluarga mampu.

Duh, betapa bahagia saya menyaksikan binar bahagia di wajah mereka tatkala makan di resto tersebut. Saya yakin, itu jadi pengalaman luar biasa dalam hidup mereka.

Maka ketika saya mendapat musibah kecelakaan, do’a mereka usai Tahajud terpanjatkan untuk kesembuhan saya. Begitulah yang saya dengar dari pengasuh mereka. Dan saya meyakini keajaiban kesembuhan saya karena do’a-do’a mereka yang mereka panjatkan selepas shalat Tahajud. 

Sebagai tanda rasa terima kasih sekaligus syukuran, setelah lumayan sembuh saya ajak mereka makan di sebuah resto fastfood yang lain lagi. Biar lebih lengkaplah pengalaman anak-anak dhuafa tersebut.

Dari pengalaman ini, sekarang saya hampir tak berpikir panjang untuk bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Tentu, juga diiringi dengan meningkatkan amal ibadah yang lain seperti shalat fardhu tepat waktu dan berjamaah, shalat rawatib, dhuha, Tahajud, taubat, hajat, puasa sunnah, dll.


Rabu, 22 Juni 2022

Depresi Teratasi karena Tahajud (dr. Sulistyo M. Agustini SpPK - Dokter)



Depresi akrab dengan kehidupan dr. Sulistyo M. Agustini SpPK, pembina Korps Sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia gampang cemas dan panik. Ia pun kerap merasa tertekan batinnya. Gangguan ini dialami Agustini sejak kecil. Tepatnya, sejak ditinggal sang ibu, almarhumah S. Hermiani, ketika usianya baru menginjak 12 tahun.

“Sejak ibu meninggal, saya sakit-sakitan, sampai berkeluarga saya juga sering sakit-sakitan, tapi saya tidak mengerti itu dampak dari depresi yang lama karena saya tidak pernah merasakan itu menjadi suatu gejala atau gangguan psikologis...” ujarnya.

Ia melewati semuanya sendirian. Jatuh bangun sendirian, begitu dia mengistilahkan. “Setiap saya mengalamai sakit tak ada bimbingan sehingga persoalan-persoalan hidup tidak bisa teratasi sendiri,” ujar Agustini.

Beruntung, kemudian ia kenal dengan Prof. Dr. Moh Shalih Mpd PNI, ahli terapi shalat Tahajud yang juga Guru Besar IAIN Surabaya. Dengannya, ia mengaku banyak belajar bagaimana shalat khusyuk dan shalat Tahajud. Ia pun mempraktikkannya secara rutin. Makin hari, ia terasa makin terikat batinnya dengan Sang Khalik. “Batin menjadi tenteram dan tidak merasa sendiri lagi...” ujarnya tentang manfaat Tahajud.

Di tengah malam ia selalu bermohon kepada Allah. Ya Allah hari ini saya banyak persoalan, saya hanya manusia lemah, saya mohon kekuatan-Mu. “Ternyata itu yang membuat saya makin tenang menjalani berbagai persoalan. Saya bisa lebih sabar, emosi saya bisa dikendalikan,” ujarnya.

Menurut dokter yang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Patologi Klinik ini, sudah beberapa tahun ini ia mendawamkan shalat Tahajud. Ia juga tak segan untuk meresepkan Tahajud kepada pasien-pasiennya. 

“Jadi apapun sakitnya sebaiknya dibantu dengan shalat Tahajud, dengan memohon kesembuhan pada Allah. Meminum obat itu hanya satu sarana untuk menyembuhkan.”

Ia mengaku kini makin hari hidupnya makin tenang. “Alhamdulillah, dengan shalat Tahajud rasanya hidup ini tidak ada sulitnya. Pasti ada solusinya yang langsung diberi oleh Allah SWT,” ungkap ibu tiga anak ini.

Kebesaran Allah SWT kembali terbukti saat ia melaksanakan ibadah haji tahun 2002. Sejak berangkat dari tanah air, mantan kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Malang ini merasa saat puncak pelaksanaan ibadah haji, kemungkinan besar dirinya sedang datang bulan. Apalagi dia adalah tipe wanita yang siklus haidnya selalu tepat.

