Rabu, 03 Agustus 2022

Menasihati istri dengan Lembut!




Menasihati istri dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kaum wanita, berlaku lemah lembut dan sabar atas segala kekurangannya, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan.” (HR. Al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)

“Nasihatilah perempuan dengan cara yang baik! Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik!” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi)

Menjaga hati dan perasaan istri.

Rasulullah saw bersabda: 

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku.”

Rasulullah saw juga bersabda: 

“Tidak ada yang memuliakan wanita dengan sejati kecuali laki-laki yang pemurah (dermawan) dan tak seorangpun yang menghina mereka (wanita) kecuali laki-laki yang kasar.”


Selasa, 02 Agustus 2022

Uangkapkan Perasaanmu Secara Jujur Kepada Pasanganmu


Ungkapkan perasaanmu

Ungkapan-ungkapan mesra, pujian dan sanjungan penuh cinta adalah salah satu bahasa yang akan mempererat tali cinta. Pujian dan sanjungan ini tentu saja yang tidak mengarah pada pujian yang berlebihan yang dilarang di dalam Islam.

Ungkapkan perasaan kangen kita. Katakan pada istri kita, “Hari ini mama cantik banget…”, “Eum…teh buatan mama manis seperti senyumnya…”, dan sebagainya. Katakan kepada suami kita, “Ternyata papa keren juga ya kalau dandan rapi…” dan sebagainya.

Ungkapkan bahasa-bahasa yang tidak berlebihan namun dapat menyenangkan hati pasangan kita. Ungkapkan rasa terima kasih kita kepada suami tercinta karena telah memberikan nafkah tanpa mengenal lelah. 

Ungkapkan rasa terima kasih kita kepada istri tercinta karena telah tanpa jenuh menyediakan sarapan di pagi buta, mencucikan pakaian, dan menjaga rumah tanga. Janganlah kita terlampau pasif untuk mengungkapkan perasaan kepada suami atau istri kita sendiri.

Mengakui kesalahan dan meminta maaf

Kalau Allah swt saja senang kepada hamba-hamba Nya yang senantiasa mengakui kesalahan dan dosanya, memohon ampun kepada-Nya, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahanya lagi, apalagi manusia yang selalu disertai oleh nafsu.
Tentu saja pasangan kita juga akan sangat senang manakala kita mampu mengakui kesalahan-kesalahan kita, meminta maaf kepadanya, dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi (asalkan jangan janji palsu).
Ingatlah, bahwa mengakui kesalahan bukanlah tindakan pengecut maupun rendahan, melainkan tindakan yang mulia dan hanya seorang pemberani dan berjiwa besarlah yang mampu melakukan hal tersebut.

Jangan mengungkit masa lalu

Jangan membiasakan diri mengungkit-ungkit masa lalu yang sekiranya dapat merusak perasaan kita sendiri maupun pasangan kita. Mengungkit masa lalu hanya akan menimbulkan kekecewaan, emosi, dan benci kepada diri sendiri maupun kepada pasangan.
Kejadian buruk pada masa lalu bukanalah untuk diungkit-ungkit, melainkan sebagai pelajaran bagi kita dalam melangkah ke depan.

Jenazah Disambut dengan Hujan dan Petir setelah Memaksakan Kehendak kepada Ibu (Andi - Pelajar)




Jangan membuat ibu marah

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, ‘Ridlo Allah tergantung ridlo orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua’.” 

Kandungan hadits di atas ialah kewajiban mencari keridloan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendoakan kejelekan, maka doa ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada tiga doa yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak diragukan tentang doa ini: (1) doa kedua orang tua terhadap anaknya, (2) doa musafir-orang yang sedang dalam perjalanan, (3) doa orang yang dizhalimin.” (Hasan: HR. Al-Bukhari)

Jika seorang ibu meridloi anaknya, dan doanya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena doa ibunya. Wal iyyadzubillaah.

