Selasa, 09 Mei 2023

Jagalah Istrimu Dari Api Neraka

Menjaga istri dari sengatan api neraka.




Kewajiban paling besar dari seorang suami terhadap istrinya adalah menjaga istrinya agar selamat dari api neraka. Berikut ini ayat Al-Qur’an terkait dan beberapa penjelasan dari hadits yang terkait.

Allah ta’ala berfirman: 

“Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api neraka.” (At Tahrim: 6)

“Perintahkanlah keluargamu agar melakukan shalat.” (Thaha: 132)

Berikut ini beberapa hadits yang menyatakan kewajiban suami menjaga istrinya: 

Dari Ibnu Umar dari Nabi saw bahwa Rasulullah bersabda: “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Nabi saw bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin istri-istrimu, karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada di sampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan shalat kepada istrinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Diceritakan bahwa Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

Rasulullah saw bersabda, yang artinya: 

“Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni istri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui.’ Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka.” (Al-Hadits)

Ibnu Abbas berkata: 

“Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.”

Dari uraian ayat dan hadits di atas nampak bahwa seorang suami yang gagal mendidik istri dan anak-anaknya akan mendapat masalah besar di akhirat kelak.


Manfaaat Buah Naga

 Naga



Buah naga mungkin masih belum umum jika dibandingkan dengan jenis buah lain seperti apel atau jeruk. Buah yang satu ini memiliki bentuk dan nama yang unik. Tetapi dibalik bentuk dan namanya yang unik terdapat banyak potensi dan manfaat membudidayakan buah yang satu ini.

Buah yang masih masuk dalam keluarga kaktus ini umumnya dikenal di masyarakat berwarna merah, tetapi juga ada yang berwarna kuning. 

Daging buah naga berwarna putih atau merah dan bijinya berwarna hitam dan kecil-kecil. Buah naga biasa dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga, buah ini memiliki kadar air yang cukup tinggi yaitu sekitar 90 % dari berat buah. Sementara kandungan gulanya antara 13-18 briks, sehingga membuat buah ini terasa manis. Selain sebagai buah segar, buah naga juga bisa diolah menjadi jus, sari buah, selai, dan beragam bentuk sajian makanan sesuai keinginan. 

Buah ini sangat bermanfaat sebagai pencegah penyakit kanker usus besar, menurunkan kadar kolesterol darah, menjaga kesehatan jantung, kencing manis, tekanan darah tinggi, meredakan penyakit asma, batuk, keracunan zat kimia logam, meningkatkan ketajaman mata, menguatkan kerja otot, dan menghaluskan kulit.  

Menurut riset para ahli, buah ini mengandung vitamin C, beta-karoten, kalsium, karbohidrat. Selain itu, kadar serat pangannya juga cukup tinggi, serat ini memiliki fungsi untuk mengikat zat karsinogen yang merupakan penyebab timbulnya penyakit kanker dan memperlancar sistem pencernaan.

Khasiat buah naga :

  • Menguatkan ginjal dan tulang.
  • Menyembuhkan rematik.
  • Menstabilkan kadar gula dalam darah.
  • Mengatasi asam urat.
  • Mengobati kanker dan tumor.
  • Mengobati penyakit jantung.
  • Mempertajam fungsi pengelihatan.
  • Menyembuhkan penyakit mata.


Tujuan Menikah.



Telah dijelaskan di depan bahwa dengan menikah kita telah mengikuti sunnah. Dengan mengikuti sunnah, tentu kehidupan kita akan menjadi berkah. Bukankah ini yang selama ini kita idam-idamkan? Hidup kita menjadi penuh berkah. 

Menikah itu bukan semata-mata penyaluran hasrat biologis, namun menikah merupakan sarana terbentuknya masyarakat, bangsa dan negara yang kuat serta bermartabat.

Menikah memiliki tujuan-tujuan mulia dan jelas. Bukan semata-mata urusan pribadi seseorang. Di antara tujuan pernikahan adalah sebagai berikut:

  • Melaksanakan tuntunan para Rasul.

Menikah adalah ajaran para Nabi dan Rasul. Hal ini menunjukkan, pernikahan bukan semata-mata urusan kemanusiaan semata, namun ada sisi Ketuhanan yang sangat kuat. Oleh karena itulah para Rasul mencontohkannya dengan menjadikan pernikahan sebagai bagian dari ajaran mereka, untuk dicontoh oleh umat manusia.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar Ra’du: 38).

Jadi Rasul itu menikah dan punya anak. Rasulullah saw bersabda, “Empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu sifat malu, memakai wewangian, bersiwak dan menikah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

  • Menguatkan Ibadah.

Menikah adalah separuh dari agama. Oleh karena itulah dengan menikah akan semakin menguatkan ibadah yang merupakan tujuan manusia diciptakan ke muka bumi ini.

Nabi saw bersabda, “Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah swt untuk separuh sisanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

  • Menjaga kebersihan dan kebaikan diri.

Semua manusia memiliki insting dan kecenderungan kepada pasangan jenisnya yang menuntut disalurkan secara benar. Apabila tidak disalurkan secara benar, yang muncul adalah penyimpangan dan kehinaan. Banyaknya pergaulan bebas, fenomena aborsi di kalangan mahasiswa dan pelajar, kehamilan di luar pernikahan, perselingkuhan, dan lain sebagainya, menjadi bukti bahwa kecenderungan syahwat ini sangat alami sifatnya. Untuk itu harus disalurkan secara benar dan bermartabat, dengan pernikahan.