Namun di luar dugaannya, sampai selesai wukuf di Padang Arafah, ia belum datang bulan. Padahal, ia tidak mengonsumsi obat-obatan apapun. 

“Alhamdulillah saya diberikan kemudahan, saya disana tidak hidup dengan siklus yang sebenarnya. Bagi saya itu menjadi suatu keanehan yang luar biasa...” ujarnya. Maka seluruh sunnah dan rukun haji dilaksanakannya tanpa hambatan.

Kejadian di Masjid Nabawi juga menambah keimanannya. Saat itu, dia jatuh sakit sehingga berpikir tidak akan bisa melakukan shalat Arbain. “Saya sudah pasrah karena badan saya demam, panas tinggi seperti terbakar. Bahkan saya merasa tidak bakal hidup lebih lama lagi...” ujarnya.

Ia duduk di pinggiran masjid, sampai kemudian datang seorang wanita tua yang membawa air zamzam di tangannya. Wanita itu mendo’akannya dengan do’a waktu Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud dan membasuhnya dengan air itu. Ia juga diminta untuk melakukan shalat taubat.

Ia pun bergerak untuk melakukan shalat. Di raka’at kedua, ia merasa badannya ringan. Usai shalat, ia merasa panas tubuhnya menurun. “Saya bahkan sempat membaca Al-Qur’an meskipun tajwid saya waktu itu tidak bagus...” ujarnya. 

“Subhanallah!...” kata itu yang selalu keluar dari bibirnya jika mengingat kebesaran Allah yang dilimpahkan baginya.


Kamis, 09 Juni 2022

Sakit Liver sembuh berkat tahajud.



Nama lengkapnya adalah dr. Iwan Arijanto, SpKJ, MKes (41 th), beralamat di Griya Bandung Indah B3-37, Buahbatu, Bojongsoang, Bandung. Kisah ini berawal sejak kelas 2 SMA sampai menjadi dokter specialis dan dosen di Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung. Beliau mempunyai penyakit liver yang selalu naik turun kondisinya. Mulai tahun 2007 terjadi pelemakan di hati dan puncaknya pada tanggal 10 April 2008, yaitu fertivilernya sangat tinggi.

Terjadi sirosis hati dan sudah mengarah ke kanker hati. Dia dan keluarga begitu tertekan jiwa dan psikologisnya mengalami kondisi penyakit tersebut. Sebagi seorang dokter tentu ia begitu mengerti bahwa dengan kondisi sakit yang seperti itu, perhitungan medis umurnya tidak lebih dari 3 bulan.

Ia pasrahkan semuanya kepada Allah swt, ia makin rajin shalat tahajud dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Alhamdulillah setelah menjalani terapi dengan shalat tahajud selama satu bulan kondisi kesehatan menunjukan ke arah normal. Pada maret 2008 ia mulai melaksanakan terapi sholat tahajud dan hasilnya semua indikasi penyakit yang ia derita sembuh ini didukung dengan hasil uji kliniks sebagai berikut: CEA dari 3,83 ng/ml turun menjadi 2,33 ng/ml N < 3,4 ng/ml, Gama GT semula 188 u/L 37oC turun menjadi 27 u/L 37oC N 11 – 50 u/L 37oC, SGOT 38 u/L 37oC menjadi 30 N < 37, AFP 2,12 IU/ml menjadi 1,9 IU/ml (N < 6,8), Globulin 4,6 g/dl turun menjadi 2,8 g/dl (2,6 – 3,3) dari hasil tersebut disimpulkan bahwa kanker hati, Vertiliver dan sirosisnya dinyatakan sembuh. Selain kesembuhan secara medis, ketenangan bathin dan kepasrahan serta kekhusyukan dalam beribadah sangat meningkat. Ia  sangat bersyukur kepada Allah swt atas nikmat ini. Ternyata dibalik sunnahnya shalat tahajud ini ada sebuah keajaiban dalam kesehatan.


Rabu, 11 Mei 2022

Berkat Tahajud Keluar dari kehidupan yang penuh dosa.



