Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif Para Pengusaha Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif Para Pengusaha Sukses. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Maret 2023

Kiki Gumelar - Chocodot



Makanan tradisional Dodol sudah pasti tidak asing di telinga kita. Namun pernahkah Anda membayangkan makanan ini diolah dengan balutan cokelat yang menggiurkan? Sensasi rasa ini hanya bisa ditemukan dalam Chocodot.

Ya, Chocodot, cokelat isi dodol. Penganan ini dikreasi oleh Kiki Gumelar, seorang wirausahawan asal Garut, Jawa Barat. Di bawah bendera Tama Cokelat Indonesia, Kiki mengangkat kuliner khas Garut ini ke pasar dunia.

“Mimpi saya adalah agar produk cokelat isi dodol pertama di dunia ini bisa menambah kekayaan kuliner khas Garut sekaligus mengangkat citra kudapan tradisional Garut ini ke konsumen dunia,” ujar Kiki.

Sejak diluncurkan pada 2009 lalu, Kiki tidak hanya menciptakan Chocodot khas dari segi rasa, namun juga dengan kemasan yang menarik. Isi Chocodot dimodifikasi mengikuti selera konsumen tanpa menghilangkan kekhasan dari rasa dodol di dalamnya.

Selain Coklat isi dodol, Kiki juga menciptakan beberapa variasi produk, antara lain Gage Choco Garut Geulis yang berisikan aneka krim buah, Brodol (Brownies Dodol), bahkan juga produk cokelat yang mengangkat cita rasa rempah khas daerah Jawa Barat seperti cabe dan jahe.

Kiki seakan tidak pernah berhenti berinovasi. Dia terus berkreasi menghasilkan variasi produk, anatara lain Rangicok Euy, rangginan khas Garut yang dicelupkan ke dalam coklat. Ada juga CoffeCoc yang dibuat dari penggabungan cokelat dan biji kopi nusantara.

Produk unik lainnya adalah Coklat Dogar (perpaduan cokelat dengan abon), kue kering isi dodol dan Zadol Pizza (Pizza dengan taburan dodol). Saat ini produk unggulan Kiki yang bernama Chokor (Chocolate with Korma) dan Sugarfree Kujang (Milk & Dark Chocolate) sudah dipasarkan ke Riyadh, Saudi Arabia.

Sepak terjang Kiki mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Chocodot pun berhasil mengambil hati masyarakat Garut. Kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya informasi yang bisa diakses oleh konsumen tentang Chocodot. Beruntung Kiki bergabung dalam program Bisnis Lokal Go On-line.

“Karena pengetahuan tentang IT saya terbatas, awalnya saya sulit merealisiasikan keinginan go on-line. Namun setelah saya bergabung dalam Bisnis Lokal Go On-line, akhirnya cita-cita saya pun bisa terwujud. Apalagi sarana ini mudah, cepat dan gratis. Cukup masuk melalui ‘saya bisa memasarkan produk-produk saya tanpa mengeluarkan biaya mahal.’ Maka semua pesanan dapat dilakukan tanpa konsumen harus menunggu lama,” demikian tutur Kiki.

Hingga kini, Tama Cokelat Indonesia sudah memiliki enam gerai di Garut, satu gerai masing-masing di Jakarta dan Bandung. Popularitas Chocodot pun telah menjangkau konsumen di beberapa negara tetangga. Kesuskesasan ini mengantar Kiki mendapatkan penghargaan: The Greatest Innovation Award 2001 dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Sederet penghargaan lain pun sudah pernah disabet Kiki, diantaranya: 

  1. Produk terbaik dalam Pameran Makanan Internasional Tutto Food di Milan, Italia tahun 2011, 
  2. 4 penghargaan dari Indag Jabar “Food Etnik Jabar 2011 untuk kategori juara 1 Lomba Industri Makanan dan Minuman Berbahan Baku Lokal, kategori “Kreasi Kemasan Produk Makanan dan Minuman Menarik,
  3. Juara 2 kategori “Inovasi Produk Makanan dan Minuman dan Penggunaan Bahan Baku, 
  4. Juara 2 kategori “Pemberdayaan Masyarakat Lokal.” 
  5. Juara 3 Lomba Industri Makanan dan Minuman Berbahan Baku Lokal kategori Diversifikasi Produk Makan dan Minuman.