Rasulullah saw bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya” (Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, dan Baihaqi).

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari dua keburukan maka ia akan masuk surga: sesuatu di antara dua bibir (lisan) dan sesuatu di antara dua kaki (kemaluan)” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim. Albani mentashihkan dalam As Sahihah).

  • Mendapatkan ketenangan jiwa

Perasaan tenang, tenteram, nyaman atau disebut sebagai sakinah, muncul setelah menikah. Tuhan memberikan perasaan tersebut kepada laki-laki dan perempuan yang melaksanakan pernikahan dengan proses yang baik dan benar. Sekadar penyaluran hasrat biologis tanpa menikah, tidak akan bisa memberikan perasaan ketenangan dalam jiwa manusia.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar Rum: 21).

  • Mendapatkan keturunan

Tujuan mulia dari pernikahan adalah mendapatkan keturunan. Semua orang memiliki kecenderungan dan perasaan senang dengan anak. Bahkan Nabi menuntutkan agar menikahi perempuan yang penuh kasih sayang serta bisa melahirkan banyak keturunan. Dengan memiliki anak keturunan, akan memberikan jalan bagi kelanjutan generasi kemanusiaan di muka bumi. Jenis kemanusiaan akan terjaga dan tidak punah, yang akan melaksanakan misi kemanusiaan dalam kehidupan.

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik.” (QS. An-Nahl: 72).

  • Investasi akhirat

Memiliki anak yang shalih dan shalihah, akan memberikan kesempatan kepada kedua orang tua untuk mendapatkan surga di akhirat kelak. Inilah yang dinamakan bahwa anak adalah investasi akhirat.

Rasulullah saw bersabda, “Di hari kiamat nanti orang-orang disuruh masuk ke dalam surga, namun mereka berkata: wahai Tuhan kami, kami akan masuk setelah ayah dan ibu kami masuk lebih dahulu. Kemudian ayah dan ibu mereka datang. Maka Allah berfirman: Kenapa mereka masih belum masuk ke dalam surga, masuklah kamu semua ke dalam surga. Mereka menjawab: wahai Tuhan kami, bagaimana nasib ayah dan ibu kami? Kemudian Allah menjawab: masuklah kamu dan orang tuamu ke dalam surga” (HR. Imam Ahmad dalam musnadnya).

  • Menyalurkan fitrah

Di antara fitrah manusia adalah berpasangan, bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk menjadi pasangan agar saling melengkapi, saling mengisi, dan saling berbagi. Kesendirian merupakan persoalan yang membuat ketidakseimbangan dalam kehidupan. Semua orang ingin berbagi, ingin mendapatkan kasih sayang dan menyalurkan kasih sayang kepada pasangannya.

Manusia juga memiliki fitrah kebapakan serta keibuan. Laki-laki perlu menyalurkan fitrah kebapakan, perempuan perlu menyalurkan fitrah keibuan dengan jalan yang benar, yaitu menikah dan memiliki keturunan. Menikah adalah jalan yang terhormat dan tepat untuk menyalurkan berbagai fitrah kemanusiaan tersebut.

  • Membentuk peradaban.

Menikah menyebabkan munculnya keteraturan hidup dalam masyarakat. Muncullah keluarga sebagai basis pendidikan dan penanaman nilai-nilai kebaikan. Lahirlah keluarga-keluarga sebagai pondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan menikah, terbentuklah tatanan kehidupan kemasyarakatan yang ideal. Semua orang akan terikat dengan keluarga, dan akan kembali kepada keluarga.

Peradaban yang kuat akan lahir dari keluarga yang kuat. Maka menikahlah untuk membentuk keluarga yang kuat. Dengan demikian kita sudah berkontribusi menciptakan lahirnya peradaban yang kuat serta bermartabat.

Senin, 08 Mei 2023

Chibab Jinny Kitchen

 

Bahan yang dibutuhkan:

  • ½ bawang Bombay
  • 1 bagian ayam siap santap tanpa tulang yang berlapis kulit tepung/chiken nuget
  • 2 telur
  • Nasi secukupnya
  • 2 sdm kecap asin
  • 1,5 sdm madu atau gula
  • Rumput laut
  • Minyak
  • Mayonaise

Cara membuat:

  1. Pastikan sebelumnya sudah menyiapkan nasi yang sudah masak dan ayam.
  2. Potong dadu ayam/chiken nuget, untuk besarnya bisa sesuai selera.
  3. Kocok 2 telur. Setelah terkocok merata masak orak-arik
  4. Potong memanjang bawang Bombay.
  5. Panaskan wajan dengan api sedang kemudian tuang minyak.
  6. Masukkan bawang Bombay masak hingga sedikit berubah warna.
  7. Tambahkan ayam yang telah dipotong tadi. Aduk hingga bawang Bombay benar-benar menjadi lebih coklat.
  8. Tuang nasi matang, pastikan tidak ada yang menggumpal atau menempel.
  9. Tuang kecap asin, madu atau gula 2/3 sdm gula.
  10. Aduk semuanya hingga merata. Hingga matang.
  11. Hidangkan dengan menuang nasi, telur, rumput laut dan beri mayonaise serta tabutan wijen.