Sebuah kisah yang penuh hikmah dan perlu kita ambil pelajaran. Kisah ini dialami oleh seorang pemuda yang telah lulus kuliah setelah menjalaninya selama 5 tahun. Betapa sangat berat ia rasakan selama kuliah tersebut. Banyak tugas dari dosen yang harus diselesaikan, belum biaya kuliah yang tidak sedikit. Apalagi ia belum bekerja dan masih minta orang tua. Hal ini semakin menambah beban baginya karena telah memberikan beban berat kepada orangtuanya dengan harus mencari uang untuk membiayai kuliahnya.

Akhirnya setelah 5 tahun kuliah ia lulus juga. Setelah lulus, ia kemudian bekerja lompat-lompat, bahkan sampai terdampar di tengah hutan Kalimantan, namun ia tidak betah dan akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Ia beralasan, selain Jakarta kota metropolitan dan ibu kota negara ini, juga biar dekat dengan orang tuanya yang telah membiayai kuliahnya mati-matian sampai ia lulus dan akhirnya bekerja sekarang ini.

Akhirnya sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta sampai sekarang. Waktu awal masuk kerja, dia berkenalan dengan seorang wanita yang juga merupakan rekan kerjanya yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut. Ia sangat cantik, putih dan langsing. Setiap berangkat dan sepulang kerja ia selalu berangkat dan pulang kerja berdua karena rekan wanitanya tersebut kos-kosannya searah dengan jalur ia pulang ke rumah. akhirnya mau tidak mau setiap hari pulang pergi dia berdua dengan wanita tersebut.

Lama kelamaan akhirnya mereka sering jalan bareng. Namun ternyata wanita tersebut sudah punya pacar tetapi di luar kota.

Disinilah dosa-dosa itu mulai menghujani mereka berdua. Berawal dari makan berdua, nonton berdua, jalan-jalan berdua, tapi akhirnya dosa-dosa kecil tersebut berlanjut menjadi dosa-dosa besar yang kemudian menjadi kebiasaan yang lumrah mereka lakukan. Setiap hari pasti ia mendapatkan dosa besar di saat itu. Ternyata memang benar ada sebuah nasehat yang mengatakan, kalau kita berdua-duaan dengan yang bukan muhrim, maka yang ketiganya adalah setan. Awalnya, antara hati dan nafsu benar-benar berantem. Tapi lama kelamaan, akhirnya hatinya kalah juga. Dan hal itu menjadi kebutuhan mereka berdua setiap hari.

Setelah kira-kira 3 tahun, hati kecilnya mulai berontak. Sebenarnya ia tidak mau seperti itu, tetapi sepertinya sulit sekali memisahkan mereka berdua.

Akhirnya ia pasrahkan semuanya kepada Allah swt. Setiap malam ia shalat tahajud dan meminta supaya ia segera dijauhkan dari wanita tersebut dan segera ditemukan seseorang yang jauh lebih baik dari wanita itu, terutama untuk dunia dan akhirat, serta segera menikah dan mendapatkan momongan yang membahagiakan.

Dia merasa telah mendapatkan hidayah dari Allah swt agar dientaskan dari lembah hina penuh dosa tersebut. Ia tak mau terus-terusan berada dalam kehidupan sesat. Ia tak mau nantinya akan masuk ke neraka bersama orang-orang berdosa yang setiap hari akan dibakar dengan api yang menyala-nyala. 

Sungguh tidak disangka-sangka, ternyata pacar perempuan tersebut yang berada di luar kota ingin meminangnya atas paksaan kedua orang tuanya dan orang tua pacarnya. Sehingga mau tidak mau wanita tersebut harus keluar dari perusahaan dan pindah ke luar kota.

Akhirnya dia bersyukur sekali kepada Allah swt yang telah menunjukkan jalan terang kepadanya sehingga bisa terlepas dari jerat-jerat syetan tersebut. Kira-kira 4 bulan setelah wanita tersebut pergi, dia mendapat istri yang shalihah sekarang punya 2 orang anak laki-laki yang lucu-lucu.