Keberhasilan ini menempatkan Kiki dalam deretan Wirausahawan muda sektor UKM yang berhasil mengembangkan usaha melalui dukungan on-line. “Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan maksimal untuk mendorong kemajuan perusahaan,” papar Kiki penuh semangat dan sangat optimis.


Selasa, 28 Februari 2023

Purwanto Joko Slameto - Bisnis Bebek Muda



Momok yang banyak dikhawatirkan oleh para penetas telur itik adalah rasio jumlah anak itik jantan yang lebih mendominasi dibandingkan jumlah anak itik betina. Maklum saja karena harga anak itik jantan jauh lebih murah dibandingkan dengan harga anak itik betina. Akan tetapi kini hal tersebut tidak lagi menjadi masalah yang cukup serius. Semenjak merebaknya warung makan yang menyajikan masakan serba bebek, bebek atau itik jantan muda justru banyak dicari orang. Permintaan suplai bebek untuk daging tidak kalah dengan permintaan bebek untuk petelur.

Kisah sukses bisnis bebek muda dialami oleh Purwanto Joko Slameto, lelaki yang berprofesi asli sebagai dosen Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, itu telah menikmati sukses bisnis sampingan bebek muda. Per bulan ia meluangkan waktu bolak-balik Jakarta Boyolali untuk menengok peternakan Bebeknya di Boyolali. Usahanya itu tidak sia-sia karena dari peternakannya itu pak Joko mampu mendapatkan pemasukan hingga mencapai angka sebesar Rp 86 juta rupiah.

Awalnya bisnis Pak Joko memang tidak berjalan mulus, puluhan rumah makan di Solo dan Yogyakarta yang ditawari itik jantan muda, tidak ada satupun yang berminat. Solo dan Yogyakarta sengaja dipilih pak Joko sebagai pasar pertama sebab dekat dengan lokasi peternakan, lagipula budaya makan daging itik sudah terbentuk di kedua wilayah itu. 

Pak Joko tidak menyerah. Bahkan ia semakin gencar menawarkan dagangannya tersebut. Alhasil, dari 300 ekor yang ditawarkan ke semua rumah makan, ada 210 ekor yang terjual. Walaupun jumlah yang terjual tidak seperti yang diharapkannya, tapi pak Joko mensyukurinya. Kebanyakan rumah-rumah makan tersebut masih mengandalkan daging dari itik apkir. Kalau pun diterima, rumah makan akan menawar dengan harga sangat rendah. Jauh dari harga yang ditetapkan oleh pak Joko, yaitu Rp 18.000 per ekor, dengan bobot rata-rata sekitar 1,2 kg.

Pada tahun 2008 warung-warung dan penyedia menu itik menjamur di Jakarta dan sekitarnya, hal ini menjadi berkah bagi usaha itik pak Joko, meski awalnya tetap tidak mudah menawarkan itik muda kepada mereka. Namun saat pasokan itik afkir mulai seret, mereka mulai mencoba itik muda. Dengan modal kartu nama yang ditinggalkannya kepada pemilik warung akhirnya satu per satu dari mereka mulai menghubungi pak Joko untuk memesan itik muda yang diternakkan olehnya. 

Dan lambat laun, pemesan itik muda pun kian bertambah banyak. Hal ini membuat pak Joko harus menjalin kemitraan dengan banyak peternak itik rumahan yang bersedia menyuplai itik muda kepadanya. Dengan demikian, setiap ada permintaan itik muda dari para pelanggannya, pasti bisa dipenuhi oleh pak Joko, sehingga roda bisnis akan terus menerus berputar. 