Jenazah Disambut dengan Hujan dan Petir setelah Memaksakan Kehendak kepada Ibu Andi - Pelajar


Pada tahun lalu 2011, di desa saya gempar. Menurut cerita orang-orang yang menyaksikan sendiri kejadian itu, penguburan jenazah sorang pemuda disambut dengan hujan deras, dan petir menggelegar. Padahal saat itu musim kemarau sedang berlangsung. 
Nenek almarhum bercerita, bahwa cucunya, sebut saja Andi, baru saja minta dibelikan sepeda motor baru. Lantaran orang tuanya tidak mempunyai uang, ditolaklah permintaan itu. Andi yang sudah ngotot ingin memiliki sepeda motor baru, melakukan berbagai cara agar keinginannya bisa dipenuhi. Andi mengancam orang tuanya, jika tidak dibelikan sepeda motor baru, maka dia akan keluar dari sekolahnya. 
Kasih ibu sepanjang masa memang benar adanya. Karena rasa sayangnya pada Andi, maka ibu dan bapak Andi mencari cara agar dapat membelikan sepeda motor untuk anaknya. Kemudian diputuskan untuk menyewakan sawah mereka selama dua tahun. Dan uang hasil menyewakan sawah itu digunakan untuk membayar uang muka kredit sepeda motor. 
Andi kelihatan senang, ingin pergi kemanapun selalu memakai sepeda motor. Setelah itu, ibu Andi berinisiatif pergi ke Malaysia guna membayar cicilan sepeda motor Andi. Tak selang berapa lama, tepatnya seminggu setelah membeli sepeda motor itu, peristiwa naas terjadi. Saat Andi pergi ke rumah temannya memakai sepeda motornya yang baru. Ketika melaju di sebelah rumah makan, tiba-tiba Andi yang berboncengan dengan temannya menabrak gundukan tanah. Orang-orang yang melihat kejadian ini langsung histeris. Beberapa orang lainnya menghubungi keluarga Andi, ada juga yang memanggil ambulans. Andi dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Hanya dua jam di rumah sakit, Andi menemui ajalnya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. 
Masih ingat saat itu adalah musim kemarau panjang, tiba-tiba saja suara petir menggelegar, hujan pun turun sangat deras. Subhanallah, hujan dan petir menyambut jenazah Andi. Para kerabat Andi mencoba menghubungi ibu Andi yang berada di Malaysia. Saat diberitahu bahwa anaknya meninggal, ibu Andi meresponya dengan datar-datar saja. “Doakan saja semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.” Begitulah pesan ibu Andi pada kerabat yang menelpon. Subhanallah, semoga ibu Andi mau mengampuni dosa anaknya. Karena ridlo kedua orang tua adalah ridlo Allah juga. 

Berilmu dulu sebelum membeli.



“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083, dari Abu Hurairah).


Dalam bertindak, Islam selalu mengajarkan berilmulah terlebih dahulu. Dalam masalah ibadah, Islam mengajarkan hal ini agar amalan seseorang tidak sia-sia. Dalam masalah muamalah pun demikian. Karena jika tidak diindahkan, malah bisa terjerumus dalam sesuatu yang diharamkan. Semisal seorang pedagang, hendaklah ia paham seputar hukum jual beli. Jika ia tidak memahaminya, bisa jadi ia memakan riba atau menikmati rizki dengan cara yang tidak halal. ‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Lihatlah pula apa kata ‘Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata,

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.” (Lihat Mughnil Muhtaj, 6: 310)

Ilmu tadi bukan hanya berlaku bagi penjual atau si pedagang, namun berlaku juga untuk pembeli. Pembeli pun harus tahu seluk beluk jual beli sebelum bertindak karena masih banyak Padahal para ulama sepakat, “Setiap utang yang ditarik keuntungan, maka itu adalah riba.” Coba dari awal si nasabah atau si pembeli tadi mengetahui pengertian riba dan berbagai macam bentuk riba. Dan saat ini perlu sekali setiap orang mendalami hakekat riba karena riba semakin diakal-akali dengan nama yang terlihat syar’i. Minimal, banyaklah bertanya pada para ulama yang lebih berilmu sehingga kita pun selamat dari riba sampai debu-debunya.


Berbaktilah kepada kedua orang tuamu maka kesulitanmu akan dipermudah.




Dengan berdasarkan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dari Ibnu Umar. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

“Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan’. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya peruntukan ini ialah peruntukan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser.” [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A’mal]

Ini menunjukkan bahwa peruntukan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, InsyaAllah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena durhaka kepada kedua orang tuanya.

Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan daripada kepada istri sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapak (Umar bin Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ceraikan istrimu.” [Hadits Riwayat Abu Dawud No. 5138, Tirimidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”]

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud yang disampaikan sebelum disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Begitu besar jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘si ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya kepada Abdullah bin Umar, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan peruntukanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar, “Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.” [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

Tanda-Tanda Kehamilan



Kehamilan bisa datang tanpa disadari. Tanda-tanda kehamilan bisa saja tidak terasa. Seorang wanita bisa saja tidak bisa merasakan tanda-tanda kehamilan sama sekali. Ini terjadi lantaran kondisi tubuh tiap wanita berbeda-beda. Betapa banyak wanita yang menyadari kehamilannya justru ketika terjadi keguguran, sehingga yang ada hanya penyesalan.

Untuk itulah hendaknya tiap wanita waspada ketika merasakan sesuatu yang ganjil pada dirinya. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Gejala kehamilan adalah keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil. Contohnya mual, muntah, tidak haid, letih dan meningkatnya emosi. Mual dan muntah merupakan gejala yang umum terjadi pada trimester pertama kehamilan. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Yaitu peningkatan aktivitas hormon chorionic gonadhotrophi (hormon pembentuk embrio dan ari-ari), gangguan pada lambung, menurunnya kadar gula darah dan kekurangan vitamin B6 yang berfungsi mengatur penggunaan protein. Semua gejala di atas akan menghebat jika disertai masalah emosional.

Gejala kehamilan memang tidak selalu berarti tanda kehamilan yang pasti. Dikatakan demikian karena keberadaannya tidak menjadi jaminan adanya kehamilan. Bisa jadi lantaran penyakit. Mual atau muntah misalnya, bisa disebabkan karena gangguan lambung. Bahkan berhentinya haid, pembesaran payudara, meningkatnya pigmentasi kulit dan mengidam tidak selalu tanda kehamilan. Akan tetapi setiap wanita hendaknya waspada jika mengalaminya. Prinsip kahati-hatian harus diterapkan, misalnya wanita yang mengalami keterlambatan haid. Karena hamil muda masih rentan terhadap keguguran. 

Tanda kehamilan yang bisa dirasakan adalah :


Ketika seorang wanita mendapati gejala-gejala di atas, segera saja periksa ke dokter atau bidan. Semua tanda dan gejala yang sifatnya belum pasti tersebut kemudian dilengkapi dengan alat bantu. Dokter biasanya menggunakan USG, Doppler dan tes urine. Sedangkan bidan, selain menggunakan doppler, juga menggunakan laenec (kadang juga terompet Pinard’s) yang bentuknya seperti teropong, tapi digunakan untuk mendengarkan suara-suara dari perut wanita.

Senin, 01 Agustus 2022

Tidak ada yang sempurna begitupun pasanganmu!



Tidak seorangpun yang lahir ke dunia ini dengan disertai kesempurnaan, karena hanya Allah subhanahu wa ta’alaa-lah Yang Maha Sempurna. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang yang satu tidak dapat kita samakan begitu saja dengan orang yang lain. Begitu pula dengan pasangan kita.

Janganlah sekali-kali kita berharap bahwa pasangan kita adalah orang yang sempurna, yang akhirnya akan menimbulkan kekecewaan manakala suatu saat tampaklah cacat atau kekurangannya di mata kita.

Ketika kita telah memutuskan untuk menikah, hendaknya kita telah siap untuk menerima kekurangan. Pasangan kita adalah juga seperti kita, sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Justru dengan pernikahan inilah, maka kita akan saling melengkapi dan menutupi kekurangan pasangan kita. Bisa jadi pasangan kita memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, begitu juga sebaliknya. Di sinilah akan timbul proses saling melengkapi satu sama lain.

Hentikan menuntut pasangan untuk menjadi seseorang yang sempurna di mata kita, karena pada dasarnya kitapun bukan orang yang sempurna. Saling mengerti, saling menasihati, dan saling memperbaiki diri adalah sikap terbaik dalam menyikapi kekurangan masing-masing pasangan.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Lihatlah sisi positifnya

Sekali lagi bahwa tidak ada manusia yang lahir ke dunia ini dengan penuh kesempurnaan, melainkan membawa kelebihan sekaligus kekurangan. Janganlah kita sampai termasuk dalam kategori orang yang di maksud di dalam peribahasa berikut:

“Semut di seberang lautan tampak jelas, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.”