Senin, 20 Desember 2021

Lulus UMPTN kuliah di PTN favorit Setelah Rajin Tahajud



Ini adalah kisah seorang pemuda yang ingin kuliah di PTN terkenal. Cerita lengkapnya begini. Sewaktu SMA, dia punya cita-cita masuk ke PTN yang favorit di negeri ini. Jika dilihat dari rangking di SMA, paling bagus rangking 8. Paling hancur rangking 34 dari 36 siswa, bahkan nyaris tidak naik kelas gara-gara ada satu pelajaran dia dapat nilai 5. Ia kemudian berpikir, mana mungkin ia bisa diterima di PTN favorit jika nilainya saja mengenaskan seperti itu. 

Jika ia tidak segera bangkit berubah dan berusaha dengan keras serta belajar dengan sungguh-sungguh dan selalu memohon kepada Allah swt, maka hal itu mustahil terjadi.

Karena keinginan yang besar diterima di perguruan tinggi favotit, ia belajar dengan sungguh-sungguh. Dan juga tidak lupa, jam weker dipasang dipukul 03.00 untuk shalat tahajud setiap malam. Ia berdoa dengan khusyuk agar permintaannya dikabulkan oleh Allah swt. Ia pasrahkan semuanya kepadaNya. 

Selain berdoa dan shalat tahajud dengan rajin dan khusyuk tersebut, ia juga semakin rajin belajar. Ia mulai membuka-buka buku try out UMPTN agar tahu soal-soal seperti apa yang sering keluar di ujian UMPTN. Ia tidak merasa lelah untuk mendapatkan jawaban yang tepat pada setiap soal yang ia kerjakan. Ia pantang menyerah. 

Hasilnya, sewaktu TRY OUT di Senayan, ada ribuan peserta yang mengikuti try out tersebut, tentunya persaingan sangat ketat. Namun tiba-tiba namanya ada di rangking ke 4, subhanallah ia bersyukur kepada Allah swt atas nikmat tersebut. Padahal jagoan sekolahnya yang ibarat kata The Best of The Best di sekolahnya ada di Rangking 11. Ia kaget luar biasa melihat hasil try out tersebut. Ia sangat terharu. Perjuangannya tidak sia-sia.

Mendengar berita itu, orang-orang disekolahannya banyak yang bertanya-tanya,

"Kok bisa?"

“Apa sih yang tidak bisa di dunia ini?”

Akhirnya, pada pengumuman UMPTN (Waktu itu), dia lulus UMPTN pilihan pertama! Ia merasa waktu itu badan ringan sekali, senang sekali. Tentu orangtuanya juga senang mendengar berita membahagiakan tersebut.

Rabu, 29 September 2021

BACAAN SHALAT TAHAJUD

 


Beberapa dalil mengenai cara pelaksanaannya

Ada beberapa hadits mengenai pelaksanaan shalat lail ini. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat (lail) baik di dalam bulan ramadhan maupun di luar ramadhan tidak pernah lebih dari 11 rakaat. Beliau memulai dengan mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Setelah itu beliau kembali mengerjakan 4 rakaat, kamu tidak usah menanyakan bagaimana baik dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.”

Aisyah berkata: Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda tidur sebelum witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku memang tidur namun hatiku tidak.” (HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

2. Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Al-Bukhari no. 1131)

3. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

4. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari untuk menunaikan shalat malam, biasanya beliau memulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim no. 767)

Waktu pelaksanaannya

Sedangkan mengenai waktu pelaksanaan shalat lail diterangkan sebagai berikut. Awal waktu shalat lail adalah setelah shalat isya dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar kedua. Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat isya sampai subuh.” (HR. Muslim no. 736) Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Karenanya Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119, “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua) adalah waktu untuk mengerjakan witir.”

Karenanya jika ada orang yang shalat maghrib-isya dengan jama’ taqdim, maka dia sudah boleh mengerjakan shalat lail walaupun waktu isya belum masuk. Sebaliknya, walaupun sudah jam 10 malam tapi jika dia belum shalat isya, maka dia belum diperbolehkan shalat lail.

Hanya saja waktu yang paling ideal adalah dikerjakan selepas pertengahan malam, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr di atas.