Pasar kian terbentang saat pak Joko menggunakan strategi lain, yaitu pemasaran via dunia maya. Lewat blog yang dibuatnya, pemilik peternakan bebek ABG itu pun sukses menjaring 16 pelanggan. Semuanya adalah restoran yang sebagian besar terletak di Jakarta, sisanya berlokasi di Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Totalnya, setiap hari ia mesti memasok 300 itik jantan muda untuk pelanggan barunya itu. Setengah pasokan didapat dari mitra yang menyetor itik siap jual kepadanya.

Kunci suksesnya yang lain adalah dengan memperkenalkan penjualan itik jantan muda dalam bentuk karkas. “Tujuannya adalah untuk meningkatkan harga jual dan citra itik jantan,” kata pak Joko. Bentuk karkas juga disukai oleh para pemilik rumah makan karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk pencabutan bulu. Itik diterima dalam bentuk daging yang bersih.

Lain lagi dengan cerita sukses bisnis penetasan telur dari Sulawesi, adalah Hasnah wanita muda yang sukses dengan itik-itik tetasannya. Semenjak SMP ia memang sudah terjun ke dunia penetasan telur itik. Kiprah Hasnah dalam dunia penetasan telur bebek dan menjual anakan bebek kepada peternak bukan tanpa kendala. Kendala yang dihadapi bukan hanya kendala modal, tetapi juga kendala sosial. Ada komentar pesimisme dari orang-orang di sekitar tempat tinggal Hasnah, bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mandiri dan berkiprah dalam pengembangan ekonomi keluarganya hanya dengan menetaskan telur bebek.

Cibiran beraliran pesimisme tersebut tak lantas membuat Hasnah menyerah. Ia terus menetaskan telur, menabung uangnya untuk membeli peralatan-peralatan yang masuk kategori mewah untuk ukuran orang desa, bersolek ketika ada acara-acara sosial yang membuat kaum wanita di sekitarnya menjadi tertarik untuk mengikuti jejaknya, dan Hasnah berhasil dengan caranya itu.

Hasnah juga menuturkan, sampai hari ini, hampir semua perempuan di desanya melakukan usaha penetasan telur di kolong rumah masing-masing untuk membantu ekonomi keluarganya, dan itu nyata adanya. Berkat bebek-bebek kecil, banyak orang tua mengirimkan anaknya ke kota untuk memperoleh pendidikan yang layak. Tak hanya itu, banyak kaum lelaki yang merasa terbantu oleh usaha istri-istrinya, mereka lebih tenang dalam bekerja di luar rumah, dan beban ekonomi keluarga berkurang, serta perlahan tapi pasti banyak keluarga yang taraf kehidupan ekonominya menjadi meningkat berkat bisnis ini. 


Selasa, 01 November 2022

Rozi dan Fadli - Sandal Imucu


Kisah sukses Rozi dan Fadli dengan produk andalannya yaitu sandal imucu, berawal dari modal sebesar Rp 100.000. Rozi dan Fadli memulai usaha dengan membuat sandal-sandal yang imut dan lucu. Mereka menyebutnya “imucu” alias imut dan lucu. Bentuk sandalnya bermacam-macam, ada yang berbentuk hewan dan buah-buahan. Awalnya mereka mencari agen dengan melakukan promosi di emperan. 

“Makanya, tagline yang menjadi semangat kami sekarang, from emperan to empire. Karena tadinya kami usaha di emperan, sekarang sudah jadi empire,” kata Rozi.

Setiap agen harus membeli paket seharga Rp 250.000. Uang sebesar Rp 2,5 juta dari 10 agen inilah yang digunakan Rozi dan Fadli untuk memproduksi sandal lucu. Dari situ, order yang mereka terima semakin bertambah banyak. Dalam satu tahun pertama, usaha mereka praktis tanpa saingan, sehingga bisa meraih pemasukan hingga mencapai angka sebesar Rp 1 miliar. 