Jangan sampai kita menjadi seseorang yang hanya selalu memandang kepada kejelekan atau kekurangan pasangan kita saja, sementara kita lupa bahwa dalam diri kita juga banyak keburukan yang tidak kita sadari. Hal ini akan memberikan stempel bertuliskan “selalu buruk” pada pasangan kita di mata kita, yang akhirnya akan menimbulkan hilangnya rasa simpati dan kekaguman kita kepadanya.

Selalu berusahalah untuk mencari dan melihat sisi-sisi positif yang ada pada pasangan kita. Hal ini akan memantapkan kembali rasa simapti dan kekaguman kita kepadanya seperti ketika pertama kali kita merasa jatuh cinta kepadanya.



Gambaran Alam Kubur Dari Hari Pertama sampai Tahun Ke 2





Di alam setelah kehidupan yaitu alam kubur, banyak kejadian yang dialami oleh si mayit. Tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari amalnya selama hidup di dunia. Seandainya orang yang telah mati bisa menuliskan kejadian yang terjadi sejak ia meninggalkan dunia, maka akan berlembar-lembar ia menulis kejadian setiap hari yang dialaminya dalam kubur dan di alam akhirat. 

Bagaimana ia sedih luar biasa meninggalkan  orang-orang yang dicintainya, bagaimana ia sangat menyesal tidak mempersiapkan bekal menghadapi kematiannya, bagaimana ia didatangi malaikat dalam kuburnya lantas ditanyai tentang apa yang telah ia lakukan selama di dunia. Dan itu ia menunggu berhari-hari, bertahun-tahun bahkan ada yang sampai berjuta-juta tahun sampai hari kiamat tiba untuk dikumpulkan semuanya di padang mahsyar. Belum lagi bila ia mendapatkan siksa dan azab di dalam kuburnya. Betapa sangat mengerikan kisahnya.

A. Hari pertama di alam kubur

Di dalam kitab Daqaiq al-akbar diceritakan mengenai keadaan mayit di alam kubur pada hari pertama ini. 

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam, sebelum mayit bertemu dengan Munkar dan Nakir, mayit didatangi oleh malaikat bernama Rauman yang wajahnya bersinar bagaikan matahari. Rauman mendatangi mayit dan duduk lalu berkata, “Tulislah apa yang telah engkau lakukan, baik dan jelek.” Mayit berkata, “Dengan apa aku menulis, mana pena dan tintaku?” Rauman lalu berkata, “Ludahmu adalah tintamu dan jari-jarimu adalah penamu.” Mayit berkata, “Pada apa aku menulis, sedangkan aku tidak mempunyai lampiran.” Malaikat kemudian memotong kain kafan dan memberikannya pada mayit, ia berkata, “Ini lampiranmu, maka tulislah.” Maka mayit menulis amalnya yang baik, ketika sampai pada amalnya yang jelek ia malu kepada malaikat tersebut. 

Malaikat langsung berkata, “Wahai orang yang salah, kenapa kamu tidak malu kepada Dzat yang menciptakan kamu ketika kamu melakukannya di dunia dan sekarang kamu malu padaku?” Malaikat kemudian mengangkat batang kayu lalu memukulnya, mayit berkata, “Bangkitkan aku sehingga aku menulisnya.” 

Kemudian ia menulis semua amal baik dan jeleknya. Malaikat Rauman lalu menyuruhnya agar melipat dan mengecapnya, kemudian mayit itu melipatnya dan berkata, “Dengan apa aku mengecapnya, sedangkan aku tidak punya cap?” Malaikat berkata, “Caplah dengan kukumu.” Maka ia mengecapnya dengan kukunya dan menggantungkannya di lehernya sampai hari kiamat.”

Sungguh beruntunglah bagi mereka yang selama hidup di dunia senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktifitasnya. Ketika hendak berbuat maksiat maka ia bersegera beristighfar dan kemudian kembali mengingat Allah. 