Minggu, 07 Mei 2023

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah, Diganti 1000 Kali Lipat


 

Kisah nyata ini terjadi di Jawa Tengah. Hari itu, seorang lelaki tengah mengengkol Vespanya. Tapi tak kunjung bunyi. “Jangan-jangan bensinnya habis,” pikirnya. Ia pun kemudian memiringkan Vespanya. Alhamdulillah... akhirnya Vespa itu bisa distarter.

“Bensin hampir habis. Langsung ke pengajian atau beli bensin dulu ya? Kalau beli bensin dulu, harus muter ke belakang, padahal pengajiannya di depan sana,” demikian kira-kira kata hati lelaki itu. Kemana arah Vespanya? Ia arahkan ke pengajian. “Habis ngaji baru beli bensin.”

“Ma naqashat maalu ‘abdin min shadaqah, bal yazdad, bal yazdad, bal yazdad. Tidak akan berkurang harta karena sedekah, bahkan ia akan bertambah, bahkan ia bertambah, bahkan ia bertambah,” kata Sang Kyai di pengajian itu, yang ternyata membahas sedekah.

Setelah menerangkan tentang keutamaan sedekah, Sang Kyai mengajak hadirin untuk bersedekah. Lelaki yang membawa Vespa itu ingin bersedekah juga, tetapi uangnya tinggal seribu rupiah. Uang  segitu, di zaman itu, hanya cukup untuk membeli bensin setengah liter.

Syaithan mulai membisikkan ketakutan kepada lelaki itu, “Itu uang buat beli bensin. Kalo kamu pakai sedekah, kamu tidak bisa beli bensin. Motormu mogok, kamu mendorong. Malu. Capek.”

Sempat ragu sesaat, namun lelaki itu kemudian menyempurnakan niatnya. “Uang ini sudah terlanjur tercabut, masa dimasukkan lagi? Kalaupun harus mendorong motor, tidak masalah buatku!”

Pengajian selesai. Lelaki itu pun pulang. Di tengah jalan, sekitar 200 meter dari tempat pengajian Vespanya berhenti. Bensin benar-benar habis. 

“Nah, benar kan. Kalo kamu tadi tidak sedekah, kamu bisa beli bensin dan tidak perlu mendorong motor,” syaithan kembali menggoda, kali ini supaya pelaku sedekah menyesali perbuatannya.

Tapi subhanallah, orang ini hebat. “Mungkin emang sudah waktunya ndorong.” Meski demikian, matanya berkaca-kaca, “Enggak enak jadi orang susah, baru sedekah seribu saja sudah dorong motor.”

Baru sepuluh langkah ia mendorong motor, tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti setelah mendahuluinya. Kijang itu kemudian mundur.

“Kenapa, Mas, motornya didorong?” tanya pengemudi Kijang, yang ternyata teman lamanya. 

“Bensinnya habis,” jawab lelaki itu.

“Yo wis, minggir saja. Vespanya diparkir. Ayo ikut aku, kita beli bensin.”

Sesampainya di pom bensin, temannya membeli air minum botol. Setelah airnya diminum, botolnya diisi bensin. Satu liter. Subhanallah, sedekah lelaki itu kini dikembalikan Allah dua kali lipat.

“Kamu beruntung ya,” kata sang teman kepada lelaki itu, begitu keduanya kembali naik Kijang.

“Untung apaan?”

“Kita menikah di tahun yang sama, tapi sampeyan sudah punya 3 anak, saya belum.”

“Saya pikir situ yang untung. Situ punya Kijang, saya cuma punya Vespa.”

“Hmm... mau, anak ditukar Kijang?”

Mereka kan ngobrol banyak, tentang kesusahan masing-masing. Rupanya, sang teman lama itu simpati dengan kondisi si pemilik Vespa.

Begitu sampai... “Mas, saya enggak turun ya,” kata pemiliki Kijang. Lalu ia menerogoh kantongnya mengeluarkan sebuah amplop.

“Mas, titip ya, bilang ke istrimu, doakan kami supaya punya anak seperti sampeyan. Jangan dilihat di sini isinya, saya juga belum tahu isinya berapa,” bonus dari perusahaan itu memang belum dibukanya.

Sesampainya di rumah. Betapa terkejutnya lelaki pemilik Vespa itu. Amplop pemberian temannya itu isinya satu juta rupiah. Seribu kali lipat dari sedekah yang baru saja dikeluarkannya. 

Sungguh benar firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261). 

 

Jumat, 05 Mei 2023

Upaya Pencegahan Persalinan Preterm Labor



Upaya pencegahan persalinan preterm labor dapat dilakukan sebagai berikut (Winkjosastro, 2002) :

  1. Pendidikan masyarakat melalui media yang ada tentang bahaya dan kerugian kelahiran preterm atau BBLR; 
  2. Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan antenatal yang baik; 
  3. Mengusahakan makan lebih baik pada masa hamil agar tidak kekurangan gizi dan anemia; 
  4. Menghindarkan kerja berat selama hamil.