“Tapi, dalam tiga bulan pertama, kami sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Semua keuntungan yang didapat waktu itu langsung habis untuk diputar lagi sebagai modal.” jelas Rozi.

“Di bulan keempat baru kami berpikir bahwa tenaga yang kami sisakan sepulang kantor untuk membungkus produk juga harus dihargai. Akhirnya, ya, kami bagi keuntungan untuk diambil Rp 600.000 per orang,” lanjut Rozi. 

Berikutnya, mereka mengambil celah berpromosi dalam sebuah pameran franchise di Surabaya, Jawa Timur. Lebih dari 500 brosur mereka sebarkan kepada para pengunjung di area parkir lokasi pameran. 

“Bahkan kami sampai kejar-kejaran dengan anggota satpam, karena yang ikut pameran saja membayar ke panitia Rp 30 juta. Kami enggak bayar, tapi kok, seenaknya berpromosi di area pameran, mungkin mereka melihatnya seperti itu. Akhirnya, dari hasil promosi ilegal tersebut, kami mendapatkan 10 agen.“ kata Fadli

Kesuksesan mereka tak hadir begitu saja. Sebelum memulai bisnis sandal-sandal lucu, Rozi dan Fadli masing-masing pernah mencoba berbagai bidang usaha. Mulai dari usaha roti bakar hingga mie ayam. Saat itu mereka juga masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Namun berkat kelihaian mereka dalam mengatur waktu, alhasil karir tetap bisa dipertahankan dan bisnis pun juga berjalan lancar.


Selasa, 01 Maret 2022

Kisah Sukses Gusti Ngurah Anom - Cok Konveksi & Krisna Bali



Gusti Ngurah Anom merupakan satu dari sekian banyak pengusaha sukses dari Bali. Kisah suksesnya dimulai dari nol alias tidak berbekal apa pun dan tanpa persiapan yang memadai menghadapi dunia baru saat ia hijrah menuju Denpasar. 

Awal mulanya, Gusti Ngurah Anom yang berasal dari wilayah pelosok pedesaan Bali dan sekarang terkenal memiliki 12 gerai oleh-oleh khas Bali ini, pada tahun 2003 lalu ia berangkat ke Denpasar untuk menjadi tukang cuci mobil selama dua tahun dan mampu mengumpulkan uang untuk membeli sepeda motor. Karena ingin memiliki keterampilan, maka Gusti Ngurah Anom belajar sambil magang kerja pada perusahaan Konveksi Sidharta dan menjadi Karyawan yang sangat pandai dan cepat beradaptasi di sana. Kemudian, dengan berbekal kemauan dan tekad yang kuat dalam kerja keras, dalam waktu enam bulan Gusti Ngurah Anom sudah bisa menguasai kemampuan dalam mengelola konfeksi. Sehingga Gusti Ngurah Anom pun berniat mandiri dan memberanikan diri mendirikan perusahaan konveksi sendiri yang kemudian diberi nama Cok Konveksi. 

Awal mula keberhasilannya dalam mendirikan Cok Konveksi sangatlah berat. Dan baru menjelang tahun 2006, Cok Konveksi baru berkibar dan memiliki nama besar. Setelah Cok Konveksi menjadi sebuah bisnis yang cukup besar, Gusti Ngurah Anom pun berusaha merambah ke bisnis baru lainnya, sehingga dia dan istrinya melakukan survey di daerah Denpasar untuk mencari tahu prospek bisnis yang baru dan menghasilkan. 