B. Hari ketiga, kelima dan ketujuh

Setelah keluar dari jasadnya selama tiga hari, maka ruh tersebut kemudian berkata, “Wahai Tuhanku, izinkan aku sehingga aku berjalan dan melihat jasadku yang dulu aku berada di dalamnya.” Kemudian Allah swt memberikan izin, sehingga ia mendatangi kuburnya dan melihat keadaannya dari kejauhan, kemudian dia menyaksikan darah yang mengalir dari lubang hidung dan mulutnya. Iapun lalu menangis lama sekali, kemudian ia berkata, “Celakalah wahai badanku yang miskin. Wahai kekasihku, apakah engkau masih ingat saat-saat kehidupanmu. Ini adalah tempat bala bencana, kesempitan, kesusahan dan penyesalan.”

Lantas pada saat melewati hari kelima, ruh berkata, “Wahai Tuhanku, izinkanlah aku melihat jasadku.” Kemudian Allah swt mengizinkannya dan kemudian ia mendatangi kubur dan melihat jasadnya dari jauh. Maka iapun kemudian melihat nanah yang keluar dari lubang hidung dan mulut serta kedua telinganya. Kemudian iapun menangis lagi. Lalu ia berkata, “Wahai jasadku yang miskin, apakah engkau masih ingat hari-hari kehidupanmu ini adalah tempat duka cita, kesusahan, cobaan, tempat ular dan kalajengking. Sungguh ular telah memakan dagingmu, mengoyak kulitmu dan anggota tubuhmu.”

Pada hari ketujuh ia juga berkata, “Wahai Tuhanku, izinkanlah aku sehingga aku melihat jasadku. Kemudian Allah swt memberikan izin sehingga ia mendatangi kuburnya. Ia melihat jasadnya dari kejauhan yang sudah dihinggapi banyak ulat. Kemudian ia menangis sekencang-kencangnya, kemudian ia berkata, “Wahai jasadku, apakah engkau ingat hari-hari kehidupanmu, dimanakah anak-anakmu, keluargamu, istrimu, saudaramu, sahabatmu, teman-temanmu, tetanggamu yang mereka ridha menemanimu pada hari ini,  yang mereka menangisi jasad untukku dan untukmu.

Seperti itulah kejadian yang menimpa si mayit ketika berada di dalam kuburnya pada hari ketiga, kelima dan ketujuh. Benar-benar tiada yang kuasa menyelamatkan kondisi tersebut selain amal shalih kita selama hidup di dunia. 

Terkadang kita merasa hidup di dunia sangat lama, padahal dibandingkan dengan kehidupan akhirat tidak ada apa-apanya. Hanya sekejap saja kita hidup di dunia. Oleh karena itu, demi membaca kisah di atas, sudah cukupkah bekal kita menghadapi hari-hari di alam barzakh? Apa yang telah kita siapkan untuk menghadapi setiap kejadian di alam kubur nantinya? 

C. Sebulan, setahun dan dua tahun

Gambaran kondisi mayit setelah sebulan, setahun dan dua tahun diceritakan dalam  kitab Daqaiq al-Akhbar pada kisah berikut ini :

“Dan diriwayatkan dari Abi Hurairah ra ketika seorang mukmin meninggal maka ruhnya mengitari sekitar rumahnya selama satu bulan, kemudian ia melihat harta yang ditinggalkannya, bagaimana harta tersebut dibagikan atau bagaimana dilunasi hutang-hutangnya. Kemudian ketika sempurna satu bulan, maka kembalilah ruhnya ke dalam kuburnya. Kemudian ia berputar setelah itu sehingga sempurnalah satu tahun. Kemudian ia berputar lagi, sehingga ia melihat siapakah yang mendoakannya, siapa yang merasa susah kepadanya, maka ketika sempurna putarannya maka ruhnya kembali hingga masa seluruh ruh dikumpulkan di hari kiamat.”

Berdasarkan kisah tersebut kita jadi tahu bahwa ketika ruh telah berpisah dengan jasad, maka dalam masa-masa tertentu sepeninggal si mayit, ruh tersebut akan mengawasi keadaan yang sedang terjadi di tempat tinggal semula. Ia akan merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya menjaga harta dan seluruh yang ditinggalkannya dengan baik serta mendoakan untuk kebaikannya.

Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa betapa berharganya setiap detik hidup di dunia. Waktu yang telah kita lewati sedetik,  sejam bahkan sehari yang lalu takkan pernah terulang lagi. Ketika kita terlahir ke dunia, orang-orang di sekitar kita tersenyum bahagia, maka jadikan ketika kita meninggal mereka menangis karena sedih telah ditinggalkan oleh orang yang baik.

 




Bahan:

- 1 bonggol sawi putih, potong-potong lebar
- 100 gr udang kupas
- 1 buah bawang bombay, iris melintang
- 2 siung bawang putih, dikeprak
- 2 buah cabe merah besar, potong-potong bulat
- 2 buah cabe hijau besar, potong-potong bulat
- 3 sdm saos tiram
- ½ sdt garam
- ½ sdt kaldu bubuk
- 50 ml air
- 3 sdm minyak untuk menumis
- 1 sdm bawang goreng untuk taburan

Cara memasak:

- Panaskan minyak, tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum. 
- Masukkan udang, masak sambil sesekali diaduk sampai udang berubah warna.
- Tuangi air, bubuhi garam, kaldu bubuk, dan saos tiram, aduk rata
- Masukkan potongan sawi dan irisan cabe merah dan hijau, masak sampai matang.
- Sajikan dengan tambahan taburan bawang goreng.

Terapi Meningkatkan Gairah Seksual

 


A. Pijat Aroma Terapi

Pemijatan menggunakan aroma terapi dengan wewangian melati, mawar ataupun kenanga yang dilakukan secara teratur dua kali seminggu akan dapat meningkatkan libido bagi wanita. Selain itu, pijat aroma terapi juga diyakini akan dapat membantu membuat pikiran lebih tenang, sehingga dengan begitu Anda akan dapat mengendalikan emosi dan membuat hubungan seksual dapat benar-benar dinikmati.

B. Meningkatkan Gairah Seksual

Bahan :

15 gr cabe jawa

5 gr kapulaga

5 gr pule

5 gr sawi langit

1 sdm madu

Cara Meramu :

a. Cuci bersih semua bahan (terkecuali madu), lalu masukkan dalam satu tempat.

b. Rebus dengan 300 cc air hingga mendidih.

c.  Angkat ramuan, saring dan dinginkan.

d. Campurkan ramuan bersama dengan madu atau gula aren asli.

e. Minumlah ramuan sekaligus di malam hari sebelum tidur.


C. Membantu Mencapai Orgasme

Bahan :

15 gr adas

10 gr jahe merah

5 gr kunyit

2 gr jinten

1 sdm madu

Cara Meramu :

a. Cuci bersih semua bahan (terkecuali madu), rebus dalam 300 cc air hingga mendidih.

b. Angkat ramuan, saring dan dinginkan.

c. Campurkan ramuan dengan madu atau gula aren.

d. Minumlah ramuannya sekaligus secara teratur pada malam hari sebelum tidur. 

7 Alasan Mencela Diriku - Kahlil Gibran


 

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,

Pertama kali ketika aku melihatnya lemah,

padahal seharusnya ia bisa kuat.


Kedua kali ketika melihatnya 

berjalan terjingkat-jingkat

di hadapan orang yang lumpuh


Ketiga kali ketika berhadapan 

dengan pilihan yang sulit dan mudah,

ia memilih yang mudah


Keempat kalinya, 

ketika ia melakukan kesalahan 

dan mencoba menghibur diri

dengan mengatakan bahwa semua orang 

juga melakukan kesalahan


Kelima kali, 

ia menghindar karena takut, 

lalu mengatakannya sebagai sabar


Keenam kali, 

ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk

padahal ia tahu, 

bahwa wajah itu adalah salah satu topeng 

yang sering ia pakai


Dan ketujuh, 

ketika ia menyanyikan lagu pujian 

dan menganggap itu sebagai sesuatu 

yang bermanfaat


Minggu, 31 Juli 2022

Harus ada rasa malu dalam rumah tangga



Banyak sekali orang yang mampu bersikap sangat santun dan ramah kepada orang lain, namun mereka tidak mampu melakukan hal tersebut kepada istri atau suaminya sendiri. Hal itu karena mereka akan merasa malu kepada orang lain jika tidak bersikap ramah atau santun. 

Sementara kepada suami atau istri, mereka tidak memiliki pemikiran seperti ini, “Kenapa harus malu-malu lagi, toh kita sudah sama-sama tau sifat dan karakter masing-masing!.” Pemikiran tersebut akhirnya menimbulkan sikap semau gue.