Sedangkan menurut Manuaba (1998), persalinan preterm dapat dicegah dengan : 

  1. Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur; 
  2. Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan preterm; 
  3. Memberikan nasihat tentang gizi saat kehamilan, meningkatkan pengertian KB-interval, memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera melakukan konsultasi, menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi/diobati; 
  4. Meningkatkan keadaan sosial–ekonomi keluarga dan kesehatan lingkungan.

Partus prematurus menurut Mochtar (199) dapat dicegah dengan mengambil langkah-langkah berikut ini : 

  1. Jangan menikah terlalu muda dan jangan pula terlalu tua (idealnya 20 sampai 30 tahun); 
  2. Perbaiki keadaan sosial ekonomi; 
  3. Cegah infeksi saluran kencing;
  4. Berikan makanan ibu yang baik, cukup lemak, dan protein; 
  5. Cuti hamil; 
  6. Prenatal care yang baik dan teratur; 
  7. Pakailah kontrasepsi untuk menjarangkan anak.


Sawo Obat Diare

Sawo



Buah bulat telur berwarna coklat ini, memiliki rasa yang manis saat sudah matang, rasa sepat dan banyak memiliki getah saat masih muda. Getah dari buah dan daunnya, bisa dimanfaatkan sebagai obat diare. Selain itu getahnya juga bisa digunakan campuran gula-gula.  

Untuk mengobati diare :

Cara 1 : Ambil ± 15 tetes getah buah sawo yang masih muda, lalu diseduh dengan ½ gelas air panas. Minum hasil rebusan sekaligus.

Cara 2 : Siapkan 1 buah sawo yang masih muda, cuci bersih. Kemudian, parut buah, peras dan saring [berilah sedikit air hangat bila perlu] untuk mengambil airnya. 

Cara 3 : Siapkan 1 mangkuk daun sawo segar, lalu cincang kasar. Rebus dengan 2 gelas air bersih, selama ± 15 menit. Minum air hasil rebusan secara teratur 3 x 1 hari.

Untuk mengobati disentri :

Cara meramu : Ambil 8 buah sawo muda, cuci sampai bersih. Kunyah-kunya halus dengan garam secukupnya. Telan airnya sedikit demi sedikit, kemudian minumlah air hangat. Lakukan hal yang sama secar teratur 2 x 1 hari sampai benar-benar sembuh.

Untuk mengobati radang mulut :

Cara meramu : Ambil 1 mangkuk daun sawo, cuci bersih dan cincang kasar. Rebus hasil cincangan daun dalam 2 gelas air bersih selama ± 10 menit. Dan pakailah air hasil rebusan untuk berkumur.

Berdasarkan riset para ahli, daun dan batang pohon sawo ternyata memiliki kandungan Saponin dan Tanin. Zat-zat inilah yang memiliki peran penting untuk membantu proses penyembuhan beberapa penyakit yang disebutkan di atas.


Kamis, 04 Mei 2023

Sedekah Yang Membuatmu Kaya



Syarat dan ketentuan sedekah agar bisa kaya

Banyak orang yang berpendapat kalau kita bersedekah harus ikhlas, tetapi belum banyak orang yang tahu tentang apa itu ikhlas dalam bersedekah. Ikhlas dalam bersedekah itu sebenarnya sangat sederhana, namun banyak orang yang mempersulit arti ikhlas tersebut. Bagaimana ikhlas dalam bersedekah itu? Berikut ini dipaparkan apa saja sebenarnya syarat dan ketentuan sedekah.

• Ikhlas

Ikhlas disini bukan berarti Anda tidak boleh mengharapkan sesuatu. Dengan Anda bersedekah, Anda boleh mengharapkan apapun yang Anda inginkan, misalnya, Anda bersedekah karena ingin dikembalikan 700 kali lipat oleh Allah swt, Anda bersedekah karena ingin dimudahkan rezekinya, Anda bersedekah karena ingin menjadi pengusaha. Itu semua sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah, Anda bersedekah tetapi mengharapkan sesuatu dari manusia, misalnya, pujian dari orang lain. Itu sangat tidak dibolehkan.

• Banyak-banyaklah bersedekah

Sedekah banyak-banyak terutama barang yang sangat Anda cinta. Misalnya, rumah, mobil, motor, atau uang. Kalau Anda yakin, sedekahkan saja, asalkan masih ada sisa untuk makan Anda. Allah itu maha kaya, semua yang dimiliki orang kaya itu punya Allah, kapanpun Allah mau ambil, pasti bisa. Jadi kapanpun Anda minta kaya, bila Allah menghendaki pasti bisa.

• Shalat 7 waktu, membaca Al-Qur’an, dan berdoa

Yang dimaksud shalat 7 waktu adalah Isya, Tahajud, Subuh, Dhuha, Zhuhur, Ashar, Maghrib. Jadi bukan hanya shalat wajib saja yang harus Anda lakukan, tetapi Shalat sunnah Tahajud dan shalat Dhuha juga sebaiknya dilakukan, agar semua keinginan Anda cepat dikabulkan oleh Allah swt. 