Alhasil dia dan istrinya mendapatkan kesimpulan, bahwa dengan pesatnya perkembangan dunia pariwisata di Bali, bisnis pusat oleh-oleh menjadi hal yang sangat menarik untuk dilirik karena sebagian besar penjualan dari pusat oleh-oleh adalah baju dan kaos, dan itu akan selaras dengan bisnis yang telah ia rintis sebelumnya yaitu Cok Konveksi. Dari kesimpulan itulah Gusti Ngurah Anom dan Istrinya pun mulai membuka gerai oleh-oleh khas bali yang diberi nama Krisna Bali. Di situ ia banyak memajang aneka produk garmen dari Cok Konveksi, dan tentu saja berbagai jenis oleh-oleh khas Bali lainnya baik itu makanan ringan, ornamen seni, dan sebagainya.

Dari yang semula hanya satu gerai, usahanya tersebut semakin berkembang hingga ia pun berhasil menambah sejumlah gerai yang dibuka di beberapa tempat di sudut kota Denpasar dan sekitarnya. Kesuksesan yang ia raih ini tentu saja tidak terlepas dari keuletannya dalam menjalankan usahanya. Dan itu semua sangat disyukuri oleh Gusti Ngurah Anom yang kini dikenal masyarakat luas sebagai seorang pengusaha oleh-oleh khas Bali.


Selasa, 22 Februari 2022

Khoirul Anwar - Teknologi 4G

Dalam perkembangan dunia teknologi saat ini mungkin kita sudah tidak asing dengan kata 3G, namun apakah Anda tahu bahwa saat ini teknologi yang setingkat di atas 3G sudah ditemukan? Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah, apakah Anda tahu bahwa penemu teknologi mutakhir dunia telekomunikasi tersebut adalah seorang putra bangsa Indonesia? Ia adalah profesor Khoirul Anwar.

Nah, bagaimanakah perjalanan hidup Prof. Khoirul Anwar hingga sukses seperti sekarang ini? Simak kisahnya berikut ini:

Sosok sederhana bernama Khoirul Anwar lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada tanggal 22 Agustus 1978. Ia lahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana bahkan dapat dibilang kurang mampu. Ayahnya bernama Sudjianto dan ibu bernama Siti Patmi, mereka berdua berkerja sebagai buruh tani dan terkadang juga buruh serabutan.

Masa kecil yang dijalaninya cukup berat, bahkan ketika dirinya masih berada di bangku sekolah dasar ayahandanya meninggal dunia. Semenjak itu, ibunya lah yang berjuang membesarkan ia dengan pekerjaan seadaanya. Menyadari hal tersebut, membuat dirinya tidak bisa berpangku tangan. Ia selalu berusaha bagaimana caranya agar kehidupan keluarganya bisa berangsur membaik. 

Selepas pendidikan SMP, ia meneruskan ke SMA yang berada di kota Kediri. Di sana ternyata keberuntungan senantiasa menaunginya, ketika membutuhkan kos untuk tempat tinggal selama di kota, ada seseorang yang menawarkan kos gratis untuknya. Setelah itu kehidupan Khoirul benar-benar mandiri tanpa berharap bantuan dari orang tuanya.

Hingga saat ia meneruskan studinya ke universitas ITB Bandung jurusan Teknik Elektro, ia tidak harus memberatkan orang tuanya karena ia mendapatkan beasiswa penuh dari universitas berkat prestasi dan kemampuan akademiknya yang luar biasa. Hal tersebut terus berlanjut hingga pada suatu saat ia ditawari beasiswa S2 dari sebuah perusahaan swasta, Panasonic untuk melanjutkan studinya di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), di Jepang.

Tanpa berfikir panjang, ia yang merupakan salah satu lulusan cumloude ITB tahun 2000 langsung menerimanya dan berangkat ke Jepang. Dengan kemampuannya yang di atas rata-rata, ia mampu menuntaskan program masternya pada tahun 2005 dan berselang hanya tiga tahun kemudian ia pun berhasil menyelesaikan program doctoral S3 nya di universitas yang sama. 

Selama masa studinya, Khoirul Anwar juga pernah mendapatkan penghargaan internasional yaitu IEEE Best Student Paper Award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) pada tahun 2006. Penghargaan tersebut adalah sebuah penghargaan bergengsi di bidang teknologi telekomunikasi internasional. Tidak hanya itu, pada tahun 2010 ia juga mendapatkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada event IEEE VTC 2010.