Untuk itulah, maka sifat malu ini sebaiknya jangan sampai dibantai habis meskipun kepada suami atau istri kita sendiri. Keberadaan sifat malu ini sangatlah penting dalam rangka mewujudkan pernikahan yang senantiasa harmonis.

Dia adalah saudara seiman kita.

“Istriku adalah saudaraku di dalam Islam”, “Suamiku adalah saudaraku di dalam Islam”, kalimat inilah yang harus senantiasa kita tanamkan di dalam hati. Karena, fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak sekali suami yang menganggap istri hanya sebagai pekerja sumur, dapur, dan kasur saja. Banyak pula istri yang menganggap suaminya hanya sebagai pencari nafkah keluarganya saja. Selama kewajiban tersebut dipenuhi, ya sudah. 

Hal ini menimbulkan efek semakin menurunnya kasih sayang dan rasa saling menghormati diantara keduanya. Tidak ada rasa terimakasih kepada istri atas sarapan pagi dan pakaian kerja yang halus dan wangi. Tidak ada lagi rasa terimakasih kepada suami atas uang belanja yang merupakan perahan keringat setiap hari, dari pagi hingga sore hari. Tak ada lagi rasa terimakasih, karena mereka menganggap hal tersebut sudah merupakan perkerjaan mereka, jadi… untuk apa lagi berterima kasih?

Marilah mulai detik ini kita sama-sama menghapuskan pikiran semacam itu. Kita hapuskan pikiran bahwa istri hanyalah sebagai pekerja sumur, kasur, dan dapur. Kita hapuskan pemikiran bahwa suami hanyalah sebagai pencari nafkah keluarga semata.

Marilah kita mulai berpikir dan marilah kita tanamkan dengan kuat sebuah pemikiran bahwa “Suami atau istriku adalah saudaraku di dalam Islam.” Maka dengan demikian, insyaAllah kasih sayang akan senantiasa menaungi sebuah pernikahan. Ketahuilah, bahwa Islam telah mewajibkan umatnya untuk senantiasa menyayangi saudaranya seperti ia menyayangi dirinya sendiri.

“Tidak akan beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)


Hukum Imam Tidak Meluruskan Shaf



Diwajibkan bagi seorang imam untuk tidak memulai shalat sampai ia meluruskan shaf dan memerintahkan para makmum untuk meluruskan shafnya. Hal ini bisa dilakukan oleh imam itu sendiri atau imam meminta orang lain meluruskannya. 

Dalilnya adalah sebagai berikut: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mengusap bahu-bahu kami dalam shalat (ketika akan shalat) dan menyatakan: “Luruskan dan janganlah shaf kalian bengkok sehingga berakibat hati kalian berselisih.” (HR Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan bacaan seperti ini, bukan untuk mewajibkan agar ucapan beliau ini ditiru ketika meluruskan shaf. Namun tujuannya adalah memerintahkan para sahabatnya meluruskan shaf. Karena itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengungkapkannya dalam banyak ungkapan yang intinya perintah meluruskan shaf. Diantara yang beliau ucapkan selain lafadz di atas adalah:

“Luruskan shaf, ratakan bahu-bahu kalian, tutupi celah dan bersikap lunaklah terhadap tangan tangan saudara kalian (mudah diatur untuk meluruskan dan merapatkan shaf).” (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abu Daud, no. 620)

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR Muslim)

“Luruskan dan ratakan shaf-shaf kalian.” (HR Abu Daud)

“Ratakan dan luruskan shaf-shaf kalian.” (HR Abu Daud)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa seorang imam diperintahkan meluruskan shaf makmum baik dengan perbuatan anggota tubuh atau dengan perkataan yang dapat dipahami makmum sehingga mereka dapat meluruskan shafnya, misalnya, “Luruskan shaf kalian!”

Seorang imam tidak cukup hanya dengan mengucapkan “Luruskan shaf kalian!” lalu memulai shalat. Dia harus memastikan shaf makmumnya sudah lurus dan rapat, baru memulai shalat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang menyuruh seseorang untuk meluruskan shaf makmum. Umar tidak akan memulai shalat sampai orang yang diberi tugas meluruskan shaf memberitahukan bahwa shaf telah lurus. Begitu juga Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu dan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhu selalu menjaga sunnah ini.