Bila Anda tidak terlalu banyak dosa, pasti dengan melakukan hal-hal di atas dalam 40 hari saja, Anda sudah bisa kaya luar biasa. Tetapi bila Anda merasa memiliki banyak dosa, Anda tidak perlu kawatir, dengan melakukan hal di atas secara terus menerus, insya Allah selain Anda bisa kaya, dosa Anda pun akan diampuni oleh Allah swt.

Ad-Damiri (Ilmuwan Muslim)

Ad-Damiri 



 

Abu al-Baqa` Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali (wafat pada tahun 1450) adalah yang pertama mengembangkan sistem taksonomi/klasifikasi khusus ilmu hewan dan buku tentang kehidupan hewan. Dia biasa dipanggil dengan nama Ad-Damiri karena keluarganya berasal dari Desa Damirah, salah satu pedesaan di Mesir. 

Ad-Damiri belajar ilmu bahasa, fiqih, hadits, dan sastra di Universitas Al-Azhar. Dia belajar kepada dosen-dosen senior yang terdapat di universitas tersebut, di antaranya Syaikh Bahauddin as-Subki, Syaikh Jamaluddin al-Isnawi, Al-Kamal Abu al-Fadhl an-Nuwairi, Ibnu al-Mulqin, Al-Bulqini, Burhan al-Qairathi, Al-Baha Aqil, dan lainnya. Ketika dia sudah berhasil meraih gelar ustadz (profesor) dan guru-gurunya mengakui keilmuannya, dia diizinkan untuk mengajar di Universitas Al-Azhar. Dia memberikan pengajian kepada murid-muridnya pada hari Sabtu. Dia juga mengajarkan ilmu hadits di Qubah al-Baibarsiyah. Sedangkan di Madrasah Ibnu al-Baqari yang berada di Bab an-Nashr, dia mengajar pada hari Jumat. Setelah selesai shalat Jumat, dia menyampaikan pengajian di Masjid Azh-Zhahir yang berada di daerah Husein, Mesir.

Nama Ad-Damiri dikenal lewat karyanya yang berjudul Hayat al-Hayawan al-Kubra, sebuah ensiklopedi zoologi. Buku ini adalah buku ilmu hewan terbaik sepanjang masa itu. Di kemudian hari, Hayat al-Hayawan al-Kubra diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam 2 jilid (London, 1906-1908).

Buku Hayat al-Hayawan al-Kubra mulai ditulis oleh Ad-Damiri pada tahun 1271. Pada saat itu, dia masih berumur tidak lebih dari 31 tahun. Ini tentunya merupakan usia yang masih terbilang muda untuk menulis ensiklopedi besar yang dapat mengumpulkan berbagai informasi dari beberapa disiplin ilmu. Ad-Damiri menyebutkan bahwa dia telah mengumpulkan bahan tulisannya dari 560 buku di samping peninjauannya kepada 199 kumpulan syair. Dengan demikian, buku ini merupakan referensi besar yang masih jarang ditulis oleh para ilmuwan dalam bidangnya.

Rabu, 03 Mei 2023

Bolehkah Bermesraan Dengan Suami Saat Haid?



Meskipun dalam kondisi haid, para istri tetaplah harus menjaga hubungan mesra dengan suami maupun melayani anak. Diantara contoh tugas istri dalam melayani keluarga adalah:

1. Bangun terlebih dahulu.

Tugas seorang isteri adalah melayani. Oleh sebab itu setiap pagi istri harus bangun lebih awal dibanding suami Anda. Untuk apa Anda bangun lebih awal? Untuk menyiapkan masakan yang enak untuk menyenangkan suami Anda sebelum berangkat kerja. Dengan melakukan kegiatan rutin seperti ini maka suami Anda akan makin sayang dengan Anda. Haid bukan penghalang untuk bisa bangun lebih awal dari suami. Memang terkadang ada saatnya wanita yang haid itu ketika PMS menyerang sangat kesakitan, namun seiring bertambahnya hari biasanya rasa nyeri akan hilang. Andapun bisa beraktivitas seperti sedia kala. 

2. Sambut dengan senyuman.

Ketika pulang kerja, suami tentu merasa sangat lelah dan ingin melihat semua baik-baik saja di dalam rumah tangganya. Oleh sebab itu, jangan sampai keadaan rumah berantakan saat suami pulang. Jangan karena haid, Anda jadi malas-malasan beres-beres rumah. Tumpukan piring dan gelas kotor masih utuh, gundukan pakaian kotor pun belum berpindah dari tempatnya. Apalagi lantai, dimana-mana mainan, makanan berceceran jadi satu dikerumuni semut. Bagaimana mungkin suami akan pulang dengan gembira jika kondisi rumah seperti kapal pecah? Jadi, meski sedang haid, tetaplah sambut suami dengan senyuman Anda. 

3. Siapkan makanan favorit sepulang kerja.

Suami selalu menginginkan hadiah berupa makanan favoritnya setelah seharian lelah bekerja. Siapkanlah menu makanan kesukaaan atau favorit suami Anda. Jadi meski Anda sedang haid, Anda harus tetap menjalani hari-hari seperti biasa di rumah. Anda tetap memasak dan memperlakukan suami dengan mesra. Saya yakin suami Anda makin mencintai Anda.

4. Menjadi partner menyenangkan di tempat tidur.

Mayoritas istri memang jarang sekali bersikap agresif pada suami. Apalagi saat haid, biasanya istri malas melayani suami meskipun hanya sekedar bermesraan. Layanilah apapun kemauan suami jangan pernah menolak dalam melakukan aktivitas di tempat tidur selain hubungan intim. Karena hal ini akan lebih membuat mengecewakan suami Anda. Dan agar suami Anda makin cinta, jangan lupa lakukan perawatan diri. Semakin bersih Anda maka suami Anda makin cinta kepada Anda. Inilah tahap keempat dalam melayani suami.

5. Menaati perintah suami.

Seorang istri yang dapat membahagiakan suami ialah seorang istri yang menyenangkan ketika dipandang dan tidak menolak ketika diminta bantuan oleh suami. Sebagai seorang istri sebaiknya tidak bermuka masam di hadapan suami, tetapi justru bermuka riang dan ceria. Seorang istri yang baik haruslah menaati perintah suaminya dalam hal kebaikan agar dapat menjaga keharmonisan rumah tangga.

Selama suami memerintahkan atau menasihati dalam hal kebaikan, istri wajib menaatinya karena suamilah yang kelak bertanggung jawab terhadap istrinya. Bagaimana jika istri merasa kerepotan karena suami cenderung meminta banyak hal, seperti meminta diambilkan sesuatu, dimasakkan sesuatu, dan membuatkan sesuatu? Nikmati saja, nikmatilah kemanjaan suami karena hanya pada istrilah suami dapat bermanja-manja. Jangan khawatir, di sisi lain, suami biasanya mengetahui kapan bisa bermanja dan kapan bisa dewasa di hadapan istri.

6. Berdiam diri di rumah dan keluar rumah atas izin suami.

Hal ini rumah tangga ini memang sering diabaikan oleh para istri. Perkembangan zaman dan tuntutan di lain hal terkadang membuat istri tidak bisa selalu berada di dalam rumah. Entah bekerja, kuliah, maupun aktivitas sosial yang menjadi alasan istri untuk meninggalkan rumah. Akan tetapi, satu hal yang perlu selalu diperhatikan seorang istri ialah bahwa seorang istri harus mendapat ridha suami dimana pun ia berada. Maka, berdiam diri di rumah dan keluar rumah haruslah mendapat izin dari suami. Tak jarang suami istri bertengkar karena kesalahpahaman dalam hal ini.

Izin kepada suami sangatlah penting. Selain sebagai perwujudan hormat kepada suami, istri merupakan tanggung jawab suami sehingga apa yang terjadi pada istri di dalam dan di luar rumah sangat penting bagi suami. Oleh karena itu, istri wajib meminta izin kepada suami jika hendak keluar rumah. Bila ingin izin keluar rumah, istri bisa menyampaikannya lewat sms atau telepon. Bisa juga mengatakannya ketika suami hendak berangkat kerja, “Bi, ummi nanti mau pergi ke pasar ya... Mau belanja bulanan. Abis dari pasar, ummi langsung pulang.” “Wah Abi ga sabar jadinya buat pulang ke rumah biar makan malam sama ummi. Kamu hati-hati di jalan ya, Sayang...” Romantis, bukan?

7. Memberikan kebahagiaan kepada suami di ranjang.

Nah, kalau tentang hal ini, kembali teringat tentang hadits yang menyatakan bahwa istri tidak boleh menolak jika suaminya mengajak untuk melakukan hubungan di ranjang, kecuali sedang ada alasan seperti sakit, haid, nifas atau kelelahan. Namun, apabila istri menolak tanpa alasan yang syar’i, istri akan dilaknat oleh malaikat. 

Apabila ada hal yang membuat istri ragu untuk melakukan hubungan di ranjang, sebaiknya dikomunikasikan kepada suami agar tidak terjadi kesalahpahaman atau suami menjadi berprasangka. Apabila istri sedang haid, maka tetap bisa bersenang-senang dengan suami, berikanlah yang terbaik yang bisa dilakukan agar suami bahagia karena kebahagiaan suami adalah pahala bagi istri. Keharmonisan di ranjang akan berdampak pada keharmonisan dalam rumah tangga.

8. Menjaga harta dan harga diri suami ketika suami pergi.

Istri yang baik tentunya dapat menjaga harta dan harga diri suaminya ketika suami sedang pergi. Dilarang keras bagi istri untuk menggunakan harta suami tanpa izin dari suami. Hal ini dilakukan untuk menjaga kedekatan dan kepercayaan suami terhadap istri. Selain itu, dilarang keras pula bagi istri untuk memperbolehkan seorang atau beberapa laki-laki masuk ke dalam rumah jika istri sedang sendiri. Hal ini dilakukan untuk menghindari fitnah yang dapat membuat suami kecewa dan cemburu. Apabila ada tamu laki-laki, sebaiknya segera hubungi suami.

9. Memberikan cinta yang setulusnya.

Suami mana yang tidak semakin cinta pada istri yang memberikan cintanya dengan tulus. Suami mana yang tidak semakin sayang pada istri yang senantiasa taat dan penyayang. Jadilah istri yang dapat membahagiakan suami sehingga suami merasa bahwa setiap bersama istri adalah momen-momen yang indah. Jangan sampai Anda mengabaikan tips menjaga keharmonisan rumah tangga yang satu ini.

10. Bangunlah komunikasi yang baik dengan suami. 

Berpikir positiflah kepada suami, pahami setiap perbedaan karakter dengan suami karena pada hakikatnya karakter pria dan wanita itu jelas berbeda. Keharmonisan dalam rumah tangga akan terjadi pada dua insan yang saling melengkapi dengan tulus. Sebagai istri, jadilah tempat yang menjadi pereda bagi amarah suami sehingga suami mampu dan mau mencurahkan masalah dan perasaannya.

Sate Kambing Bumbu Kecap



Bahan:

  • 500 gram daging kambing.
  • 200 gram lemak kambing.
  • 30 buah tusuk sate.

Bumbu Pencelup:

  • 3 siung bawang putih, haluskan.
  • 1/2 buah nanas, parut.
  • 100 gram kacang tanah, goreng dan haluskan.
  • 5 sdm kecap manis.
  • 1/2 sdt garam.

Bumbu Kecap:

  • 5 buah bawang merah, iris tipis-tipis.
  • 3 buah tomat, potong-potong ukuran kecil.
  • 10 buah cabe rawit, potong-potong kecil.
  • 50 ml kecap manis.

Cara Membuat:

  1. Potong-potong daging kaming dan lemaknya.
  2. Tusukkan pada tusukan sate secara berseling antara daging dan lemak kambing.
  3. Siapkan bahan pencelup, celupkan sate ke dalamnya lalu bakar sambil sesekali dicelupkan lagi.
  4. Bakar sate hingga matang dan beraroma sedap.
  5. Siapkan bumbu kecap, campur semua bahan.
  6. Hidangkan sate dengan siraman bumbu kecap.


Selasa, 02 Mei 2023

Kenapa Beban Mencari Nafkah Diberikan Kepada Suami?

Mencari nafkah dari yang halal.


Tugas mencari nafkah dibebankan kepada kaum lelaki karena kelebihan dalam penciptaannya yang berupa kekuatan fisik dan akal fikirannya. Oleh itu elaki mampu bekerja keras untuk mencari nafkah, memberi perlindungan dan pertahanan kehidupannya terutama kepada keluarga, agama, bangsa dan agamanya. 

Inilah sebabnya lelaki diangkat menjadi pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena itu, seorang lelaki muslim, lelaki dan suami yang shalih, tidak akan melalaikan tugas ini. Ia wajib bekerja menurut kemampuannya. 

Dalam melaksanakan tugas ini, dia haruslah meluruskan niatnya agar ikhlas untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak akan merasa malu untuk melakukannya bahkan dia gembira dan berbangga terhadap pekerjaannya lebih-lebih lagi perkara yang halal. Lelaki shalih tidak akan lupa untuk mengingat hari akhirat dan menjadikannya sebagai tujuan yang utama.

Dia bekerja di dunia untuk mencari keuntungan di akhirat, bukan mengejar keduniaan semata-mata. Dengan cara ini, usahanya akan sentiasa berhasil di dunia dan akhirat. Seperti kata ulama Salaf: 

“Wahai anak Adam! Juallah duniamu dengan akhirat, maka engkau akan untung semuanya, tetapi jangan engkau jual akhiratmu dengan dunia, maka engkau akan rugi semuanya.”

“Bagi orang orang yang telah mengerjakan kewajiban agamanya dengan baik, kemudian terasa penat dan letih pada malamnya, sehingga tidak dapat mengerjakan amalan amalan sunnah, maka Allah dan RasulNya memberikan jaminan dengan ampunan sepanjang malam yang dilaluinya dengan tidur yang nyenyak.” 

Itulah di antara pahala yang akan diberikan kepada lelaki shalih yang mencari nafkah dengan bersungguh-sungguh. 

Terdapat dua cara orang berusaha mencari nafkah seperti yang dianjurkan oleh Islam. Pertama, hendaklah ia tidak melalaikan tugasnya terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan janganlah ia meninggalkan nilai-nilai yang luhur. Kedua, hendaklah dilakukan dengan cara yang halal, bersih dan tidak membawa kemudaratan kepada orang lain dan tidak pula bertentangan dengan peraturan-peraturan umum. 

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Suami yang shalih adalah yang mampu mandiri dalam ekonomi, ia bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya dalam hal duniawi dan ukhrowi. Ia akan memberi istri dan anak-anaknya hanya dengan harta yang halal dari hasil ketekunan dalam bekerja. Sehingga hasil jerih pengorbanan menjadi barakah dan sa’adah bagi diri dan keluarganya. Misalnya: berjualan dengan kejujuran, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan lain-lain. 

“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya).

Di antara cara-cara pencarian harta yang diharamkan oleh Islam ialah: 

  • Riba,
  • Penimbunan barang-barang yang menjadi kebutuhan umum,
  • Perjudian dan perdagangan minuman keras,
  • Berlaku penipuan dalam penimbangan dan penukaran barang,
  • Mencuri,
  • Memakan harta orang lain dengan cara yang bathil seperti yang diterangkan dalam surah An-Nisaa’, ayat 29.


Senin, 01 Mei 2023

Kerugian akhirat bagi pelaku riba.



Kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibanding dengan akibatnya di akhirat nanti. Sejak awal kebangkitan para pemakan riba dari alam kubur saja, mereka sudah berpenampilan mengenaskan; seperti orang gila yang kesurupan setan. Sungguh menakutkan!

“Orang-orang yang memakan riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275).

Kelanjutannya, mereka terancam dengan siksaan yang sangat pedih di neraka. “Barangsiapa mendapat peringatan dari Rabbnya, lalu ia berhenti (dari memakan riba), maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Namun barang siapa yang kembali (memakan riba), maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 275).

Sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam mendeskripsikan berbagai jenis siksaan yang disiapkan Allah untuk para pemakan riba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menuturkan ‘kunjungannya’ ke neraka, “Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang yang berenang di dalamnya, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu, sembari membuka mulutnya dan memakan batu-batu tersebut… Orang tersebut tidak lain adalah pemakan riba.” (HR. Bukhari (no. 7047) dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu).

Dalam hadits lain diceritakan, “Pada malam Isra’ aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah, dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Aku pun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?” “Mereka adalah para pemakan riba,” jawab beliau.” (HR. Ibn Majah (no. 2273) dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai lemah oleh al-Albany).

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui, bahwa praktik riba dengan segala bentuk dan warnanya justru akan berdampak buruk bagi perekonomian setiap pribadi, rumah tangga, masyarakat, dan bahkan perekonomian suatu negara bisa hancur porak-poranda disebabkan praktik ribawi yang dilestarikan keberadaannya itu. Riba tidak akan bisa mendatangkan barakah sama sekali. Bahkan sebaliknya, akan menjadi sebab menimpanya berbagai musibah. Apabila ia berinfak dengan harta hasil riba, maka ia tidak akan mendapat pahala, bahkan sebaliknya hanya akan menjadi bekal menuju neraka.

Mungkin ada yang menilai negara barat sangat maju perekonomiannya. Namun sesungguhnya bisa kita lihat sekarang mereka mengalami keterpurukan perekonomian. Keadaan seperti ini janganlah membuat kaum muslimin tertipu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya telah berfirman (artinya), “Allah memusnahkan riba dan menumbuh-kembangkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al Baqarah: 276)

Jadi, walaupun harta yang dihasilkan dari praktik riba ini kelihatannya semakin bertambah dan bertambah, namun pada hakikatnya kosong dari barakah dan pada akhirnya akan sedikit. Bahkan, bisa habis sama sekali.

Dari sini, benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan praktik riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit.” (HR. Ibnu Majah, dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Al Imam Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah)

Lebih parah lagi kondisinya jika praktik riba itu sudah menyebar di suatu negeri, dan bahkan masyarakatnya sudah menganggap hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Maka ketahuilah bahwa keadaan seperti ini akan mengundang murka dan adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika telah nampak perbuatan zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka sendiri untuk merasakan adzab Allah.” (HR. Al Hakim dan Ath-Thabarani, dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas, dishahihkan oleh Al Imam Al Albani rahimahullah di dalam Shahihul Jami’)

Para pembaca, cukuplah hadits berikut sebagai peringatan bagi kita semua dari bahaya dan akibat yang akan dialami oleh pelaku riba di akhirat nanti.

Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari, dari shahabat Samurah bin Jundub, “Tadi malam aku melihat (bermimpi) ada dua orang laki-laki mendatangiku. Lalu keduanya mengajakku keluar menuju tanah yang disucikan. Kemudian kami berangkat hingga tiba di sungai darah. Di dalamnya ada seorang lelaki yang sedang berdiri, dan di bagian tengah sungai tersebut ada seorang lelaki yang di tangannya terdapat batu-batuan. Kemudian beranjaklah lelaki yang berada di dalam sungai tersebut. Setiap kali lelaki itu hendak keluar dari dalam sungai, lelaki yang berada di bagian tengah sungai tersebut melemparnya dengan batu pada bagian mulutnya sehingga si lelaki itu pun tertolak kembali ke tempatnya semula. Setiap kali ia hendak keluar, ia dilempari dengan batu pada mulutnya hingga kembali pada posisi semula. Aku (Rasulullah) pun bertanya: ‘Siapa orang ini (ada apa dengannya)?’ Dikatakan kepada beliau: ‘Orang yang engkau lihat di sungai darah tersebut adalah pemakan riba’.” (HR. Al Bukhari)

Setelah memperhatikan berbagai dalil yang mengharamkan riba dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan olehnya, selayaknya kaum muslimin untuk menjauhi dan segera meninggalkan transaksi yang mempraktikkan riba. Keselamatan dan kesuksesan akan diperoleh ketika menaati Allah dan rasul-Nya. Tolok ukur kesuksesan bukan terletak pada kekayaan! 

Telah cukup laknat Allah dan rasul-Nya sebagai peringatan bagi kaum muslimin? Tentu muslimin yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus akan menjauhi dan meninggalkan transaksi yang di dalamnya ada praktik riba.

Jika para muslimin telah mengetahui keharaman dan keburukan riba namun tetap nekat menjerumuskan diri ke dalamnya demi memperoleh bagian dunia yang sedikit, maka pantas renungilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, “Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dan buruk dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad 5/225)