Kisah besar Khoirul dalam menemukan teknologi mutakhir 4G diawali ketika dirinya sedang terdesak akan deadline untuk mengirimkan judul penelitian demi mendapatkan dana riset. Pada waktu itu dirinya sedang bekerja sebagai dosen dan peneliti di laboratoriom Information Theory and Signal Processing di Universitas Japan Advanced Institute of Science and Technology, Jepang.


Pada tahun 2010 bersama koleganya, Khoirul Anwar, alumni ITB kelahiran Kediri ini merombak pakem efisiensi alat komunikasi. Ia mematenkan temuannya seputar sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Atas karyanya, Khoirul Anwar mendapat penghargaan pada 2010, dari Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC), Taiwan.

Saat itu dirinya sudah kehabisan ide tentang penelitian yang harus segera ia lakukan. Jika banyak orang mengatakan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, mungkin akan sangat tepat dilabelkan terhadap apa yang terjadi pada Khoirul. Ia yang mempunyai hobi menonton film animasi Son Goku sejak kecil nyatanya memberikan dampak yang luar biasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Teringat dengan salah satu adegan dimana Goku, sang pemeran utama film, mengeluarkan senjata terbesarnya yaitu Denki Dama, Goku harus meminjam banyak energy dari alam untuk dikumpulkan menjadi sebuah bola energy yang amat kuat. Dari konsep sederhana tersebutlah Khoirul mendapatkan inspirasi menulis penelitian dengan judul:

“A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval” 

Penelitian tersebut kemudian ia kembangkan menjadi teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).

Teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) secara sederhana merupakan pengembangan dalam sistem telekomunikasi wireless 3G dengan mengurangi banyak sekali kekurangan dan hambatan dari teknologi sebelumnya. Penyempurnaan tersebut akhirnya dinamai dengan teknologi 4G. Berkat karyanya tersebutlah ia mendapatkan perhatian besar dari dunia telekomunikasi modern. Karyanya disebut-sebut sebagai salah satu terobosan teknologi telekomunikasi terbesar yang ada saat ini. Teknologi 4G kini telah ia patenkan dan mulai dikembangkan oleh perusahaan telekomunikasi besar yang ada di Jepang dan Cina.

Saat ini Khiorul Anwar masih bekerja di Jepang sebagai dosen dan peneliti, namun ke depan ia dan keluarganya yang juga ikut tinggal di sana berencana untuk pulang dan mengabdi di Indonesia.

Mimpi dan kerja keras yang tidak terbatas telah membawa Khoirul Anwar pada kesuksesan yang mungkin belum pernah ia bayangkan seperti saat ini. Usaha yang tak kenal menyerah dan menghargai setiap hal kecil sebagai ide besar merupakan inspirasi yang dapat kita dapatkan dari sosok profesor Khoirul Anwar. 

Selasa, 28 Desember 2021

Reza Nurhilman - Keripik Maicih



Anda pernah mendengar atau bahkan pernah mencicipi keripik Maicih? Maicih tak lebih dari keripik yang terbuat dari singkong dengan rasa yang pedas. Namun keripik MAICIH sangat terkenal karena rasa pedasnya dan cara jualannya yang unik. Nah, apa yang membuat keripik ini begitu fenomenal, bahkan omzetnya mencapai 4 miliar sebulan?

Orang dibalik kesuksesan keripik Maicih adalah Reza Nurhilman, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Maranatha, Bandung. Pada usia 23 tahun dan dengan modal sekitar 15 juta rupiah, anak bungsu dari 3 bersaudara ini mulai membuka bisnis keripik pedasnya ini. 