Jumlah rakaatnya

Shalat lail minimal 2 rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas. Hanya saja, walaupun dibolehkan mengerjakan shalat lail tanpa ada batasan rakaat (selama itu genap), akan tetapi sunnahnya dia hanya mengerjakan 8 rakaat (plus witir 3 rakaat) berdasarkan hadits Aisyah yang pertama di atas. Disunnahkan juga untuk mengerjakan 2 rakaat ringan sebelum shalat lail -berdasarkan hadits Aisyah tadi-, sehingga total rakaatnya adalah 13 rakaat.

Beberapa cara melakukan shalat tahajud & witir

1. Sholat 13 raka’at dibuka dengan 2 raka’at ringan. Hal ini berdasarkan hadits hadits Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata :

“Sungguh saya akan memperhatikan sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka’at ringan kemudian beliau sholat dua raka’at panjang, panjang, panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka’at lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka’at dan keduanya lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka’at dan keduanya lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka’at dan keduanya lebih pendek dari dua raka’at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka’at”.

Dan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata : “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau berdiri di malam hari untuk sholat maka beliau membuka sholatnya dengan dua raka’at yang ringan”

2. Sholat 13 raka’at, 8 raka’at diantaranya dilakukan dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 5 raka’at dengan satu kali tasyahhud dan satu kali salam.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Riwayat Muslim :

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at, beliau witir darinya dengan 5 (raka’at) tidaklah beliau duduk pada sesuatupun kecuali hanya pada akhirnya”

3. Sholat 11 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at dan witir dengan 1 raka’at.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata :

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya` sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka’at, Beliau salam setiap dua raka’at dan witir dengan satu raka’at”

4. Sholat 11 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan kemudian tasyahhud tanpa salam lalu berdiri untuk raka’at kesembilan kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan duduk.

Hal tersebut diterangkan dalam hadits Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir riwayat Muslim, beliau bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana sholat witir Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, maka beliau menjelaskan :

“… Maka beliau bersiwak, berwudhu’ dan sholat 9 raka’at beliau tidak duduk kecuali pada yang kedelapan kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu berdiri dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri untuk kesembilan lalu duduk kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu beliau salam sengan (suara) salam yang beliau perdengarkan kepada kami kemudian beliau sholat dua raka’at setelah salam dalam keadaan duduk, maka itu 11 raka’at wahai anakku. Ketika Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah berumur dan beliau bertambah daging (Baca  bertambah berat) maka beliau witir dengan 7 (raka’at) dan berbuat pada yang dua raka’at seperti perbuatan beliau yang pertama, maka itu adalah sembilam (raka’at) wahai anakku”

5. Sholat 9 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at keenam kemudian tasyahhud tanpa salam lalu berdiri untuk raka’at ketujuh kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan duduk.

Hal ini di terangkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Berkata Syaikh Al-Albany : “Ini adalah beberapa kaifiyat yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukannya pada sholat lail dan witir. Dan mungkin untuk ditambah dengan bentuk-bentuk yang lain, yaitu dengan mengurangi pada setiap bentuk yang tersebut jumlah raka’at yang ia kehendaki dan bahkan boleh baginya untuk membatasi dengan satu raka’at saja.”

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menyebutkan beberapa bentuk lain :

6. Sholat 13 raka’at, yaitu salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at.

7. Sholat 8 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian ditambah witir 1 raka’at.

8. Sholat 6 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 1 raka’at.

9. Sholat 7 raka’at, tidak tasyahhud kecuali pada yang keenam kemudian berdiri sebelum salam, untuk raka’at ketujuh lalu duduk tasyahhud dan salam.

10. Sholat 7 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.

11. Sholat 5 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.

12. Sholat 3 raka’at, duduk tasyahhud pada raka’at kedua dan salam lalu witir 1 raka’at.

13. Sholat 3 raka’at tidak duduk tasyahhud dan salam kecuali pada raka’at terakhir saja.

14. Sholat witir satu raka’at.

Demikian beberapa kaifiyat atau cara pelaksanaan shalat tahajud yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 86-94 (Cet. Kedua) dan Qiyamu Ramadhan hal. 27-30 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 3/42-48. Dan Syaikh Al-Albany juga menyebutkan kaifiyat lain yaitu sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at.

Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim :

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka’at. Beliau sholat empat (raka’at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau sholat empat (raka’at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka’at)”.

Namun ada perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang kaifiyat ini. Pendapat Abu Hanifah, Ats-Tsaury dan Al-Hasan bin Hayy boleh melakukan Qiyamul Lail 2 raka’at sekaligus, boleh 4 raka’at sekaligus, boleh enam raka’at sekaligus dan boleh 8 raka’at sekaligus, tidak salam kecuali di akhirnya. Kelihatannya pendapat ini yang dipegang oleh Syaikh Al-Albany sehingga beliau menetapkan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at dengan sekali salam.

Dan disisi lain, jumhur Ulama seperti Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnul Mubarak, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Ibnul Mundzir serta yang lainnya menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar radhiyallahu ‘anhuma, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Asy-Sya’by, An-Nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Hammad dan Al-Auza’iy. Dan Ibnu ‘Abdil Barr berkata : “Ini adalah pendapat (Ulama) Hijaz dan sebahagian (Ulama) ‘Iraq.”, semuanya berpendapat bahwa sholat malam itu adalah dua raka’at-dua raka’at yaitu harus salam pada setiap dua raka’at. Ini pula pendapat yang dkuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz beserta para Syaikh anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah, dan juga pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lain-lainnya. Sehingga mereka semua menyalahkan orang yang memahami hadits ‘Aisyah di atas dengan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at, dan menurut mereka pemahaman yang benar adalah bahwa 4 raka’at dalam hadits itu adalah dikerjakan 2 raka’at 2 raka’at.

Tarjih

Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat Jumhur Ulama berdasarkan hadits hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa‘ala alihi wa sallam bersabda : “Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)”

Hadits ini adalah berita namun bermakna perintah yaitu perintah untuk melakukan sholat malam dua dua raka’at. Demikian keterangan Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa beliau 11/323-324.  Hal tersebut bisa dibaca penjelasannya dalam Al-Istidzkar 2/95-98, 104-106, Fathul Bari 4/191-198, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/199-200 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20.

Bacaan dalam sholat  tahajud

Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan hal. 23-25 : “Adapun bacaan dalam sholat lail pada Qiyam Ramadhan dan selainnya, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak menetapkan suatu batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui dengan bentuk tambahan maupun pengurangan. Kadang beliau membaca pada setiap raka’at sekadar “Ya Ayyuhal Muzzammil” dan ia (sejumlah) dua puluh ayat dan kadang sekadar lima puluh ayat. Dan beliau bersabda :

“Siapa yang sholat dalam semalam dengan seratus ayat maka tidaklah ia terhitung dalam orang-orang yang lalai”

“… dengan dua ratus ayat maka sungguh ia terhitung dari orang-orang yang Qonit (Khusyu’, panjang sholatnya,-pent.) lagi Ikhlash”

Dan beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada suatu malam dan beliau dalam keadaan sakit membaca tujuh (surah) yang panjang, yaitu surah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa`, Al- Ma`idah, Al-An’am, Al-A’raf dan At-Taubah.

Dan dalam kisah sholat Hudzaifah bin Al-Yaman di belakang Nabi ‘Alaihish Sholatu was Salam bahwa beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca dalam satu raka’at Al-Baqarah kemudian An-Nisa’ kemudian Ali ‘Imran dan beliau membacanya lambat lagi pelan.

Dan telah tsabit (syah, tetap) dengan sanad yang paling shohih bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tatkala memerintah Ubay bin Ka’ab sholat mengimami manusia dengan sebelas raka’at dalam Ramadhan, maka Ubay radhiyallahu ‘anhu membaca dua ratus ayat sampai orang-orang yang di belakangnya bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan tidaklah mereka bubar kecuali pada awal-awal fajar.

Dan juga telah shohih dari ‘Umar bahwa beliau memanggil para pembaca Al-Qur`an di bulan Ramadhan kemudian beliau memerintah orang yang paling cepat bacaannya untuk membaca 30 ayat, orang yang pertengahan (bacaannya) 25 ayat dan orang yang lambat 20 ayat.