Reza adalah pemilik usaha keripik pedas Maicih, yang sempat membuat heboh remaja Bandung. Pemuda yang biasa disapa Axl ini mampu mengantongi omzet 4 miliar rupiah setelah setahun meluncurkan usahanya melalui situs jejaring sosial twitter, yang dimulai pada pertengahan 2010. Nama Maicih sendiri terinsipirasi dari nama dompet kecil yang biasa dipakai ibunya saat berbelanja ketika Reza masih kecil. Maicih terdiri dari 3 produk yaitu keripik singkong, gurilem dan jeblak.

Usahanya ini berawal dari perkenalannya dengan seorang wanita paruh baya yang jago membuat resep keripik pedas. Setelah pertemuannya itu Reza bekerja sama dengan wanita paruh baya tersebut dan mulai menjalankan usaha sendiri dan juga memasarkannya. Reza sendiri berasal dari keluarga dengan ekonomi sederhana dan setelah lulus SMA pada tahun 2005 sempat menganggur selama 4 tahun hingga akhirnya kuliah pada tahun 2009.

Saat menganggur itu, Reza melakukan apapun untuk mendapatkan uang, seperti jual beli barang elektronik, pupuk dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk membantu ekonomi keluarganya yang telah lama hanya ditopang oleh kerja keras sang ibu. 

Setelah setahun berjualan Maicih, ternyata usahanya ini berjalan dengan sukses dan membawa berkah tersendiri bagi dirinya. Sekarang bisnis Maicihnya ini memiliki omzet sekitar 4 miliar dan produksinya sekarang mencapai 75 ribu per minggu.

Hal yang menarik dari Maicih ini ialah strategi pemasarannya yang unik dan berbeda dari produk-produk sejenisnya. Keripik Maicih tidak dapat ditemui di toko-toko atau gerai-gerai tertentu, namun dipasarkan melalui media jejaring sosial seperti twitter dan facebook serta dari mulut ke mulut. Dengan keterbatasan dana membangun usaha, pemuda 23 tahun ini meraih sukses tak terkira berkat dunia maya.

Berangkat dengan modal sekitar Rp 15 juta, ia membuat permainan yang memancing penasaran para Facebookers dan Tweeps. Ia merancang lokasi penjualan berpindah-pindah setiap hari, yang hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#Maicih) atau Tweet Maicih (@infoMaicih). Strategi itu sukses. Keripiknya menjadi barang buruan. Konsumen harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan keripik superpedas itu. Bahkan, antrean pernah memanjang hingga satu kilometer. “Strategi pemasaran sengaja saya pilih berpindah-pindah sehingga orang penasaran untuk selalu mengetahui di mana keripik Maicih nongkrong,” ucapnya.

Hal ini menurut Reza ditujukan untuk menghindari habisnya Maicih di gerai saat pelanggan datang untuk membeli. Maicih dijual di mobil-mobil para agennya (biasa disebut jenderal) melalui twitter @infoMaicih. Jadi, pembeli dapat mengetahui di lokasi mana saja jenderal Maicih “gentayangan” untuk menjual Maicih beserta waktu jualannya. 

Strategi pemasarannya yang banyak memanfaatkan media jejaring sosial memberikan keuntungan tersendiri bagi usaha Maicih karena pembeli yang telah merasakan dahsyatnya keripik Maicih pasti akan menceritakan dahsyatnya keripik Maicih melalui twitter atau facebook. Hal inilah yang menjadi kekuatan pemasaran keripik Maicih. 

Reza juga memberikan tips bisnis untuk anak-anak muda.  Menurutnya anak-anak muda itu harus jauh lebih yakin. Jika ingin menekuni sesuatu harus konsisten, ngotot, dan antusias. Kita harus semangat kalau kita punya sesuatu, kita harus yakin. Untuk menuju puncak itu memang tidak mudah, tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, tapi ketika kita mengejarnya dengan yakin dan percaya, pasti akan tercapai. Maicih berawal dari impian, jadi kerja keras untuk mencapai impian tersebut itu harus. Tidak mungkin kita hidup selalu bergantung pada orang lain.