Dibangun di atas hal tersebut, maka kalau seseorang sholat sendirian disilahkan memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya, dan demikian pula bila ada yang sholat bersamanya dari kalangan orang yang sepakat dengannya (dalam memperpanjang,-pent.), dan semakin panjang maka itu lebih utama, akan tetapi jangan ia berlebihan dalam memperpanjang sampai menghidupkan seluruh malam kecuali kadang-kadang, dalam rangka mengikuti Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang bersabda :

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam)”

Dan apabila ia sholat sebagai imam maka hendaknya ia memperpanjang dengan sesuatu yang tidak memberatkan orang-orang di belakangnya, berdasarkan sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :

“Apabila salah seorang dari kalian Qiyam mengimami manusia maka hendaknya ia memperingan sholatnya karena pada mereka ada anak kecil, orang besar, pada mereka orang lemah, orang sakit dan orang yang mempunyai keperluaan. Dan apabila ia Qiyam sendiri maka hendaknya ia memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya”.”

Demikian keterangan Syaikh Al-Albany tentang bacaan pada Qiyamul lail, adapun dalam sholat witir, berikut ini beberapa hadits yang menjelaskannya, diantaranya adalah hadits Ubay bin Ka’ab riwayat Imam Ahmad dan lain-lainnya, beliau berkata :

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau salam, beliau berkata : “Subhanal Malikil Quddus”3 tiga kali.” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/160-161.)

Dan dalam hadits ‘Abdurrahman bin Abi Abza riwayat Ahmad dan lainnya, beliau berkata : “Sesungguhnya beliau membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau salam, beliau berkata : “Subhaanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus.” dan beliau mengangkat suaranya dengan itu.” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161.)

Berdasarkan dua hadits di atas, Ats-Tsaury, Ishaq dan Abu Hanifah menganggap sunnah membaca tiga surah di atas dalam sholat witir. Imam Malik dan Asy-Syafi’iy juga menganggap sunnah hal tersebut namun mereka dalam raka’at ketiga selain dari surah Al-Ikhlash juga menganggap sunnah menambahnya dengan surah Al-Falaq dan surah An-Nas. Namun hadits mengenai tambahan dua surah tersebut dianggap lemah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al- ‘Uqaily, karena itu seharusnya orang yang sholat witir tiga raka’at hanya terbatas dengan membaca surah Al-Ikhlash pada raka’at ketiga.

Syaikh Al-Albany dalam Sifat Sholat An-Nabi hal. 122 (Cet. Kedua Maktabah Al-Ma’arif) juga menshohihkan hadits bahwa membaca dalam raka’at witir dengan seratus ayat dari An-Nisa`. Bisa dibaca dalam Al-Mughny 2/599-600, Al-Majmu’ 2/599 dan Syarhus Sunnah 4/98.

Ada beberapa surat dalam Al-qur’an yang dianjurkan untuk dibaca ketika menunaikan shalat tahajud, yaitu :

• QS. Al-Baqarah.

• QS. Ali ‘Imraan.

• QS. An-Nisaa’.

• QS. Al-Maidah.

• QS. Al-An’am ayat 27.

• QS. Ibrahim ayat 34.

• QS. Al-Mu’minuun ayat 104.

• QS. Yaasiin ayat 59.

• QS. Ghafir atau Al-Mu’min ayat 71-72.

• QS.Al-Jatsiyah ayat 21.

• QS. Al-Mulk ayat 27.

• QS. Al-Muzzammil.

• QS. An-Naba’.

• QS. At-takatsuur.

• QS. Al-Qaari’ah.

Ayat-ayat tersebutlah yang membuat para sahabat dan Nabi menangis sampai terisak-isak ketika membacanya. Ayat-ayat tersebut telah terbukti bisa menambah khusyuk seseorang dalam menunaikan shalat malamnya. Menurut Aisyah, selama hidupnya Rasulullah saw tidak pernah membaca Al-qur’an secara keseluruhan dalam shalat meskipun terkenal suka memanjangkan bacaan dalam shalat sendirian. (Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim)